Chapter 28 - Our Little Monologue

3.4K 186 9
                                        

Mereka berantem, moodku ikutan berantakan sampe males nulis mereka HAHAHHAHAHA

😭😭😭👍🏻

———

Sudah 3 hari ini Ales menanti Sean di apartment sang gadis, berharap pada akhirnya mereka berhasil bertemu dan memiliki waktu untuk saling berbicara dengan kepala yang jauh lebih dingin. Lelaki itu kalut, berulang kali memasak seadanya, dan menghangatkan kembali makanan itu untuk dimakan selanjutnya.

Lidahnya sudah mati rasa, tidak lagi memikirkan perihal rasa, yang terpenting hanyalah kebutuhan perutnya terisi. Malamnya, lelaki itu lebih banyak bermonolog sembari menatap kearah langit-langit kamar, membisikkan segala permintaan maaf yang tidak pernah tersampaikan kepada si pemilik.

Ales tahu, ia salah. Wajar gadis itu berpikir buruk terhadapnya, pasalnya, Ales pergi tanpa memberi perkataan apapun pagi itu. Pun tidak berniat menjelaskan perkara rencana pertemuannya dengan Rea, walaupun tujuannya baik.

Sean berada di pihak yang tidak mengetahui, terlebih gadis itu punya trauma yang dalam, dan juga dalam kondisi kehamilan muda. Bukan ini sebenarnya niat Ales, lelaki itu justru sebenarnya ingin menyelesaikan masalah tanpa menyangkut pautkan Sean didalamnya, ia justru takut menambah pikiran gadisnya itu, membawanya makin larut dalam permainan petak umpet yang tidak sengaja terjadi diantara dirinya dan Rea kemarin.

Ales memandangi seisi dinding kamar Sean yang dipenuhi dengan foto mereka. Beberapa foto Ales diambil secara diam-diam oleh gadis itu, dan dicetak dalam ukuran polaroid agar mudah ditempelkan di dinding kamarnya.

Mereka terlihat begitu bahagia disana.

Mata dan bibir Ales saling bekerja secara berkesinambungan, matanya meniti satu persatu hiasan di dinding itu dan bibirnya tersenyum secara otomatis. Sampailah ia pada satu foto di pojok ruangan, sebuah potret yang dicetak dengan ukuran yang lebih besar daripada yang lain. Potret Vier.

Ales mungkin tidak pernah menyadari, betapa tak tergantikannya Vier di hati Sean dan sebaliknya, sedalam apapun cintanya pada Sean, mungkin tidak ada yang mampu menyaingi cinta Vier pada gadis itu.

"Apa memang seharusnya kamu aja yang jaga dia ya? Bukan saya?". Ucap Ales lemah pada figura itu, bermonolog pada benda mati bagai manusia yang tak berakal.

Hati Ales terasa berat, mengingat bahwa mungkin jika ia tidak pernah masuk ke kehidupan mereka, mungkin Sean tidak perlu merasakan semua hal buruk yang terjadi di hidupnya. Perasaan bersalah itu menguar hebat di dadanya.

Dimulai dari hancurnya hubungan Vier dan Sean, dilanjutkan dengan kematian Vier yang menyebabkan kondisi mental Sean terguncang, dan kini, kondisi Sean yang hamil dan harus menghadapi masalah berat.

"Apa memang saya ini petaka untuk Oceana ya, Olivier? Apa memang harusnya saya gak pernah datang ke hidupnya ya?". Ucap Ales lagi, kali ini, kalimatnya terdengar bergetar.

Lelaki itu menutup matanya dengan satu lengan dan menelan airmatanya sendiri, benci dengan keadaan yang mengharuskannya mengalami kondisi pahit seperti ini.

Mungkin. Ini hanya mungkin..

Mungkin, jika ia dan Sean tidak pernah bertemu, mungkin, gadis itu masih menjadi orang paling bahagia dalam hidupnya, karena berada di tangan orang yang mampu memperlakukannya dengan sangat baik.

Dan mungkin, orang itu memang bukan Ales.

———

Pagi hari Sean sudah dipenuhi dengan jejalan manusia yang entah mengapa berkumpul di airport. Bandara Soekarno Hatta itu tiba-tiba saja ramai hari ini, membuat kening Sean berkerut, rasanya sudah lama ia tidak ditunggui sampai begini oleh penggemarnya.

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang