Chapter 57 - Simulator

3.5K 183 10
                                        

🔞🔞🔞

———

Semenjak mainan barunya tiba, setiap pulang terbang, Ales lebih memilih menghabiskan waktu didepan mesin itu, sebuah simulator penerbangan yang ia pesan khusus guna menemani hari-harinya saat off. Ales tidak pernah bilang sebelumnya pada Sean, bahwa salah satu alasan lain membeli alat tersebut ialah jika suatu saat nanti ia memang harus mundur dari dunia penerbangan dan melepas pangkat empat-nya, Ales masih bisa melampiaskan hobinya melalui simulasi penerbangan dirumah.

Yang lucu ialah, beberapa kali, Ales membawa serta Gili dalam simulasi terbangnya yang padahal terlihat memusingkan, yang ajaibnya justru membuat bayi lelaki itu tertawa terbahak-bahak dan berulang kali menyahuti. Seperti hari ini contohnya, saat Ales menikmati off-day nya dengan memulai hari di simulator, pagi sekali sebelum Sean bangun. Di pangkuannya, Gili tengah tertawa dan bergantian memandang layar dan sang Papa, seperti terpukau dengan pemandangan keduanya.

Sean merasa dongkol. Jika selama ini, Ales selalu cemburu dengan Gili yang selalu menempel pada Sean, kini gantian Sean yang merasakannya. Tapi bedanya, ia cemburu pada alat. Sebab dua manusia kesayangannya itu kini lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan alat simulator itu.

"Papales, Gili, makan dulu, yuk. Udahan dulu mainnya". Panggil Sean dari ambang pintu ruang simulator yang Ales design khusus.

Gili menoleh pada sang Mama dan menunjukkan cengirannya yang kini sudah dilengkapi 5 gigi diatas dan bawah. Anak lelaki itu menunjuk kearah layar dihadapannya. "Fwah!". Yang Sean dapat artikan sebagai terbang.

"Fly, sayang? Lagi terbang sama Papa ya?". Sahut Sean lembut, tersenyum pada sang anak.

Gili mengangguk, tertawa dan mendongak untuk melihat kearah sang Papa yang tengah serius mengoperasikan alat. "Yes, fwah".

"Heh, Les, Les, aja.. Pangilnya Papa, Bos. Mentang-mentang udah bisa manggil nama". Balas Ales saat mendengar sang anak memanggil namanya.

Bocah kecil itu menaikkan telunjuknya ke dagu sang Papa. "Ayes...". Kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Obos".

Ales yang tengah mengoperasikan kemudi simulator jadi keheranan sendiri menyaksikan kelakuan Gili, turun dari mana sifat aneh anaknya yang satu ini. "Oceana, anakmu nih, masa manggil saya Ales".

"Kan anakmu juga". Balas Sean ketus, kemudian meraih Gili dan menggendongnya, mendengus sebal sebelum berbalik untuk membawa Gili keluar dari ruangan. "Makanya, biasain panggil yang bener, jangan bos, bos, aja. Panggil Papa, Mama, Gili, gitu".

Ales menautkan alisnya. "Kok kamu jadi marahin saya sih?".

"Cepetan turun kalo masih mau makan". Balas Sean sebelum resmi meninggalkan Ales di ruangan.

Ales sudah mencium ada yang tidak beres dengan nada bicara Sean, jadilah ia merelakan simulasi penerbangannya yang baru setengah jalan itu dan mematikan mesin untuk ikut turun kebawah.

Suasana makan kali ini cukup aneh, Sean hanya berfokus pada Gili, seakan tengah menunjukkan sesi ngambek pada Ales. Belum lagi, sepertinya sang gadis sengaja membiarkan Ales makan sendiri, sedangkan ia dan Gili makan di satu sudut sendiri dengan saling bercanda tawa.

Hari masih siang saat Sean menaruh Gili di tempat tidur dan mengecup pipi sang anak. Sesudahnya, Sean kembali ke bawah untuk mencari Ales, berniat membantunya karena tadi Sean meninggalkannya sendiri untuk membereskan piring makan mereka setelah makan. Namun, ternyata sang lelaki tidak disana. Meja makan dan sekitarnya sudah bersih tanpa cela.

Sean kemudian menghela nafas, pastinya Ales sudah kembali ke tempat favoritnya itu, sudah bisa ditebak. Aneh rasanya memiliki kecemburuan pada hal yang tidak bernyawa, tapi bagi Sean, bernyawa ataupun tidak, tidak boleh ada yang mengalahkannya dari sisi apapun, terutama di mata Ales.

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang