Chapter 61 - Two Ways Thoughts

2.1K 183 15
                                        

Perjalanan menuju ke Vancouver, Canada, terasa jauh lebih berat bagi Ales. Padahal, pilot senior itu sudah bertahun-tahun menghadapi perjalanan panjang melintasi dunia sejak memilih dunia penerbangan menjadi dunianya. Tapi, kali ini rasanya benar-benar berat.

Meninggalkan Bali dan ketiga sumber kehidupannya belum pernah terasa seperti ini sebelumnya. Terutama dengan kondisi Sean saat ini, yang tak henti menolak afeksi darinya dan menganggap semua di diri sang gadis tak cukup untuk menahan Ales selamanya bersama.

Padahal, jika saja dada Ales bisa dibelah menjadi dua, pasti akan ia lakukan agar Sean bisa melihat bagaimana isi hatinya hanya berpusat untuk sang gadis seorang. Ales menghela nafas panjang, kemudian menyeret kopernya melintasi ruang cabin pesawat yang sudah kosong. Langkahnya kemudian terhenti ketika mencapai ambang pintu, lelaki itu berbalik dan memandang ke sekitaran, berpikir akan hal yang sudah mengganjal hatinya belakangan ini.

Haruskah ia melepas pekerjaan ini?

Jika ditarik kilas balik, perjuangan Ales untuk meraih apa yang ia miliki sekarang bukanlah perkara mudah. Sebut saja berapa banyak pelatihan yang harus ia ikuti demi mengumpulkan jam terbang, belum lagi berbagai jenis ujian yang harus ia hadapi sampai akhirnya meraih lisensi. Menjadi captain penerbangan ialah mimpinya sejak kecil, yang hebatnya terwujud berkat kerja keras dan keinginan yang kuat.

Tapi, ia sadar kalau kini ia memiliki hal yang jauh lebih penting dari sekedar mimpinya.

Ales punya keluarga kecilnya, yang kini menempati skala prioritas tertinggi dalam hidupnya. Tapi, akibat profesi yang ia jalani, skala prioritas itu secara tidak langsung tidak berjalan maksimal. Ales sadar ia tidak memberi banyak waktu untuk Sean, begitu juga untuk Gili dan Alesea, anak mereka.

Sang pilot melepas topinya, kemudian memilih duduk di bangku penumpang, meratapi ruang cabin pesawat yang berhasil ia kendarai dengan mulus melintasi bagian dunia. Hatinya berat, tapi rasanya keputusannya mulai membulat. Ales tidak boleh serakah, ia tidak mungkin memiliki segalanya.

Dan jika ia harus merelakan satu hal untuk dikorbankan, tentunya dengan kelapangan dada ia akan memilih.

———

"Makan dulu, lo dari minggu lalu gue liatin jarang makan. Gimana sih, padahal lo masih menyusui". Ucap El pada Sean dalam agenda melakukan short brief di kediaman sang artis.

Sean tidak menjawab, hanya sibuk membolak-balik kertas yang El berikan untuknya. "Ini startnya gak bisa lebih cepet, El? Masa 2 bulan lagi".

"Kan lo baru kelar ngelahirin, Sean. Agensi kasih waktu buat lo sampai bener-bener pulih, biar lo ada waktu jaga anak lo juga". Balas El lagi.

Sang gadis menutup lembaran kertas jadwal di tangannya dan melemparnya keatas meja. "Pasti karena bentuk badan gue, kan? Kalian udah ada artis baru yang lebih muda, kan? Makanya jadwal gue mulai berkurang".

El mengerutkan kening saat mendengar penuturan sang gadis. "Lo kenapa, sih? Kita lebih mikirin kesehatan lo. Kenapa jadi kemana-mana?".

Sean memijat pelipisnya. Gadis itu tidak menjawab, sampai tatapan menyelidik dari El lebih dulu mempelajari ekspresinya. Lelaki itu mulai menginterogasi. "Lo ada yang mau diceritain ke gue, Sean?".

Sean menggeleng, memilih membisu dan tidak menjawab pertanyaan sang manager. Ditengah pembicaraan itu, langkah kecil dari Gili yang kini sudah bisa berjalan walau belum lancar terdengar mendekat, membuat Sean dan El bersamaan menoleh kearah asal suara.

El adalah yang pertama menyambut makhluk kecil itu. "Halo, jagoan! Udah lancar aja jalannya?".

El meraih tubuh Gili dan membawanya kedalam gendongan seperti biasa. Bocah lelaki itu kemudian menatap El sejenak dan berbisik. "Oom".

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang