Chapter 27 - Burdensome

3.6K 183 29
                                        

⚠️⚠️⚠️

———

Kepala Ales mau pecah rasanya saat melihat mobil yang dinaiki Sean pergi menjauh. Padahal bukan ini maksudnya, padahal ia sudah menyelesaikan semuanya. Padahal hanya tinggal selangkah lagi sampai hubungannya dan Sean bisa berjalan tanpa hambatan seperti biasa.

Denyut di kepalanya kian terasa, efek begadang semalaman dan tidak mengkonsumsi apapun sejak landing kemarin, ditambah kenyataan bahwa lelaki itu harus menghadapi pertengkaran dengan Sean, membuatnya kalang kabut bukan main.

Ales bisa saja mengejar mobil Sean dengan mobilnya sendiri, ia tahu gadis itu pasti menuju ke bandara. Tapi pemikiran Ales cukup panjang, ia tahu hal itu akan membahayakan Sean bila mereka terlihat apalagi bertengkar di publik. Jadi, lelaki itu memilih membiarkan Sean pergi terlebih dahulu guna menenangkan diri, dan memilih cara yang lebih aman untuk bertemu nanti.

Ia harus menjelaskan semuanya. Ini memang terlihat salah, sama sekali salah.

Lelaki itu masuk kedalam rumah dan menemukan dua piring makanan yang sudah tersaji di meja. Sean ternyata sudah menyiapkan sarapan untuk mereka pagi ini, namun gadis itu tinggalkan begitu saja sebelum sempat dihabiskan.

Ales memilih duduk di sana sendiri, di meja makan mereka yang seharusnya menjadi tempat mereka sarapan bersama pagi ini. Lelaki itu menyendokkan makanan yang Sean masakkan dan menyantapnya dalam diam.

Rasanya enak, tapi tidak tahu kenapa berbeda.

Oh, mungkin karena tidak ada Oceana disini.

———

Sean sama sekali tidak menjatuhkan airmatanya selama di perjalanan. Dibandingkan sedih, Sean lebih condong kearah muak, mungkin benci. Hidupnya jadi terasa lucu sekarang, setelah kejadian konyol yang terjadi didepan matanya tadi.

Padahal, gadis itu bangun tidur dengan suasana hati yang sudah jauh lebih baik. Ia bahkan tidak lagi ingin memikirkan perkara pengganggu di hubungan mereka yang ia pikir tadinya tak sebanding dengannya. Gadis itu sempat heran saat tidak menemukan Ales dimanapun di rumah luas mereka, bahkan sempat menelepon ke ponsel lelaki itu namun tak terjawab.

Akhirnya, dengan perasaan yang hangat, Sean memutuskan untuk memasak sarapan sehat untuknya dan Ales, ia tahu sang pilot belum sempat sedikitpun mengisi perut sejak semalam karena masalah yang terjadi di mereka. Gadis itu bersenandung riang saat mendengar suara mobil Ales mendekat kearah rumah, namun segera setelah mengintip ke jendela rumah, senyumnya langsung luntur seketika.

Sean melihat dengan jelas bagaimana gadis berambut pendek yang ia benci itu turun dari mobil Ales, bahkan sempat menahan lengan sang lelaki.

Disanalah, perasaan Sean hancur seketika.

Bodohkah ia karena berpikir Ales begitu mencintainya dan sudah melupakan masa lalunya betul-betul? Rasanya iya.

"Lo gak apa-apa?". Tanya El sesampainya gadis itu di Jakarta.

Sean memasang ekspresi datar, tidak sedikitpun berbicara. Gadis itu hanya mengangguk sejenak sebelum masuk kedalam mobil.

El terlihat canggung saat menemukan Sean dengan kondisi diam begini, tidak menunjukkan ekpresi apapun. Entah mengapa, lebih baik melihat gadis itu marah atau menangis sejadi-jadinya saja rasanya, dibanding diam dan tidak responsif seperti sekarang.

"Gue minta maaf ya, Sean. Soal waktu itu di kantor. Gue akuin gue salah". Ucap El tulus. "Lo bener, harusnya kita tanya pendapat lo juga, secara ini hidup lo, lo yang akan jalanin nantinya. Tapi yang perlu lo tau, gue gak pernah liat lo sebagai aset. Gue anggep lo rekan kerja gue, yang gue peduliin juga pribadinya". Jelas El lebih lanjut.

"Iya, gak apa-apa, El. Gue ngerti kok. Gak usah dipikirin". Balas Sean pelan.

El pada akhirnya memberanikan diri. "Lo.. Ada masalah sama Ales?".

Kali ini, Sean menoleh. "Dia hubungin lo?".

El mengangguk. "Iya, barusan aja. Nanyain lo udah di Jakarta apa belum, sama nanyain jadwal lo untuk besok".

"Bilang aja jadwal gue full. Gue gak mau ketemu dia. Tolong juga book hotel buat gue stay disini sebelum gue ke Singapore lusa. Gue gak mau balik ke rumah ataupun ke apart, Ales pasti kesana". Balas Sean.

El mengerutkan keningnya. "Berantem hebat lo?".

"Gue udah selesai sama Ales". Ucap Sean dingin.

Hal itu sampai membuat El tersentak. "Maksudnya? Selesai gimana? Anak lo gimana? Kan dia bapaknya".

Sean menatap sinis kearah El. "Terus kenapa? Anak gue bakal tetap hidup tanpa bapaknya. Gue yang akan rawat dia sampai gede. Gak perlu dia hidup dengan sosok bapak yang gak tau diri".

El melihat kilatan kemarahan itu di mata Sean, gadis itu benar tengah dilanda emosi yang tak berkesudahan, membuat El pada akhirnya menutup mulut.

"Jangan kasih tau Ales gue dimana, El. Stop bales chat Ales. Sampai lo kasih tau, gue gak segan-segan resign dari Starsun". Ancam Sean dengan nada tenang.

El bersumpah, aura mengerikan gadis itu baru kali ini ia lihat. Sean memang orang yang penuh intimidasi, tapi kali ini rasanya sungguh berbeda.

Gadis itu lebih terlihat... Mengerikan.

———

Ales uring-uringan bukan main rasanya, perjalanannya ke Jakarta terasa seperti penyiksaan. Malam dan paginya terasa seperti mimpi buruk, terus-terusan bermimpikan Sean yang pergi meninggalkannya.

Ales sudah mencoba menghubungi ponsel Sean, namun tidak kunjung mendapat jawaban. Chatnya dengan Adriel pun terputus begitu saja tanpa ada tanggapan lagi. Lelaki itu bagai dilanda dejavu, pasalnya akan sulit baginya untuk bertemu dengan Sean jika bukan gadis itu yang mengizinkan. Tahu sendiri, rasanya penjagaan gadis itu sudah mampu bersaing dengan pengawalan presiden. 

Ales pada akhirnya memilih untuk datang ke apartment Sean di Jakarta, satu-satunya tempat yang paling mungkin ia datangi karena aksesnya sudah ia dapatkan langsung tanpa harus melewati management Sean.

Lelaki itu mencari disana, namun tak ada sedikitpun tanda bahwa gadis itu sempat mampir kesana setelah kembali ke Jakarta. Bahkan koper yang gadis itu bawa pun tidak terlihat disana.

Sean tidak pulang kesini, lalu dimana ia sekarang?

Dengan putus asa, lelaki itu kembali menelepon nomor El, dengan harapan akan mendapat jawaban kali ini. Namun, betapa terkejutnya ia ketika menemukan nomor itu tidak dapat dihubungi bahkan tidak bisa mencapai nada panggil.

Adriel memblokir nomor Ales.

Jemari Ales gemetar bukan main, lelaki itu langsung memanggil pula nomor Sean untuk mengecek, dan hasilnya sama. Terblokir.

Sean tidak sedikitpun bermain-main dengan ucapannya kemarin. Gadis itu menunjukkan betapa berkuasanya dan tidak tersentuhnya ia jika bukan karena kehendak gadis itu sendiri yang mengizinkan.

Dengan ini, Sean resmi menutup seluruh akses Ales terhadapnya.

———

THE BREAKFAST :

THE BREAKFAST :

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang