Chapter 15 - Apa Kabar

3.5K 175 11
                                        

Hari ini adalah jadwal Sean mengunjungi makam Vier. Entah sudah berapa lama gadis itu tidak kesana, sibuk dengan dunianya sendiri. Sean duduk di salah satu sudut yang dekat dengan pusara sang mantan kekasih, ia masih melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu mengecup nisan Vier, seakan tengah mengecup lelaki itu.

"Hai, apa kabarnya kamu disana?". Ucap Sean, bermonolog sendiri.

Sean mencabuti satu-persatu rumput liar yang tumbuh disana, menjaga agar makam Vier tetap terjaga rapih. Jemarinya menyentuh tanah yang terkumpul disana, seakan tengah berupaya menyentuh Vier yang dulu selalu berada dibawah sentuhannya.

"Maaf ya, baru sempet kesini lagi. There are a lot of things that happened in my life akhir-akhir ini, Vier..". Ucap Sean, tersenyum lemah disebelah pusara Vier.

"Kamu tau gak? Akhirnya aku dapat kontrak baru lagi, Vier.. After these 5 months of being so jobless". Kekeh Sean, tertawa dengan perkataannya sendiri. "Tapi aku sebel, soalnya yang kontrak aku ngeselin, Vier. Panjang kalo aku ceritain, tapi intinya dia tuh kayaknya niat jelek deh sama aku".

Sean kembali tersenyum, kali ini lebih cerah. "Tapi kamu akan jagain aku kan? Kayak yang kamu bilang di mimpiku, kamu gak pergi. Kamu masih ada, disini". Ucap Sean menunjuk hatinya sendiri.

Ada jeda yang cukup lama setelah Sean menaburkan bunga diatas pusara itu. "Aku sekarang udah bahagia sama Ales, Vier.. Dia ajak aku menikah berulang kali, tapi belum aku jawab juga. Aku masih takut".

Gadis itu memeluk lututnya sendiri. "Kalo aku menikah sama Ales nanti, aku bakal nyusahin dia gak ya? Kemarin aku ke dokter, tapi katanya aku masih perlu sedikit terapi lagi. Aku takut Ales bakal capek ngurusin aku suatu hari nanti".

Sean menggelengkan kepalanya. "Tapi, bahagiaku sekarang ada di Ales, Vier. Dia yang nemenin aku sehari-hari, dia yang semangatin aku, urusin aku dengan segala macam ketakutanku..".

"Ales yang udah buka hati aku lagi". Ucap Sean lagi, begitu lirih.

Sean kembali tersenyum. "Tapi aku gak ingkarin janjiku kok, Vier. Kamu tetap punya satu tempat khusus. Aku akan tetap bawa cintamu kemana-mana, sampai kapanpun".

Suara alarm dari IPad gadis itu berbunyi, sudah jamnya Sean mengkonsumsi obatnya. "Aku pulang dulu ya, Vier. Gak kerasa ngobrol sama kamu disini sampai hampir sore. Sampai jamku minum obat".

Gadis itu akhirnya beranjak bangkit sebelum mengecup sekali lagi nisan Vier, melihatinya sekali lagi, dan berjalan menjauh dari pemakaman. Dihiasi langit yang sudah hampir berwarna keemasan, gadis itu pergi dari sana dengan perasaan lega karena sudah banyak berbicara dengan masa lalunya.

———

Ales menerima pesan itu dari sang Papa tepat sehari sebelum kepulangannya ke Indonesia. Isinya ialah permintaan untuk lelaki itu agar mengunjungi sang Papa untuk mengobrolkan lebih jauh mengenai bisnis yang memang sudah sempat disinggung sebelumnya. Ales masih belum bisa memutuskan sampai sekarang.

Disatu sisi, ia tidak ingin menerima sesuatu yang dari awal tidak di plot untuknya, sebab rencana itu sudah terbentuk untuk adiknya. Namun, mengingat Gio sudah tidak ada lagi di dunia, lelaki itu juga bimbang. Disisi lain, melihat sang Papa harus terbagi fokusnya menjalani dua bidang di usia yang mulai mendekati senja, membuat lelaki itu tak tega juga.

Mungkin sudah menjadi rahasia publik kalau Ales adalah anak kesayangan dari sang Papa, yang sejak kecil selalu dijadikan tumpuan dan contoh bagi Gio. Ales terlalu sering mengemban sesuatu yang diluar keinginan dan kemampuannya, hingga tanpa sadar membuat ekspektasi yang diberikan padanya jadi terlalu tinggi.

Contohnya sekarang, lelaki itu bingung ketika dihadapkan dengan keinginan sang Papa yang mendesaknya melanjutkan bisnis yang memang sudah dijalani bahkan sejak Ales masih di kandungan. Bisnis mendunia itu nampaknya menjadi satu hal baru yang memerlukan waktu untuk dipelajari.

Ales menenggak gelas kedua dari tequillanya. Lelaki itu tengah membutuhkan bantuan alkohol guna berfikir lebih jernih. Mengemban 2 pekerjaan berarti waktunya pun akan tersita jauh 2x lipat dari sekarang. Lalu, bagaimana dengan Sean? Ia tidak akan sempat lagi memperhatikan makan gadis itu, mengingatkannya minum obat, atau menemani dan memeluknya erat saat gadis itu mengalami mimpi buruk.

Ales menghela nafas panjang, ini benar-benar sebuah hal yang menyita otaknya sejak kemarin. Sebenarnya, tidak ada jalan lain selain menikahi Sean dan memintanya berhenti dari pekerjaannya yang sekarang. Dengan begitu, gadisnya itu bisa Ales ajak kemanapun lelaki itu pergi.

Ia tidak perlu lagi khawatir.

Ales meneguk segelas lagi, merasakan panas mulai membakar kerongkongannya. Permasalahan utamanya ialah; gadisnya itu masih belum merespon ajakan pernikahannya berapa kalipun ia meminta.

Ini seperti dejavu bagi Ales, ia pernah berada di posisi ini dulu, dulu sekali.

Jujur saja, lelaki itu juga punya ketakutan yang bersemayam di kalbunya, kalau suatu saat nanti kisahnya dan Sean akan berakhir sama dengan yang lalu.

———

Ales turun dari dalam mobil alphard milik keluarganya yang ditugaskan untuk menjemputnya dari bandara. "Koper saya nanti taro bawah aja ya, Pak. Gak usah dinaikin ke kamar, saya kayaknya langsung ke Bali malam ini".

Seusai berpesan, lelaki itu berjalan masuk kedalam rumah megah milik keluarganya, sesuai dengan permintaan Papanya yang memintanya makan siang bersama, lelaki itu masuk dan langsung berjalan ke ruang makan.

Namun, sesampainya disana, meja itu masih kosong, hanya berisikan makanan yang sudah disiapkan di masing-masing piring. Mata Ales mengedar ke sekitar, mencari-cari sosok orangtuanya, hingga netra itu terhenti ke salah satu sudut.

Salah satu sudut di halaman belakang rumah Ales, tempat dimana hamparan taman luas itu berada. Berdirilah figur itu, figur yang menatap kearah hamparan luas didepan, yang membuat Ales perlu melangkah mendekat untuk memastikan.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin ini hari sialnya, kan?

Figur itu membalikkan badan tepat sebelum Ales bisa bergerak. Mata itu masih sama, masih menatapnya dengan sorot yang sama menyedihkannya seperti terakhir mereka bertemu. Mereka berdua terpaku, tak ada satupun yang mampu bergerak.

"Ales". Panggil gadis itu, berupaya berjalan mendekat.

Ales melangkah mundur, menggelengkan kepalanya. "Stay where you are. Jangan berani-berani ngedeket ke saya".

"Les.. Please..". Pinta gadis itu memohon, airmatanya menggenang di masing-masing pelupuk mata.

Gadis itu berjalan terus mendekat, bahkan hampir menyentuh lengan Ales. Namun lelaki itu membentak dengan nada tinggi. Membuat sang gadis terhenti dengan wajah terkejut.

"Stop, Rea! Saya bilang berhenti!". Pekik Ales kencang, membuat Rea tercengang lantaran itu kali pertamanya mendengar Ales membentaknya sekencang itu.

Mama dan Papa Ales akhirnya keluar dan menghampiri saat mendengar suara dari putra mereka yang sampai ke ruang sebelah. Mereka memandangi keduanya.

"Ales". Panggil sang Mama.

Ales menoleh, kemudian menggeleng. "Kenapa gak bilang ada orang ini?".

Mama Ales berupaya menjelaskan, namun urung. Ales langsung berbalik dan berjalan cepat, dengan lebih dulu berpesan pada sang Papa.

"Ales pergi dulu, Pa. Kita gak bisa ngomong sekarang. Nanti kita atur lagi ngobrolnya".

Dan dengan itu, Ales memilih pergi, keluar dari sana. Pergi sejauh-jauhnya dari tempat yang mempertemukannya dengan seseorang yang paling tidak ingin ia temui.

Rea.

———

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang