🔞 dikit hihi
———
Ales yang baru selesai mandi dengan masih mengusak handuk ke kepalanya berjalan mendekat kearah sang istri yang telah lebih dulu tertidur di kasur dengan posisi miring. Dengan perlahan, Ales mengecup pundak terbuka Sean dan membawa kecupan itu sampai ke pipi sang gadis. Tak lama kemudian, sang pilot memilih untuk bergabung di kasur, memeluk figur Sean dari belakang dan terus menyampaikan rasa rindunya melalui kecupan.
"Sayang.. Oceana?". Panggil Ales lembut seumpama bisikan.
Sean tidak bergerak dalam tidurnya, nampaknya gadis itu sudah terlelap begitu dalam. Namun, Ales pantang menyerah, sebutlah ia tega. Tapi rasanya sudah hampir seminggu mereka tak saling bersentuhan akibat jadwal kerja yang saling tumpang tindih, ditambah kehadiran malaikat kecil diantara mereka yang tentunya memerlukan perhatian lebih.
"Kok cepet banget tidurnya, sih? Suamimu kangen ini". Ucap Ales lagi, kali ini mengecup jemari Sean yang berhiaskan cat kuku berwarna kemerahan.
Tidak munafik, selain karena rindu karena lama tak bertemu, Ales juga butuh melegakan nalurinya yang sudah menggunung dan dipupuk untuk bersabar dalam waktu yang lama. "Besok kan kamu kerja dari pagi, kapan berduaan sama saya nya?".
"Aku capek, Ales". Balas Sean dengan menggerutu.
Ales menyaksikan bagaimana mata Sean tetap tertutup rapat walaupun bibirnya berbicara. Nampaknya gadisnya itu benar kelelahan. Melihatnya, Ales jadi tidak tega, hasratnya menguap entah kemana. "Bangun sebentar aja? Gak ngapa-ngapain deh, cuma mau ngobrol sebentar sama kamu, kita kan kepisah hampir seminggu, sayang".
"Besok aja". Sanggah Sean lagi. Sama sekali tidak mengidahkan Ales yang masih bermanjaan di ceruk lehernya.
Ales menekuk bibirnya. "Besok kan kamu berangkat jam 4 pagi. Takutnya saya belum bangun. Atau gak keburu untuk ngobrol lagi, Oceana". Ales mengecup pipi Sean sekali lagi dan mencolek pipi kemerahan itu. "Oceana istri saya yang paling cantik, ayo dong buka matanya sebentar".
Hal tak terduga yang terjadi ialah, Sean malah menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala. "Aku bilang besok ya besok, Ales. Kamu nih gak ngerti ya aku bilang capek? Aku mau tidur".
Ales sampai menganga saat mendengar bagaimana nada bicara Sean meninggi padanya. Apakah Ales sudah berlaku kelewat batas?
Pada akhirnya lelaki itu memilih untuk mengalah dan berbaring di sisi ranjangnya sendiri, mencoba berdamai dengan hal yang mengejutkannya barusan dan memilih mengistirahatkan tubuhnya walau tak bisa. Sean tidak pernah meninggikan nada bicaranya sekalipun semenjak mereka bersama, apalagi sejak menikah. Jadi barusan, sedikit banyak membuatnya tersentak.
Saat pagi menjelang, benar saja, Sean yang sudah terbangun setengah jam sebelum jam kerjanya, langsung mempersiapkan segala hal sebelum memutuskan untuk pergi. Baju ganti untuk Ales dan Gili, sarapan untuk sang suami, susu untuk sang anak, beserta perlengkapan shootingnya yang akan berlokasi cukup jauh dari rumah. Sebelum berangkat, Sean langsung menghampiri boks bayi di kamar Gili dan mengecup pipi bulat sang anak tanpa membangunkannya.
Tak lupa, ia juga kembali masuk ke kamar untuk berpamitan dengan mengecup kening Ales, yang hanya mengangguk dan kembali melanjutkan tidurnya. "Aku berangkat ya, Ales. Sarapanmu udah di meja, susu Gili juga udah aku hangatin just in case dia bangun. Kalo mau mandiin Gili juga bajunya udah di kamar mandi, sekalian bajumu juga udah aku taruh disana".
"Iya". Hanya itu balasan yang Sean dengar dari Ales sebelum lelaki itu membalikkan badan memunggunginya dan kembali tidur.
Sebenarnya, Ales tidak betul-betul tertidur, matanya terbuka lebar saat mendengar pintu kamar ditutup secara perlahan. Entah, perasaanya terasa aneh. Pantaskah ia merasa demikian saat sang istri telah berusaha menjadi yang terbaik?
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomanceSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
