Ini pokoknya 1 chap isinya argumen lucu gemes Ales Sean doang ya wkwkwkwk
———
Ales menatap heran kearah kanvas besar yang baru digotong kedalam rumahnya, lukisan gadis cantik dengan kemeja terbuka itu terlihat jelas seperti Sean. Namun, hati Ales panas bukan main saat menemukan gadis di lukisan itu tubuhnya bahkan tidak tertutup dengan baik dengan kemeja longgar putih yang dilukis terlalu besar di tubuh mungilnya.
Sean yang baru selesai mandi itu turun saat mendengar suara gemeletuk dari beberapa barang yang ditaruh asal di ruang tamu rumah kediaman mereka di Bali. Beberapa dari barang itu adalah barang pindahan dari apartment sang gadis yang diterbangkan khusus ke Bali demi mengisi rumah megah yang mereka tinggali sekarang.
"Ngapain liatin lukisanku sampai begitu?". Tanya Sean saat melihat sang suami sampai berjongkok saat memperhatikan lukisannya.
Ales menoleh pada figur Sean yang masih mengeringkan rambutnya sendiri dibelakangnya. "Ini beneran kamu?".
"Ya, beneran. Emang gak mirip aku?". Tanya Sean balik.
Kening Ales makin berkerut. "Ini kenapa kamu kayak telanjang gini sih? Bajunya kesingkap gini. Aslinya bajumu begini juga waktu dilukis?".
Sean ikut mengerutkan keningnya. "Ya, iya lah, Les. Itu kan lukisan realistis. Ya beneran begitu aslinya aku waktu dilukis".
"Posenya juga? Tiduran begini di kasur?". Tanya Ales lagi.
Sean sampai memutar bola matanya mendengar pertanyaan bertubi dari sang suami. "Ya menurut kamu?".
Ales berdecak mendengarnya, tubuhnya entah sejak kapan terasa panas. "Lukisan apaan sih ini? Kenapa saya baru pernah liat? Siapa yang berani lukis kamu dalam keadaan begini?".
Gadis itu memijat pelipisnya, pusing menghadapi keanehan sang pilot yang tak kunjung reda. "Lukisan itu udah lama dipajang di apartment ku loh padahal. Cuma kamu gak pernah liat aja. Ada di kamar sebelah kamar yang biasa kita tidurin".
"Mana ada". Balas Ales singkat.
"Ada, Ales". Sahut Sean lagi.
Ales kini berdiri, dan melipat tangannya didada. "Jadi, siapa pelukisnya? Kok gak dijawab pertanyaan saya?".
"Vier". Balas Sean santai. "Dia yang lukis, waktu masih pacaran dulu. Gak aneh kan? Waktu itu kan dia pacarku".
Raut wajah Ales berubah muram. Memikirkan Sean dilukis dengan pose seksi seperti itu, dengan balutan minim, otaknya mau tak mau berpikir kearah yang tak diinginkan. Meskipun di masa lalu, rasa cemburu Ales tetap saja terbakar tak tertahan."Saya gak suka".
Sean menatap heran kearah sang suami. "Gak suka apa?".
Ales menunjuk kearah kanvas luas itu. "Itu, saya gak suka". Ales masih memepertahankan raut wajah muramnya. "Buang aja, gak baik nyimpen barang dari mantan terus-terusan".
"Mantanku udah di langit, Ales. Masa masih mau dicemburuin?". Balas Sean tidak terima, gadis itu menggeleng yakin. "Gak akan aku buang. Ini hasil tangan dia yang pertama, aku juga udah janji gak akan buang".
Wajah itu makin muram. "Terus, karena dia udah gak ada, berarti saya gak boleh cemburu dan gak suka kalo kamu nyimpen barang dari mantanmu di rumah kita, Oceana?".
Sean hendak kembali beradu argumen, namun ia tahu, emosinya sedang naik turun. Jadi, yang gadis itu lakukan hanyalah menarik nafas panjang dan menjawab dengan pasti. "Lukisan ini akan tetap ada disini. Dengan atau tanpa persetujuanmu".
Gadis itu baru saja hendak pergi, sebelum tangan Ales menahannya dan menjaganya tetap berdiri di tempat. Lelaki itu menunjukkan ekspresi galaknya. "Mau kemana kamu? Kita belom selesai ngomong".
"Apa lagi sih?". Eyel Sean sebal.
Ales mengatur emosinya, menekannya lebih dalam. Terserah jika setelah ini Sean menganggapnya kenanak-kanakan, Ales tak peduli. "Sekarang saya tanya. What happened to you and him after this painting is done? Coba ceritain ke saya yang jelas".
"Maksudnya?". Tanya Sean heran.
Ales menunjuk lukisan itu lagi, tersangka utama perdebatan kecil mereka pagi ini. "Itu. Setelah lukisannya selesai. Setelah dia selesai lukis kamu. Apa yang terjadi?".
Sean berupaya mencoba mengingat-ingat hari itu, beberapa tahun yang lalu, saat Vier masih berada di dunia. Netranya seketika membulat. "Oh, I get it".
Ales menaikkan alisnya. "Apa? Cepet jawab".
Sean menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Nanti kamu marah".
"Terlanjur. Sekarang juga udah marah. Cepet jawab, ngapain?". Balas Ales lagi.
Sean menggigit bibirnya takut. "We.. Made love?".
Ales membuang nafasnya kasar, jujur ia sebenarnya sudah bisa menebak jawaban sang istri. "I knew it, there's no way he didn't fuck you after with this sexy look". Lelaki itu masih membiarkan nada bicaranya ketus, satu pertanda saat Ales tengah cemburu berat. "Terus kamu mau simpen lukisan yang kenangannya begitu? Padahal sekarang ada saya, suami kamu. Apa pantas?".
"Vier udah gak ada di dunia, Ales.. Aku bahkan gak inget kejadian itu kalo gak kamu ingetin. Lukisannya juga gambar aku sendiri, gak ada gambar Viernya". Ucap Sean mulai frustasi.
"Tetap aja kalian bikinnya berdua". Balas Ales lagi tak mau kalah.
Sean benar-benar sudah frustasi. "Terserah kamu deh, Ales. Mau diapain juga lukisannya terserah. Sesuka hatimu aja".
Ales baru saja hendak menginjak lukisan itu, sampai satu kalimat lagi terdengar dari arah sang gadis. "Tapi jauh-jauh dari aku habis itu, aku gak suka deketan sama orang posesif yang bahkan cemburu sama yang gak nyata".
———
Ales menyaksikan tubuh mungil itu meringkuk di kasur mereka, membelakanginya yang baru saja masuk kedalam kamar menyusuli Sean yang sejak tadi memilih diam dan tak keluar dari sana. Setelah duduk merenung selama beberapa menit di bawah, merefleksikan obrolan terakhir mereka, Ales seperti baru melumer.
Lelaki itu bahkan bergerak perlahan, takut mengejutkan Sean yang masih belum bergerak sedikitpun. Sesampainya diatas kasur, Ales memanggil nama Sean lembut. "Oceana".
Nada bicara Ales sekarang berbeda 180 derajat dari tadi. Ia sekarang lebih terdengar seperti.. Anak kecil. "Maafin saya dong, sayang. Saya ngaku salah".
Lelaki itu memberanikan diri untuk mendekat dan menyentuh lengan Sean yang masih membelakanginya. "Iya, saya salah cemburunya. Saya gak maksud gitu.. Tadi, kepala saya panas waktu liat pertama kali, soalnya kamu seksi banget disitu. Jadi kemana-mana mikirnya. Padahal itu kan cuma sekedar lukisan". Ales memelankan lagi volume bicaranya. "Maafin saya dong, masa saya dimusuhin lagi, baru juga baikan".
Sean menghela nafas sebelum berbalik, memandangi wajah tampan yang terlihat memelas dihadapannya. "Udah gak cemburu lagi?".
"Masih, dikit. Tapi, saya udah gak marah lagi. Lukisanmu jadinya boleh tetap di pajang". Balas Ales melas.
Sean tersenyum gemas. "Kamu tuh ya, Ales, kalo udah cemburu, sampai kayak ngajak perang".
"Maaf, sayang. Suka gak ketahan". Ucap sang lelaki lagi, masih memasang raut bersalahnya. Pada akhirnya lelaki itu merasakan sapuan jemari Sean di pipinya, membuatnya memberanikan diri untuk bertanya. "Saya udah dimaafin kan? Boleh cium?".
Sean terkekeh mendengarnya. "Boleh. Asal janji gak asal emosi lagi, gak marah-marahin aku lagi kayak tadi".
"Iya, saya janji, sayang. Gak marah lagi". Balas Ales dengan nada lembut.
Sean lebih dulu meraih belakang leher sang suami. "Yaudah, sini, Ales. Cium aku, biar baikannya sah".
🤍🤍🤍
———
Yang udah baca special chap Vier - Sean waktu itu pasti taw lukisan yang diributin pasangan baru ini 😂😂😂 (Wajar sih yha Ales cemburu, apalagi kalo tau sesi peper-peperan catnya WKWKWKWK)
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomanceSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
