Chapter 62 - Messed Feelings

2.1K 197 25
                                        

Kedua manusia itu terdiam. Tidak ada satupun yang berani bersuara setelah Sean mengutarakan seluruh isi kepalanya. Kegelisahannya, kemarahannya akan segala hal yang berdasar pada rasa ketakutan akan kehilangan seseorang yang dicinta, serta perasaan asing pada kedua buah hati yang sebenarnya begitu Sean cintai.

El menundukkan kepalanya, menelan segala celotehan Sean yang entah mengapa justru menurutnya mengkhawatirkan. Yang pasti, El tahu kini Sean tengah mengalami baby blues, tapi selain itu, gadis itu juga jelas sekali tengah mengalami depresi. Dan mungkin, penyebabnya beragam dan sudah tertumpuk sejak lama.

Mereka bercengkrama di bawah langit sore halaman rumah megah milik Ales dan Sean, mendengarkan cuitan burung yang menemani seakan mengiringi obrolan keduanya. Sean turut menunduk, memandangi buku-buku jarinya. Airmatanya sudah berjatuhan sejak tadi. Benar kata El, bercerita dengan El memang jauh lebih melegakan dibanding dengan Ales. Sebab, gadis itu tidak perlu memikirkan perkara perasaan siapa pun dan bebas menumpahkan kegelisahannya.

"Gue gak tahu kenapa ini terjadi sama gue, El.. Gue bener-bener bingung. Gue gak tahu gimana cara menyudahinya". Tutur Sean sendu.

El memijat pelipisnya, seakan bingung dan takut salah bicara. Lelaki itu kemudian menghela nafas, berupaya memecahkan cara untuk mengatasi kegelisahan sang gadis. Pada akhirnya, El menatap Sean serius. "Sean, lo mau coba ke dokter lagi?".

Sean menggeleng cepat. "Gue gak mau ketemu obat-obatan lagi, El. Cukup".

El mengerti, ia juga tak mau memaksa sang gadis menghadapi hal yang tak menyenangkan itu. El sendiri merinding jika mengingat masa-masa kelam Sean saat itu.

"Sean". Panggil El, membuat Sean menatapnya. "Tapi lo sayang anak-anak lo, kan? Lo sayang Gili sama Alesea kan?".

Sebulir airmata jatuh di pipi Sean. "Sayang.. Sayang banget, El".

"Lo sayang Ales, kan?". Tanya El lagi, dengan nada yang masih dijaga tetap tenang.

Airmata itu makin berjatuhan, El seakan tengah menghujam perasaan Sean yang paling dalam dengan pertanyaan-pertanyaan mudahnya. "Iya.. Gue sayang Ales banget".

Kali ini, El berupaya menatap Sean lebih baik lagi. Lelaki itu berupaya meraih fokus Sean agar kata-katanya didengarkan. "Sekarang gue tanya sebaliknya, menurut lo mereka sayang gak sama lo?".

Bola mata Sean membesar, menatap kearah lawan bicaranya. "Kenapa nanya gitu?".

"Ini kan yang bikin lo gelisah? Lo merasa diri lo belum cukup baik untuk mereka? Lo ngerasa belum cukup jadi perempuan yang sempurna untuk Ales. Lo
juga ngerasa belum bisa jadi Ibu yang baik untuk anak-anak kalian?". Tanya El lagi.

Sean menangis terseguk, semua tebakan El benar. Semua itu adalah penyebab dari perubahan Sean selama ini. Ia benar-benar merasa tidak cukup baik untuk siapa pun, terlebih untuk orang-orang yang ia cintai. Sean menunduk, mengangguk berulang kali untuk mengiyakan.

"Right. Gue ngerti sekarang". Balas El. Lelaki itu kemudian menepuk-nepuk pundak Sean. "Kapan Ales pulang?". Tanya El lagi.

Sean menggeleng, ia bahkan sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Ales seperti biasanya. "Gue gak tau, El. Gue sama Ales udah beberapa lama ini gak komunikasi".

"Dia gak pamit sama lo sebelum terbang?". Ujar El.

Sean menghapus airmatanya. "He did. Gue yang gak mau denger. Gue tutup telinga waktu dia pamitan sama gue. Gue juga block nomornya, jadi gue gak tau gimana kabarnya sekarang".

El kembali menghela nafas, tahu betul ia perlu menekan emosi agar tidak menyudutkan Sean. Hebat, ia rasanya cocok menjadi seorang psikolog sekarang. "Oke. Nanti biar gue yang tanya. Sekarang gue tanya lagi, lo masih mau mempertahankan hubungan kalian kan?".

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang