Chapter 37 - A Medicine

3.6K 196 7
                                        

Sean memperhatikan layar tv yang menayangkan berita mengenai dirinya, sudah berulang kali gadis itu gonta-ganti channel, namun tak juga menemukan satu yang tidak membahas mengenai dirinya. Terhitung, ini sudah hari ke sekian sejak kabar publikasi hubungan Ales dan Sean, dan seperti yang sudah dibayangkan sebelumnya, reaksi publik pun beragam.

Sebagian besarnya mengecam, beribu hujatan memaki Sean tanpa henti, membuatnya sampai harus menonaktifkan social media, sedangkan sebagian lain justru memuji perilaku Sean yang berani. Agency Sean sendiri pun masih bungkam, belum mengeluarkan statement apapun baik kepada pihak Sean maupun publik, mereka pun masih merancang dengan baik terkait rencana kedepan dari sang artis.

Ditengah kekalutannya, Ales masuk kedalam kamar, membawa dua gelas teh hangat, satu untuknya, dan satu untuk Sean yang sejak tadi merasa mual. Lelaki itu duduk dan menyerahkan sebuah mug pada sang kekasih, matanya menangkap raut sedih dari wajah cantik itu, membuat Ales menakup wajah Sean guna menatapnya lebih jelas. "Kamu kenapa? Kok murung? Masih mual perutnya?".

Sean menggeleng pelan. "Banyak pikiran aja".

Ales pada akhirnya mematri fokusnya pada sang gadis, menatapi wajah muram itu dan mempelajarinya. "Kepikiran apa cantik saya? Coba ceritain, biar saya ngerti".

Sean menghela nafasnya panjang. "Menurutmu aku salah gak sih? Ngelakuin hal kemarin?".

Ales mengerti arah pembicaraan sang gadis, lelaki itu kemudian menaruh gelas minuman mereka di nakas, dan memilih menarik Sean kedalam pelukan guna menenangkan gelisah sang gadis. "Kamu mau tau apa pendapat saya?".

Lelaki itu merasakan Sean mengangguk didalam pelukannya, hingga ia melanjutkan. "Menurut saya, apa yang kamu lakuin benar-benar berani dan bijak. Gak semua orang punya pemikiran sematang kamu. Saya udah bilang kan? Saya takjub lihat betapa dewasanya kamu sekarang".

Sean mengeratkan pelukannya di pinggang Ales. "Tapi, kanu kan jadi dikejar-kejar media juga, Ales. Kamu sampai harus ambil cuti gara-gara ini. Aku ngerasa bersalah. Kamu kan gak terbiasa dengan kondisi ini, gak kayak aku".

Ales tersenyum mendengarnya. "Kamu gak perlu mikirin saya, sayang. Saya baik-baik aja. Selama kamu gak kemana-mana, saya akan baik-baik aja. Perihal menghadapi pers mah perkara mudah. Saya berantemin mereka satu-satu juga bisa".

Sean tertawa mendengarnya. "Kayak jagoan aja kamu, Ales".

Ales memanfaatkan momen itu untuk mengecup bibir sang gadis sejenak. "Kalau kamu mau, bisa aja saya alih profesi, dari pilot jadi jagoan".

Hal itu kembali membuat Sean tertawa, kali ini lebih kencang, sang gadis kemudian meraih leher Ales, memeluknya dan membiarkan kening mereka bersatu. "Makasih ya, Capt. You truly heal me, aku rasanya udah gak butuh obat-obatku. Your presence can heal me better than any prescribtion can do".

Gadis itu gantian mengecup bibir Ales singkat sebelum kembali berkata. "You're my medicine, Galessano Pradikta".

Sang pilot menahan senyumnya. "Manis banget ini pacar saya, nikah besok aja kali ya? Mau gak?",

"Ngaco aja kamu, kita aja belum sempet pilih venue mau dimana, Les. Padahal tim WO udah kontak aku tanya itu terus". Balas Sean dengan bersungut.

Ales menatap serius, menatap dalam kearah netra sang gadis. "Nikah di Bali yuk, Oceana? Kamu mau gak?".

"Bali?". Tanya Sean.

Kali ini, Ales mengangguk. "Iya, kita buat private wedding di Bali, jauh dari sini, jauh dari tanggung jawab kita masing-masing".

Sean nampak berpikir sejenak. "Kalau mau buat di Bali, aku harus kabarin keluarga dan temen-temenku dari sekarang, karena jauh. Takutnya mereka ada jadwal, terutama Sky sama Papa".

Ales mengangguk. "Boleh, kasih tau aja dari sekarang. Tanggalnya gak usah berubah dari yang terakhir kita tentuin".

"Gosh, it's 2 months from now.. Cepet banget rasanya. Gak nyangka akhirnya aku bakal menikah juga". Ucap Sean, menatap Ales tak percaya.

Ales malah tersenyum mendengarnya. "2 bulan lagi, kamu bakal resmi jadi istri saya". Lelaki itu kemudian mengecupi area ceruk leher Sean, membuat sang gadis memejam dan memegang kepala Ales. "Kamu bakal jadi punya saya satu-satunya, selamanya sama saya". Kecupan Ales makin naik, hingga akhirnya menyentuh daun telinga sang gadis, membuat Sean melenguh tanpa bisa ditahan.

Ales membisikkan kata-kata disana. "We're gonna be parents. To our kids. I'm saying it in plural, cause we're gonna make more than only one child. I'm thinking of two, or three?".

Sang pilot berhasil membuat Sean terbaring, menikmati cumbuan halusnya, membuat rona kemerahan muncul di permukaan kulit sang cantik. "Kita bakal jadi pasangan paling bahagia, yang dihadiahi anak-anak yang cantik dan tampan. Saya bakal ganggu hidupmu terus, setiap harinya, sampai kamu bosen, gak apa-apa kalo bosen pun, yang penting tetap sama saya".

Sean terkekeh mendengarnya. "Mana mungkin aku bosen punya suami pilot kayak kamu?". Gadis itu menurunkan volume suaranya untuk berbisik. "Aku gak pernah tau kalo ternyata profesi pilot itu.. Seksi. Or is it because the pilot is you? I don't know".

"Memang kamu liat pilot lain seksi juga?". Tanya Ales dengan nada posesif.

Sean menggigit bibirnya dan menggeleng. "Enggak, sih. Gak tau juga, habis, pilot yang satu ini bikin aku gak bisa liat yang lain. Posesif dia".

"Tapi kamu kan suka saya posesifin". Balas Ales disertai kecupan di garis nadi sang gadis.

Gadis itu menempelkan telunjuknya pada bibir bagian bawah Ales yang berada diatasnya. "Habisnya, kamu kalo lagi kumat posesifnya, jadi makin seksi. Soalnya suka hukum aku, sampe aku minta ampun".

"Oceana.. Jangan mancing saya. Kehamilanmu belum aman buat kita berhubungan sekarang". Ucap Ales mencegah saat merasakan obrolan mereka mulai menaikkan tensi diantara keduanya.

"Apalagi kalo kamu jadi marah karena cemburu, terus dilampiasinnya di ranjang, kamu jadi kasar, terus..". Cerocos Sean tanpa henti.

"Oceana...". Panggil Ales mencoba menghentikan ocehan sang gadis dibawahnya.

Sean tidak menunjukkan keinginan untuk diam, gadis itu masih terus berbicara. "Belum lagi kalo kamu hukum akunya sambil di iket pakai dasi kam... Hmph".

Ales harus membungkam bibir itu dengan bibirnya sendiri, dan mengunci kedua tangan Sean masing-masing di samping kepala sang gadis guna mencegah gerakan tiba-tiba darinya yang mungkin bisa membuat pertahanan diri Ales yang sudah setipis kertas itu runtuh.

Bila seluruh manusia di dunia ini diberikan cobaan hidup di hidup mereka, begitu juga dengan Ales. Bagi lelaki itu, cobaan terbesar di hidupnya tidak lain dan tidak bukan adalah Sean, yang senantiasa menguji kesabaran dan kewarasannya di sehari-harinya. Dan lelaki itu harus membiasakan diri.

Karena mereka pada akhirnya akan hidup bersama, untuk selamanya.

———

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang