Chapter 32 - Obedient

4.1K 178 4
                                        

Masih slight 🔞 yes ada percakapan joyok dikit wkwwkkw😅

———

Sean kembali ke ballroom tepat sebelum acara selesai, gadis itu terengah, wajahnya pun memerah. Beruntunglah pencahayaan malam itu cukup temaram, membuat rona kemerahan itu tak terlalu terlihat.

Revano memperhatikan Sean yang bergerak gelisah di tempat duduknya, meremas ujung gaunnya berulang kali seperti sedang gelisah. Mata gadis itu tak lepas melihat kearah lift tempatnya tadi berasal.

"Kamu gak apa-apa, Sean?". Tanya Revano, membuat Sean tersentak dan menoleh kearahnya.

Gadis itu menggeleng. "Enggak, gak apa-apa".

Riuh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan guna menghantar berakhirnya acara gala dinner malam ini. Jujur saja, Sean bahkan sudah tidak memikirkan perihal itu lagi. Seluruh tubuhnya masih panas dan tak mampu bekerjasama, memikirkan sang kekasih yang tak lama kemudian muncul dan kembali duduk tenang di bangkunya seperti sediakala.

Berbeda dengannya, Ales terlihat tak terpengaruh. Lelaki itu kembali menyesap wine-nya dengan tenang dan menatap kearah Sean yang memberinya tatapan memohon secara diam-diam.

Ales malah menampilkan senyumnya dan memainkan lidahnya di bagian dalam pipinya. Tampak menikmati fase 'tersiksa'-Nya Sean karena perbuatannya tadi, menyentuh gadis itu dan membiarkannya tetap merasakan panas tanpa dituntaskan.

Lampu-lampu di ruangan mulai menyala, membuat kemerahan di pipi Sean terlihat jelas. Rambutnya yang sekarang dibiarkan tergerai untuk menutupi bekas sesapan Ales tadi terlihat sedikit berantakan, membuatnya terlihat semakin menggairahkan di mata Ales.

Sean merasakan tepukan di ujung dengkulnya, yang ternyata dari Revano. "Kamu mau keluar ruangan duluan, atau kita bareng aja?". Jarak mereka begitu dekat, membuat Ales memicingkan mata guna memperhatikan gerak-gerik yang membuatnya panas.

Sean meloloskan satu kata dengan volume seperti cicitan. "Duluan aja, gue masih mau disini".

"Kalo gitu saya tungguin disini juga". Balas Revano, tidak kunjung bergegas pergi dari sana.

Sean berdecak dan menyemburkan desisan. "Lo cabut sekarang, atau besok gue mogok pemotretan? Choose".

Sean heran, manusia disampingnya ini kok hobi sekali bermain-main dengan emosinya? Dikiranya keren?

Pada akhirnya, Revano mengalah dan memilih bangkit sembari terkekeh. "Kamu ini banyak anceman ya ke saya, baru kali ini saya ketemu artis yang ngancem clientnya"

"Take it or leave it. Kalo mau artis yang nurut-nurut aja, udah pasti bukan gue orangnya". Jawab Sean ketus.

Dari tempatnya, kejadian obrolan dua manusia itu membuat seluruh badan Ales makin terbakar, ingin rasanya ia menghampiri Sean disana sekarang juga dan menciumnya lagi didepan bajingan tengik yang tengah mengganggu kekasihnya itu. Tapi untunglah otaknya masih berfungsi dengan baik.

Jadi, yang Ales lakukan ialah menunggu hingga akhirnya Sean sendiri dan kembali menatapnya. Lelaki itu memainkan bibirnya di mulut gelas, membuat Sean tak henti menggigit bibirnya sendiri, menatap lapar kearah Ales yang dengan sengaja menguji kesabarannya.

Tak lama kemudian, Ales merasakan ponselnya bergetar. Oceana mengiriminya chat, lega rasanya melihat akhirnya gadis itu membuka blokir ponselnya terhadap Ales.

 Oceana mengiriminya chat, lega rasanya melihat akhirnya gadis itu membuka blokir ponselnya terhadap Ales

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang