"El, boleh gue minta obat gue lagi?". Ucap Sean ditengah-tengah sesi break pemotretannya.
Lelaki disebelahnya mendelik kearah Sean dan berakhir menghampiri. "Kenapa? Apa yang lo rasain?".
"This depression starts to consume me. Dari tadi gue kayak denger suara Ales manggil di kepala gue. I think I start to hallucinate things again". Balas Sean lemah.
El menautkan alisnya. "Gak bisa, Sean. Lo udah minum tadi pagi. Dosis lo terbatas sekarang, boleh minum lagi nanti malem". Lelaki itu kemudian duduk disebelah sang gadis. "Isn't it because you miss him?". El kemudian mendekatkan dirinya untuk berbisik dan menunjuk kearah perut Sean. "Or this little friend over here is probably missing him?".
Sean menggeleng pelan. "Gak tau, but this is getting me frustrated. Now I now why my psychiatrist still prescribe me my medication. Gue emang belum sembuh".
El menepuk-nepuk ujung lutut Sean guna menenangkannya. "Jangan lo pikirin, orang yang sehat aja kalo banyak pikiran ya jadi halu. Apalagi lo". El kemudian kembali berbisik. "Lagian, kenapa sampai semarah itu sih? At least, kasih Ales kesempatan jelasin gak sih? Jangan main kabur dan mutus komunikasi gitu".
"Kok lo jadi belain dia? Udah jelas-jelas gue pergokin dia turun dari mobil sama itu cewek sialan". Omel Sean, mematahkan perkataan El.
"Bisa aja Ales justru selesain masalah mereka, supaya gak berkelanjutan lagi. Lo kan belom denger dari sisi dia". Balas El lagi.
Sean memelototkan matanya. "Ya, kalau pun case nya gitu, he should have told me! Gak main pergi gitu aja. Gue ada disana loh, El. Gak kebayang kalo gue lagi jauh, udah check in hotel kali mereka berdua".
El menggelengkan kepalanya. "God, you really think too far. Mikir lo kejauhan banget. Dia aja bucin mampus sama lo, masa iya kepikiran gitu".
"Dia juga bucin mampus sama mantannya, lo gak tau aja". Semprot Sean singkat, menutup pembicaraan keduanya yang mulai memanas.
Setelah itu, El menyaksikan bagaimana Sean memainkan tangannya sendiri, salah satu tanda saat gadis itu dilanda perasaan yang kurang menyenangkan. Dari situ El tahu, kalau artisnya masih membutuhkan medikasi dan juga dukungan dari orang terdekatnya.
Seperti Ales.
———
"Capt, bisa kita mulai briefing safety procedure?".
Ales nampaknya tidak menyadari saat copilot mengajaknya berbicara, lelaki itu masih dalam keadaan statis, menatap lurus kearah lantai.
"Capt? Capt Ales?". Panggil salah satu crew, yang pada akhirnya mengagetkan sang pilot.
"Eh, sori, sori. Gimana?". Balas Ales bingung.
Beberapa pasang mata menatapnya heran. "Safety procedure, Capt. Sudah bisa dimulai".
Ales menggelengkan kepalanya. "Ah, iya. Oke kita mulai ya".
Briefing procedure hari ini berjalan cukup lancar, walaupun sempat tersendat di awal karena Ales beberapa kali lupa akan kalimat selanjutnya yang harus ia ucapkan.
Aneh, padahal ia sudah melakukan hal ini selama bertahun-tahun.
Pikirannya memang sedang kalut dan tak bertuan.
Ditengah kekalutannya itu, sang pilot masih harus melakukan penerbangan ke Tokyo dan dilanjut dengan perjalanan ke Berlin. Akan menjadi perjalanan yang panjang dan juga penuh kerinduan, pasalnya ia kembali harus meninggalkan Sean sendiri dalam keadaan keduanya yang masih belum berkomunikasi.
Ia benar-benar khawatir, khawatir jika gadisnya tidak minum obatnya tepat waktu, atau makan tepat waktu seperti seharusnya.
Tak terasa, turbulence di perjalanan kali ini cukup membuat sang pilot kewalahan. Namun, untunglah tidak terjadi satu apapun yang mengkhawatirkan, hanya sempat mengguncang beberapa awak cabin yang bertugas.
Di penginapan, Ales hanya sibuk dengan laptopnya, mencari info mengenai keberadaan Sean dari beberapa situs portal berita. Matanya membelalak saat melihat satu judul berita yang sontak membuat hatinya temaram juga.
'Oceana Natalia & Revano Louise are in a relationship? Went to Singapore together and spend a night at the same hotel in Orchard Road'
Sial.
Sekujur tubuh Ales tiba-tiba saja panas bukan main, lelaki itu tiba-tiba saja punya keinginan untuk meninju meja sekencang-kencangnya guna melampiaskan amarahnya, membuat buku jarinya memerah seketika.
Rasa cemburu itu langsung menguar dan mengakar di relung hati Ales, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Lelaki itu memaki dirinya sendiri, menyesali hatinya yang terhujam ramai dengan perasaan posesif.
Lelaki itu mengambil ponselnya dan langsung menelepon seseorang. "Bro? Sori, lagi kerja ya lo?".
Ales bangkit dari duduknya dan berjalan mengitar keseluruh penjuru ruangan. "Bro, Aca masih punya link ke orang-orang agency gak ya? Gue butuh".
Seseorang diujung sana sepertinya menjawab hal yang membuat kening Ales berkerut. "Iya soal Oceana. Urgent banget ini, gue butuh bantuan Aca".
———
El dengan terburu-buru naik menuju ruang kamar hotel Sean dengan ditemani tim dari petugas hotel, gadis itu tiba-tiba saja tidak bisa dihubungi sejak masuk kedalam kamarnya tadi sore, membuat El gusar bukan main mengkhawatirkan sang artis.
Pintu kamar Sean terkunci dari dalam dan tidak ada tanda sekalipun kehadirannya disana, sementara tim dari petugas hotel berupaya membuka pintu, El berupaya menelepon dan menggedor pintu, memanggil Sean agar segera keluar. Kepanikan makin terasa saat terdengar suara isakan dari dalam yang makin menguar.
Segera setelah pintu berhasil dibuka, El dan tim berhamburan masuk kedalam, dengan rasa takut yang merayap tak terhenti.
Ia takut sekali kalau hal yang serupa dengan Vier dulu, terjadi pula pada Sean sekarang.
Namun, El bernafas lega saat menemukan gadis itu dibawah selimut, menutupi telinganya sendiri sembari menangis dan mengkerut diatas kasur, seperti sedang menghalau telinganya dari mendengar sesuatu.
El berupaya mendekat. "Sean? Kenapa?".
Gadis itu menggeleng kuat. "Gak, gak mau. Suaranya gak mau ilang".
Sedang bermimpi kah gadis itu? Kening El sampai berkerut menebaknya.
Ia mengguncang tubuh Sean hingga gadis itu membuka matanya yang berair karena airmata. Matanya mengerjap beberapa kali saat melihat wajah El.
"Lo kenapa?". Tanya El lagi, masih dikelilingi dengan tim staff Sean dan juga petugas hotel yang menatap aneh.
Sebagian dari mereka yang tidak mengerti masalah dan penyakit yang diderita Sean mungkin menganggap gadis itu tengah kesurupan.
"Suaranya gak mau ilang, El. Suaranya muncul terus". Ucap Sean putus asa.
El mengerti maksud sang gadis, lelaki itu langsung mengambil sesuatu dari dalam tas jinjingnya dan memerintahkan semua untuk pergi dari kamar Sean.
"Kali ini gue izinin minum obat lebih awal. You should get rid of this, Sean. Lo bakal kesiksa terus kalo kayak gini". Ucap El sembari memberikan dua butir pil kepada sang gadis.
Sean mengambil butiran tersebut dan menelannya langsung tanpa minum, gadis itu kembali bergelung sembari terus menutupi kedua telinganya, membuat El mengacak rambut lelaki itu sendiri karena perasaan khawatir yang berkecamuk
———
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomansaSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
