"APB-Nya sesuai ya? 387 penumpang?". Tanya Ales pada Gary, First Officer yang menemani perjalanannya hari ini untuk penerbangan domestik ke Palembang.
Gary mengangguk sebelum memastikan Ales menandatangani berkas APB (Actual Passanger Boarding) itu. "Sudah, Capt. Sudah di lakukan triple checking sama crew member, aman".
"Good. Lumayan packed kita hari ini ya". Ucap Ales sembari menandatangani berkas tersebut.
"Flight GF5632 Boeing 737 Max 8, A.T.D from Ngurah Rai at 18.30 WITA, 2 minutes from now, E.T.A 20.45 WIB destination to Sultan Mahmud Badarrudin II. All cabin crew, clear and ready to go?". Ucap Ales, berdialog dengan sang FO, bersiap untuk perjalanan udaranya yang sebentar lagi dimulai.
"Clear, Capt". Balas Gary.
"ATC, this is Captain Galessano Pradikta and Gary Dimas Prakasa speaking from flight GF5632 Boeing 737 Max 8 destination to Sultan Mahmud Badarrudin II, asking permission to depart from Ngurah Rai at lane number 8. Are we clear to take off?". Gantian, kali ini Ales berbicara dengan ATC sebagai menara penanggung jawab traffic penerbangan mereka.
Terdengar respon dari ujung sana. "Good afternoon, Capt Ales. This is Valerie from ATC, and we're happy to announce that your aircraft is clear to take off. Please stay in contact and have a safe flight".
"Copy. Flight GF5632 Boeing 737 Max 8 destination to Sultan Mahmud Badarrudin II done reporting. Gary, prepare for take off". Ucap Ales, memimpin keberangkatan mereka hari ini.
Jujur saja, Ales rasanya masih berat sekali meninggalkan Bali dengan Sean yang sampai ia berangkat tadi tidak berhenti menangisinya. Gadis itu terus saja memeluk tubuh Ales seakan tak mengizinkan sang lelaki pergi. Semenjak hamil, Sean memang jadi 100 kali lebih lengket dengan Ales dibanding sebelumnya, gadis yang biasanya independen itu jadi lebih manja dan selalu ingin didekat sang suami, membuat Ales sedih tiap kali harus menjalankan kewajibannya kembali.
"Udah lumayan lama kita gak flight bareng, Capt. Saya sampai lupa kalau Capt Ales selalu organized dan detail di setiap flight". Ucap Gary begitu saja saat pesawat yang mereka kendarai sudah mulai mengudara.
Ales terkekeh mendengarnya, lelaki itu menekan tombol autopilot saat proses take off sudah selesai. "Semua Captain juga begitu, Gar, kan sudah prosedur dasarnya".
"Tetap rasanya beda loh, Capt". Balas Gary lagi. "Captain yang paling detail-oriented sampai sekarang ini menurut saya Capt Ales, bahkan sampai ke briefing safety procedure bareng cabin's crew sekalipun".
Ales tersenyum. "Kebiasaan kali ya, saya dari masih sekolah memang detail begitu". Sang pilot mengambil check-list dari Gary. "Kamu habis ini dapat flight kemana, Gar?". Tanya Ales sembari mengecek check-list penerbangan mereka
"Saya besok pagi kebetulan dapat ke Jakarta, Capt. Nonstop banget tumben dari kantor". Balas Gary.
Ales mengangguk. "Bagus, dong".
Gary berdeham sebelum mengucapkan kata-katanya. "Lama gak terbang bareng, Capt Ales kayaknya agak berubah ya? Jadi lebih.. Apa ya? Ceria gitu?".
Kali ini, Ales menggeleng. "Mana bisa saya berubah, masih begini aja kok, Gar".
"Beneran, Capt. Bukan saya doang yang ngomong loh, crew member lain juga bilang yang sama. Kayak.. Lebih welcome gitu, Capt". Ujar Gary disertai kekehan.
Ales tersenyum mendengarnya, menyadari maksud Gary yang mungkin memang menilai perilakunya jadi berbeda sekarang. Bila boleh mengakui, Ales sebenarnya merasakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Sepertinya, lama bersama dengan Sean, membuat sedikit dari pribadi gadis yang ceria dan ekspresif itu menular padanya. Ales jadi lebih senang berbicara, bahkan memulai percakapan lebih dulu dengan seseorang. Lelaki itu sudah tidak lagi sependiam dulu, yang saking pendiamnya sampai dijuluki gunung es.
"Bawaan istri saya kali ya, Gar". Balas Ales lagi.
Gary mengaduh. "Waduh, iya. Saya baru inget Capt Ales udah nikah, sama Oceana lagi. Beruntung banget. Gimana tuh rasanya Capt, nikahin wanita paling diincer satu dunia?".
Ales sampai terbahak mendengarnya. "Yah, begitu aja, Gar. Saya nikahin Oceana itu karena memang pribadinya yang bikin saya kagum. Saya juga ngerasa beruntung, dari sekian banyaknya laki-laki di dunia, dia akhinya mau milih saya. Jujur, kadang masih kayak mimpi, bisa manggil dia istri saya".
"Saya sebenernya ngefans sama Oceana loh, Capt. Hebat memang Capt Ales, bertahun-tahun gak kedengeran dekat sama siapapun, ternyata langsung tepat sasaran dapat berlian". Balas Gary lagi, membuat keduanya tertawa.
"Susah itu juga dapetinnya, Gar" .
———
"Kamu kok ngambek terus sih sama saya? Saya sedih loh ini, lagi jauhan gini, kamunya ngambek gara-gara saya tinggal kerja". Ucap Ales di telepon, lelaki itu mengusak rambutnya yang masih basah bekas mandi tadi.
Setelah tiba di Palembang, ia tak langsung bisa pergi ke penginapan, lantaran crew member penerbangannya itu mengajaknya mengisi perut di sekitaran airport, dan membuat ponselnya kehabisan daya sebelum sempat mengabari Sean di rumah.
Suara Sean terdengar sebal. "Ya kamu nyebelin, Ales, udah tau kamu sekarang punya istri yang nungguin kabar kamu dirumah, emang susah ya kasih tau aku pas udah landing? Malah pergi sama temen-temen dulu".
Ales menarik nafasnya. "Iya, saya minta maaf, ya. Saya gak sadar kalo hp mati, dan gak enak mau buru-buru, karena sebagian crew kan besok kepisah penerbangan, gak tau kapan ketemu lagi".
"Lain kali aku ikut aja, gak mau ditinggal gini". Balas Sean ketus.
Ales tanpa sadar tersenyum membayangkan sang istri yang ikut perjalanan dengannya. "Saya mau banget kamu temenin, tapi kan agency-Mu belum izinin kamu muncul dimanapun, sayang. Memang gak apa?".
"Biarin aja, mereka gak tau aja rasanya punya suami Captain penerbangan bar 4 kayak kamu. Mana ganteng. Bikin aku khawatir aja". Sungut Sean lagi.
Ales terkekeh mendengarnya. "Istri saya sejak kapan jadi gemas begini ya. Bikin kangen saya aja kamu, Oceana".
"Akunya nggak". Balas Sean, makin ketus.
Ales menggoda. "Yakin, gak kangen?".
"Nggak".
"Sedikit aja, masa gak kangen?".
Sean bersikeras. "Gak sedikitpun".
"Sedih, padahal saya kangen beneran". Ucap Ales. "Saya kangenin yang lain aja kali ya?".
Sepertinya, sang pilot telah menekan tombol perang untuk kesekian kali. "Maksudnya apa ngomong gitu? Emang mau kangen siapa? Kamu nih, baru juga aku ngomong nggak langsung kepikiran kangen orang lain, cowok apaan sih kamu, Ales?".
Ales sontak menutup wajahnya sendiri. "Astaga. Saya tuh ngapain ya pakai bercandain kamu? Sumpah, saya bercanda, sayang".
"Gak tau, ah. Nyebelin kamu, Ales". Ucap Sean sebelum mematikan panggilan mereka.
"Oceana? Waduh".
———
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomansaSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
