Ales belum pernah sekecewa ini dalam hidupnya. Dibanding dengan emosi, perasaan kecewa jauh lebih mendominasi seluruh isi batinnya. Entah apa lagi yang ia harus lakukan, sebab rasanya semua yang ia upayakan selalu berakhir salah di mata perempuan yang paling ia cintai.
Ales bukan manusia sempurna, bukan juga perwujudan malaikat. Ia hanya seorang biasa yang memiliki ambang batas kesabaran, seseorang yang memiliki perasaan dan dapat terluka. Singkatnya, Ales sudah berupaya menjadi sosok yang sempurna, tapi nyatanya selalu gagal.
Tak terkira bagaimana kacaunya ia sekarang. Disaat baru saja mengambil keputusan besar si hidupnya yang membuatnya harus merelakan mimpi, satu-satunya hal yang Ales butuhkan sesampainya ia dirumah adalah pelukan dari Sean. Hanya itu. Satu pelukan dari orang yang paling ia cintai rasanya akan cukup menghapus segala kerisauan yang tengah batinnya alami.
Tapi nyatanya, lagi-lagi ia salah.
Bukan pelukan hangat, bukan juga dialog yang penuh dengan ketenangan, nyatanya yang ia hadapi ialah perdebatan. Ales dan Sean, keduanya adalah manusia normal yang diikat dalam satu ikatan pernikahan. Jadi, sisi manusiawi mereka pasti memiliki rasa lelah dan putus asa. Ales sudah berusaha menelan segalanya sendiri selama ini, berupaya sebaik mungkin meredam segala hal yang berkecamuk di hatinya demi menjaga perasaan Sean.
Andai Sean tahu betapa sakitnya ia setiap Sean menolak afeksinya. Gadis itu bahkan sudah tidak mau mendengarkan bicaranya lagi, pun afeksi anak-anak mereka. Ales merasa gagal, entah menjadi seorang kepala rumah tangga ataupun sekedar sebagai manusia. Sebab, bagaimana pun juga, Ales juga perlu merasa dicintai untuk tetap bertahan. Tak peduli selelah apa, atau sesulit apa rintangan yang harus ia hadapi, jika ia punya Sean, rasanya semua akan berjalan baik-baik saja.
Kejadian penolakan demi penolakan yang Ales alami beberapa minggu belakangan, membuatnya benar-benar depresi. Seakan-akan cinta kandas begitu saja di pernikahan mereka, membuat Ales menjadi satu-satunya pihak yang masih setia mencintai.
Kamu bahkan gak tahu flight saya kemarin bermasalah, kalau kemarin saya mati, apa kamu akan merasa kehilangan, Sean?
Batin Ales terus bersuara, dengan rasa lelah di tubuh, lelaki itu menyetir mobilnya sendiri melewati malam. Entah kemana tujuannya ia pun tak tahu, sebab satu-satunya tempat tinggal yang ia miliki di Bali hanyalah rumahnya dan Sean sekarang.
Malam sudah selarut ini, tapi kantuk sama sekali tak terasa. Ales benar-benar tengah mengalami satu titik terberat di hidupnya. Entah bagaimana setelah ini, jika memang perpisahan adalah satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh, asalkan itu mampu membahagiakan Sean, rasanya Ales bisa belajar ikhlas. Yang terpenting, Ales sudah berupaya sekuat tenaganya untuk mengupayakan yang terbaik.
Dan bila ternyata garis tuhan berkata mereka tidak ditakdirkan bersama, Ales bisa apa?
———
Selepas kepergian Ales, Leci tidak berhenti menangis. Seakan mengetahui situasi yang terjadi diantara kedua orang tuanya, atau memang ikatan batinnya dengan Ales yang begitu kuat. Anak perempuan itu langsung menangis kencang dengan tangan mengepal, seakan merasakan separuh dari jiwanya direnggut.
Perawat bayi itu sudah mengupayakan segala cara, pun sudah mencoba mengetuk pintu kamar Sean guna meminta sang Ibu yang berupaya menenangkan. Leci hanya berhenti menangis sejenak ketika sudah meraskan sangat kelelahan, dan kembali menangis lagi setelahnya. Sean sendiri masih dalam kondisi syok, gadis itu duduk memeluk kakinya di lantai, menatap kosong kearah tembok, memutar tiap detik kejadian pertengkaran hebatnya dengan Ales.
Padahal sebenarnya Leci sudah terbiasa ditinggal Ales untuk pergi dinas sebelumnya. Tapi, kali ini berbeda. Leci seakan merasakan kegelisahan yang terjadi di hati kedua orang tuanya, dan membuatnya merengek kencang hingga suaranya terdengar parau. Sudah berbagai cara dicoba, dimulai dari memberi susu, hingga menggendongnya dicoba, tapi semua gagal. Tangisan sang adik tak ayal membuat Gili terbangun dan menatap kearah Leci di gendongan Sus. Anak lelaki itu berdiri di dalam cribnya, dengan sembari menggigit selimut karena sebagian gusinya masih terasa gatal.
"Cus". Panggil Gili, membuat perawat kedua bayi itu menoleh.
"Loh, bangun toh, Den? Tidur lagi ya.. Masih malam". Balas Sus.
Jemari mungil itu seakan mengisyaratkan, memanggil kepada lawan bicaranya. Gili menepuk-nepuk bagian kosong di crib bayinya. "Eci, sini.. Obo".
"Mau bobok sama adik? Adik masih nangis, Den. Gili bobo lagi aja ya. Nanti Sus taro disitu kalo udah adik udah bobo.
Gili menggelengkan kepalanya dan kembali menepuk kasurnya. "Eci obo.. Cus, sini".
Pada akhirnya, Sus menuruti permintaan Gili, dengan hati-hati menaruh Leci di boks bayi yang sama dengan Gili, dan membiarkan Kakak beradik itu bersama. Mulanya, Leci masih berontak saat ditaruh, sampai akhirnya perlahan tangisnya memelan saat Gili memeluknya.
Gili memang memiliki kecerdasan emosional yang sangat baik untuk anak seusianya. Gili mengecup pipi Leci, lalu memeluknya hati-hati. "Sshh.. Shh.. Dik, Obo".
Gili melakukan hal yang sering Ales ataupun Sean lakukan ketika ia menangis kepada adiknya, dan nyatanya, perlakuan itu perlahan berhasil. Perlahan, tangisan Leci mereda dan berhenti sepenuhnya. Bayi perempuan itu kembali tertidur di pelukan sang Kakak, begitu tenang, bak merasakan aman.
Betapa indahnya ikatan yang mereka miliki, menimbulkan kekaguman dan senyum dari 'Sus yang menyaksikan. Bagaimana keduanya akhirnya terlelap bersama, saling menenangkan kegelisahan satu dan yang lainnya.
———
Hidup tanpa Ales?
Apa Sean sanggup?
Belum pernah di seumur mereka saling mengenal, Sean melihat Ales semarah itu padanya. Belum pernah juga kata pisah itu terucap dari bibir Ales sebelumnya, dan ternyata rasanya benar-benar menyakitkan. Sean tahu ia salah, tapi mengapa sulit sekali menjelaskan bagaimana keadannya?
Kemana Ales sekarang? Dimana ia tidur? Apa Ales sudah makan?
Sean benar-benar kaget saat melihat penampilan Ales tadi, sejak kapan pipi Ales jadi setirus itu? Belum lagi lingkaran hitam dibawah matanya. Astaga, hatinya nyeri memikirkan bagaimana sang lelaki pasti tak memikirkan dirinya sendiri beberapa hari kebelakang. Sean benar-benar tak becus merawat sang suami.
Apa sebenarnya selama ini Ales tidak bahagia dengan pernikahan ini?
Pikiran itu terus berkecamuk dalam diri Sean, digerogoti rasa bersalah dan ketakutan akan kehilangan sosok yang ia cintai dalam hidupnya. Sean masih tak mampu bergerak, hanya meringkuk di lantai, menatap kosong kedepan.
Bukan ini yang ia inginkan, bukan menyakiti Ales. Bukan juga kehilangan sang lelaki, sama sekali bukan. Raganya tak mampu banyak berbuat, tapi hatinya ingin sekali mengejar Ales, mencarinya dan memohon pengampunan di kaki sang lelaki.
Saat mendengar kabar pengajuan resign tadi, hati Sean langsung mencelos. Ia benar-benar merasa tak tega dan tentu saja khawatir. Ales dan profesinya adalah dua hal yang saling mengikat. Pilot adalah mimpinya sejak dahulu, kehidupannya selain Sean. Maka, ketika kini sang lelaki harus rela untuk melepasnya begitu saja, tak dapat dipungkiri, Ales pasti kalut.
Sebenarnya, Sean hanya khawatir, ia hanya tak mau Ales berkorban lebih banyak untuknya.
Tapi, caranya memang salah. Tidak seharusnya ia menghakimi Ales dan bahkan menyulut emosinya secara berlebihan seperti tadi. Wajar Ales marah, ia sudah mengorbankan segalanya untuk keluarga kecil mereka. Tapi bukannya menyambutnya dengan kehangatan, atau mendengarkan segala keluh kesahnya atas keputusan mendadak itu, Sean malah menyalahkannya. Salahkan juga emosinya yang akhir-akhir ini selalu mengambil alih, pengaruh tekanan dan juga baby blues yang ia alami sama sekali tidak membantu. Ini pertama kalinya Sean mengalami kondisi begini, jadi ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Gadis itu memejamkan mata, merasakan deras airmata dari perasaan bersalah jatuh begitu saja.
Ia ingin bertemu Ales, ingin memeluknya erat dan memohon untuknya pulang sekarang juga. Tapi jujur, sekujur tubuh Sean lemas bukan main, bahkan untuk sekedar berdiri.
Ales, kamu dimana?
———
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomantizmSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
