Masih ⚠️⚠️⚠️
———
Ales memantapkan hatinya. Lelaki itu sudah berdiri disana sejak pagi, didepan teras rumahnya. Keyakinannya sudah bulat, tidak ada lagi kata mundur maupun menghindar dari permainan konyol yang sudah terjadi beberapa minggu belakangan ini.
Sean saat ini masih tertidur di kamar, sepertinya kelelahan karena semalaman suntuk tidurnya tidak tenang, beberapa kali terbangun dan mengigau, seakan sesuatu tengah mengganggu pikirannya, membuat Ales harus memeluknya dan tetap terjaga untuk menenangkannya sampai pagi menjelang.
Ales sudah siap menghadapi apapun nanti yang menantinya.
Cukup lama lelaki itu menunggu, hingga sebuah mobil berwarna putih berjalan mendekat kearah bagian depan rumahnya, dan berhenti disana. Mata Ales menatap nyalang pada sosok yang turun dari sana, dan mendapati paras itu.
Ales bersumpah, tadinya ia sudah siap menghadapi gadis itu, Rea, dan menyelesaikan apapun urusan mereka yang tertinggal. Namun, setelah melihat Rea saat ini, keteguhan Ales rasanya luntur. Pasalnya, Rea memangkas rambutnya menjadi pendek.
Persis seperti saat mereka masih bersama dulu.
Saat Rea masih menjadi flight attendant di maskapai yang sama dengan Ales.
Pandangan mereka bertemu, untuk kedua kalinya setelah bertahun-tahun. Saling mengunci bagai tak percaya. Mereka lama berdiri di tempat masing-masing, sebelum Rea memberanikan diri mendekat kearah Ales yang masih menatapnya tak percaya.
Mata Rea berkilaukan airmata, seakan menemukan hal yang sudah ia cari untuk waktu yang lama. Ales menghentikan langkah Rea sebelum berhasil mendekat dan melangkah melewati gadis itu sembari membawa sebuah benda kecil di tangannya.
"Stop disitu, kamu mau ngomong sama saya kan? Ikut saya ke mobil". Ucap Ales tegas, melangkah pasti menuju ke mobil sedan hitam miliknya tanpa menanti jawaban Rea.
Rea berbalik dan menatap bagaimana Ales masuk kedalam mobil dan menstarternya. Gadis itu melangkah kikuk dan pada akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri masuk kedalam mobil.
Ales memasang wajah datar, menyetir mobilnya keluar dari daerah perumahan itu tanpa sekalipun melirik kearah orang disampingnya. Atmosfer di mobil begitu mencekik, sunyi menenggelamkan keduanya dalam belenggu masing-masing.
Pada akhirnya, sang lelaki membuka pembicaraan lebih dulu. "Saya kasih kamu waktu bicara 15 menit. Selebih dari itu silahkan turun dari mobil saya".
Rea nampak terkejut akan betapa dinginnya perlakuan Ales padanya. Gadis itu menatap ke wajah lelaki disampingnya, rahang Ales mengeras, ia tahu betul, Ales pun tengah sama bingungnya dengannya sekarang.
"Kamu.. Apa kabarnya, Les?". Ucap Rea takut-takut.
Ales memilih berbelok kearah jalan raya. "Gak perlu banyak basa-basi, langsung ke intinya aja. Waktu saya gak banyak, saya harus balik ke rumah sebelum Oceana bangun".
Rea menelan salivanya. Ales secara tidak langsung tengah menegaskan tembok diantara mereka berdua yang sudah menjulang tinggi. "Dia pacarmu, Les?".
Pada akhirnya, sang pilot merasa geram dan memutuskan untuk menghentikan mobil secara tiba-tiba di pinggir jalan. "Sebenarnya maumu apa sih, Rea? Kamu cuma mau bicara kan? Kalo memang mau bicara, gak perlu tanya-tanya soal saya lagi".
Nada bicara Ales begitu tinggi, cenderung membentak. Rea tidak pernah mengalami ini sebelumnya, bahkan jika mereka sedang bertengkar dulu. Tubuhnya sampai tersentak karena terkejut, airmata langsung jatuh di pipinya tanpa disadari.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomansaSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
