Slight 🔞!
———
Sean seakan belum mempercayai kedua matanya sendiri, memandangi sosok Ales yang berjarak tidak jauh darinya. Lelaki itu duduk dan balik menatap kearahnya, menyesap sedikit demi sedikit gelas wine-Nya dengan tenang. Matanya nyalang menatapi kearah Sean dan Revano yang duduk bersebelahan. Sebelah alisnya naik saat Revano membantu Sean mengisi gelas airnya.
Fucking moron. Dipikirnya bisa mendapatkan hati Sean dengan bersikap bak gentleman seperti itu?
Ales terkekeh, membawa seringainya ke wajah dan menggeleng. Ia tahu Sean masih memperhatikannya sejak tadi. Jadi, yang selanjutnya lelaki itu lakukan ialah berjalan menuju ke lift, dengan lebih dulu membuang tatapan kearah Sean yang menatapnya bertanya.
Ales hanya menjawabnya dengan jemarinya, menunjuk keatas. Sean langsung memahami maksudnya, Ales akan menuju ke lantai atas gedung ini. Dalam beberapa saat, otak Sean berkecamuk dengan rasa bimbang, menimbang apakah menghampiri Ales di acara sebesar ini adalah hal yang aman.
Ketika lampu ruangan mulai redup dan seluruh pemandangan hanya berfokus pada bagian stage, saat itu juga Sean seakan mendapat jawaban. Bergerak ditengah cahaya minim seperti ini akan membuatnya aman dari sorot mata dan kamera.
Setelah lebih dulu bertukar pandang dengan El, gadis itu bergerak menuju ke lift, ditemani El yang berjaga di belakangnya.
"Diatas clear dan no cctvs. Maksimal 20 menit ya, Sean. Gue gak bisa nahan orang dari bawah lebih lama". Ucap El, berdiri beriringan didalam lift dengan Sean.
Sean hanya mengangguk dan mengatur nafasnya, dengan begini, ia sebenarnya tahu kalau Ales dan El sudah berkomunikasi lebih dulu guna menyiapkan ini. "Tolong ya, El".
El menepuk punggung Sean saat gadis itu turun dari lift dan kembali menutup pintu lift. "Goodluck, gue jaga di bawah. 20 menit terus turun".
Sean melangkah dengan takut, ruangan luas dan modern itu dilengkapi dengan beberapa sofa yang terlihat kosong. Hanya ada satu sofa yang terisi disana, Ales.
Lelaki itu duduk tenang dengan melipat tangannya didepan dada, melihat lurus kearah Sean yang baru saja turun dari lift. Tatapan Ales menghakimi, seakan memaki Sean yang seketika kehilangan nyalinya.
Entah perasaannya saja atau memang Ales terlihat sedang marah?
Ales mengisyaratkan agar Sean mendekat
padanya, dan duduk disalah satu sofa yang letaknya bersebrangan dengannya. Gadis itu begitu patuh, duduk dengan perlahan di hadapan sang pilot yang rahangnya terlihat mengeras. Sudah jelas Ales tengah murka padanya.
"Kaget kamu ya, ketemu saya disini?". Suara baritone itu membuat bulu kuduk Sean otomatis berdiri, lelaki itu hanya memberi jeda sebentar sebelum memulai kembali kata-katanya. "Baru berapa lama pisah dari saya kok udah lengket banget sama cowok lain? Sengaja balas dendam sama saya?".
Sean bersumpah, darahnya berdesir kencang mendengar nada bicara Ales yang penuh penekanan. Gadis itu bahkan tidak berani menatap sang kekasih, hanya fokus menunduk menatapi ujung sepatunya sendiri.
"Dituangin minum, ngobrol deket-deket, bener-bener mau bikin saya marah ya, kamu? Lupa kamu, didalam badan kamu ada anak siapa?". Suara Ales makin sarat akan makian yang halus.
Sekedar reminder, makian Ales selalu berhasil membangkitkan satu sisi di tubuh Sean, yang sudah lama tertidur karena tak kunjung disulut.
Ales memilih bangkit dan bergerak mendekat. "Kamu marah sama saya karena kejadian di Bali, yang bahkan kamu belum tahu gimana kejadian sebenarnya". Lelaki itu berdiri tepat si hadapan Sean. "Tapi kamu sendiri bikin saya marah. Liat kamu dipegang-pegang laki-laki lain kayak gitu, rasanya saya juga patut marah sama kamu".
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomansaSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
