Sebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka.
Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
Sean tengah sibuk membersihkan piring bekas makannya tadi saat bel rumah berbunyi. Gadis itu sudah tiba sejak kemarin di rumah milik Ales di Bali, namun baru hari ini harusnya Ales pulang. Sean tersenyum saat mendengar dentingan bel, memperkirakan Ales ada di depan sana menunggunya membukakan pintu.
Tapi rasanya, Sean tidak mendengar suara mobil Ales. Drivernya juga belum mengambil kunci dari rumah. Apa itu bukan Ales? Jika bukan, lalu siapa?
Gadis itu bergerak menuju pintu utama, membukanya dengan hati-hati dan menemukan seorang wanita berdiri disana, wanita itu cantik, berdiri menjulang di hadapan Sean yang bertubuh lebih mungil. Wanita itu mengenakan baju dress putih yang menegaskan kulit cerahnya. Keningnya berkerut dan wajahnya berubah pucat saat menemukan Sean berdiri disana.
"Siapa ya?". Semprot Sean tanpa basa-basi.
Wanita itu terlihat salah tingkah. "Ehm.. Ini, saya mau cari orang. Apa benar Galessano Pradikta tinggal disini?".
Sean mempelajari wajah di hadapannya baik-baik, bersikap tenang dan tidak terpengaruh. "Benar, ada apa ya?".
"S.. Saya bisa ketemu dia sebentar? Dia ada di dalam?". Tanya wanita itu lagi.
Wajah Sean berubah masam, cenderung sinis. "Ada perlu apa? Ngomong aja sama gue".
Wanita itu menunjukkan senyum kikuknya. "Mm.. Maaf, tapi saya harus sampaikan ini sendiri ke dia. Boleh? Sebentar aja".
Bingo.
Sean tahu siapa wanita sialan dan menyedihkan di hadapannya ini.
Hal yang selanjutnya gadis itu lakukan ialah maju selangkah dan tersenyum sinis. Gadis itu tengah menunjukkan teritorinya. "Kalo gue bilang gak boleh, gimana.. Rea?".
Sean memang tidak pintar secara akademis, tapi otaknya cukup pintar dalam menerka-nerka. Rea terlihat gugup saat Sean berhasil menebak namanya. "K.. Kamu kok tahu nama saya?".
Sean maju selangkah lagi, melipat kedua tangannya di depan dada. "Tau lah, lo kan cewek gak tau diri yang udah selingkuhin Ales terus masih berharap bisa balikan sama dia sekarang? Gimana gue gak tau?".
Netra Rea membuka lebar, nampaknya terkejut akan kata-kata pedas yang terlontar dari bibir Sean. "Bukan.. Bukan gitu. Ini makanya saya mau ketemu dia, saya mau jelasin kejadian sebenarnya. Saya mohon".
"Mohon aja terus, sujud kalo perlu di kaki gue. Gak akan gue izinin". Sembur Sean lagi.
Airmata menggenang di mata Rea, menunggu untuk jatuh. "K.. Kamu siapanya Ales? Kamu pacarnya?".
Sean mendapatkan kepercayaan diri lebih, gadis itu kini maju dua langkah, menyisakan jarak yang tidak jauh dari Rea, dan menatapnya nyalang.
"Gue calon istrinya, mau apa?". Tantang Sean. Sean bersumpah ia mendengar nafas Rea tercekat barusan. Tapi, tentunya tak menghentikan Sean untuk terus mengintimidasi. "Lo tau? Lo bener-bener gak tau diri, masuk ke teritori gue seenaknya, berani-beraninya ganggu apa yang udah jadi milik gue. Lo pikir lo bisa nyaingin gue?".
Detik selanjutnya, Sean terkekeh meledek. "Lo itu cuma perempuan murahan yang udah selingkuhin Ales di masa lalu, dan mimpi dapetin dia lagi di masa sekarang".
Rea resmi menjatuhkan airmatanya saat mendengar kata-kata Sean barusan. "Kamu gak ngerti..".
"Oh, memang nggak. Dan gue juga gak perduli. Di mata gue, lo cuma perempuan menyedihkan yang menghayal terlalu jauh. Lo pantesnya ngemis di pinggir jalan, bukan didepan rumah Ales". Desis Sean tanpa henti, gadis itu memang dikenal tak akan memberi ampun bagi siapapun yang tak ia suka.
"So, harusnya lo sadar diri. Captain Galessano Pradikta is mine, and you have lost him since such a long long time ago. Do not ever dream of having him again, cewek murah". Ucap Sean dingin, sebelum berbalik masuk kembali kedalam rumah dan membanting pintu.
———
Ales tiba di rumah saat malam menjelang. Lelaki itu terkejut saat menemukan pintu utama rumah mereka tidak dikunci, rasa khawatir langsung membanjiri hatinya.
"Oceana? Kamu dimana? Sayang? Saya pulang". Panggil Ales berulang kali, takut jika terjadi sesuatu pada gadisnya.
Sean tak kunjung menjawab, jantung Ales berdetak tak karuan membayangkan hal buruk terjadi pada kekasihnya itu. Ia berlarian dari satu ruangan ke ruangan lain, dan berakhir di kamar. Nafasnya lega saat melihat figur itu disana, bergelung meringkuk di ujung kasur. Sepertinya tengah tertidur.
Ales menghampiri dan melihat keadaan gadis itu. "Sayang, kok nangis? Kenapa?".
Sean menatap wajah Ales lekat dan memutuskan untuk masuk ke pelukan sang pilot. "Kamu dari mana aja sih? Kenapa baru pulang?".
"Saya tadi ada briefing singkat di airport, terus pulangnya diajak makan dulu sama crew flight saya tadi. Kamu kenapa? Kok sampai bengkak gitu matanya?". Tanya Ales, khawatir dengan keadaan Sean yang tiba-tiba.
Tangisan Sean makin jadi, gadis itu seperti tengah merengek. "Aku sebel sama kamu".
"Kenapa? Saya salah ya? Maaf, tadi padahal saya udah chat kamu kabarin kalo saya bakal telat sampainya. Cuma gak deliver". Balas Ales.
Sean membiarkan dirinya tetap berada di pelukan Ales dan berkata lirih setelah menarik nafas panjang. "Tadi mantanmu itu kesini".
Ales membeku di tempatnya, ia tidak salah dengar kan?
"Aku benci sama dia, Ales. Kenapa sih kalian mesti pacaran dulu? Dia itu terobsesi sama kamu. Aku gak suka dia". Ucap Sean lirih.
Ales masih terdiam di tempatnya, membuat Sean melepas pelukan dan menatap kearah lelaki itu. "Dia mohon-mohon sama aku buat ketemu kamu, dia berdiri disana sampai hampir malam, Les. Dia ngapain sampai kesini? Aku benci dia, Ales".
"Dia kesini? Tau darimana dia alamat saya di Bali?". Respon Ales.
"Mana aku tau, yang jelas tadi dia nunggu kamu. Padahal aku udah bilang dia gak boleh ketemu kamu, tapi dia tetap bersikeras nunggu didepan pintu. Aku kesel, Ales. Aku ngerasa kayak orang lain di hubungan kalian". Sembur Sean disertai airmata yang tak henti.
Ales mengecup puncak kepala Sean berulang kali. "Ssh, udah. Jangan mikir gitu. Kamu pacar saya, kamu yang milikin saya, bukan dia. Saya sama dia udah gak punya hubungan apa-apa, Oceana. Udah ya, jangan sedih lagi.. Kamu lagi hamil, gak boleh mikir yang aneh-aneh".
Sean hanya sanggup terus menangis di dekapan Ales, melampiaskan kesedihan dan juga amarahnya yang sejak tadi tertahan. Merenggut hangat dari pelukan sang lelaki yang pada akhirnya mengantarnya sampai ke alam mimpi.
Ales menatap kearah kekosongan. Gila, ini gila. Permainan petak umpet macam apa yang sedang ia jalani dengan Rea?
Pada akhirnya, Ales memutuskan sesuatu di kepalanya. Urusan ini harus selesai secepatnya. Perkara ini sungguh tidak baik untuk hubungannya dengan Sean, terutama untuk kesehatan bayi mereka di dalam kandungan Sean. Gadis itu tidak boleh stress, apalagi bersedih di masa kehamilannya.
Ales tahu ia harus menyelesaikannya segera.
———
REA :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.