Chapter 19 - Getting Those Goosebumps

3.9K 203 31
                                        

Sean menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah, gadis itu berjalan dengan percaya diri memasuki kantor megah milik salah satu anak konglomerat ternama yang kini meng-'hire' nya. Gadis itu masuk kedalam lift dengan dikelilingi bodyguards, tidak sekalipun mengidahkan pandangan orang-orang kepadanya yang menatap kagum.

Auranya begitu kuat, memancarkan aura intimidasi yang begitu memikat. Mungkin benar beberapa orang menyebutnya sebagai ciptaan favorit Aphrodite, sebab kehadirannya tidak pernah gagal membuat jantung sekitarnya berdegup tak karuan hingga siap berlutut untuknya.

Sean masuk tanpa basa-basi ke ruangan luas yang digadang-gadang sebagai ruangan kerja milik Revano. Hari ini adalah hari pertama kontraknya berjalan, dan ini juga adalah hari dimana ia sudah harus memulai briefing mengenai pekerjaannya.

Revano duduk disana, bak singgasana kerajaan yang sengaja diciptakan untuknya. Lelaki itu memandangi wajah Sean yang tak berekspresi, yang dengan tenangnya melipat kedua tangannya didepan dada.

"Duduk, Oceana". Ucap Revano lembut.

Sean mengkoreksi. "Sean, nama panggilan gue Sean. Jangan panggil Oceana".

Karena hanya Ales yang boleh memanggilnya dengan panggilan itu.

Gadis itu membuang nafasnya kasar dan duduk di kursi di hadapan Revano, lelaki itu tersenyum dan mengisyaratkan pada beberapa orang yang tadi mengantar Sean agar meninggalkan ruangan, termasuk El.

"El, lo tetep disini". Perintah Sean, seakan tengah melawan mandat dari Revano. "Manager gue harus terus bareng gue". Lanjut Sean lagi, berbicara ketus pada Revano di hadapannya.

El menggelengkan kepala dan memilih duduk di sofa, jaraknya lumayan jauh dari dua manusia yang tengah bersitegang itu. Revano akhirnya mengalah dan memulai omongannya. "So, untuk jadwalmu, tim saya udah buatin schedule promonya, termasuk dengan shooting, photoshoot, event launch, dan sebagainya".

Lelaki itu menyodorkan sebuah kertas yang berisi jadwal panjang Sean selama setahun kedepan. "Campaign nya bakal lumayan padat, jadi saya harap kamu bisa berkoordinasi dengan baik".

"Gak usah khawatir, gue professional, Sir Revano". Balas Sean dengan air muka yang masih sama datarnya.

Revano menunjukkan senyum penuh arti. "Okey, Sean. Soal riders, tim saya sudah penuhi semua yang kamu request. Termasuk untuk campaign Internasional".

"Great". Balas Sean singkat.

Revano pada akhirnya membawa tangannya untuk berjabat. "Nice to finally work with you, semoga dengan ini kita bisa saling kenal lebih jauh".

Sean menatap tangan itu dengan senyum mengejek, tidak sekalipun menjabat ajakan tangan itu. Gadis itu mempertahankan posturnya dengan tangan terlipat didepan dada. "Jangan berharap banyak, Revano. Karena gue cuma jalanin kewajiban aja, gak kurang dan gak lebih".

Revano tersenyum dan menarik kembali tangannya. "Okay, Sean. I get it. By the way, panggil saya Revan aja. Orang yang kenal saya panggil saya Revan".

"Right. Whatever". Jawab Sean asal.

———

"El, nanti bisa berhenti di apotik bentar gak?". Tanya Sean saat mereka sudah di perjalanan kembali ke kantor.

El yang tengah berfokus pada laptopnya jadi teralih. "Kenapa lo? Sakit? Perasaan obat lo baru gue beliin kemarin".

Sean menggeleng, gadis itu membenahi posisi duduknya hingga menghadap kearah El disampingnya. Ia menelan salivanya susah payah. "Jangan freak out dulu ya, El. Please, apapun yang keluar dari mulut gue, lo jangan marah dulu, jangan maki-maki gue dulu".

El mengerutkan keningnya. "Apaan lagi nih? Perasaan gue gak enak banget".

Sean menghembuskan nafasnya berat. "Gue telat, El. Udah 2 minggu, nanti tolong beliin testpack, gue mau pastiin".

Wajah El pucat pasi seketika mendengarnya. Sean menghitung didalam kepalanya, memperkirakan waktu lelaki itu akan meledak.

"LO GILA?! Telat apaan? Hamil maksud lo?". Benar saja, di hitungan ketiga, El akhirnya meledak.

"Sst! Ya gue juga gak tau, orang ini juga gue baru ngeh kok gak dateng bulan juga. Makanya gue mau pastiin, nanti baru dipikirin lagi kalau udah keluar hasilnya". Balas Sean dengan raut yang sama paniknya.

El menjambak rambutnya frustasi. "Lo gimana sih?! Masa hamil ditengah kontrak? Kan waktu itu udah gue beliin pil, gak diminum apa gimana?".

"Minum! Cuma gue pernah berbuat sama Ales sebelum mulai rutin minum lagi, waktu itu kan sempet berhenti 3 bulan. Gue juga gak tau. Makanya gue perlu test dulu". Balas Sean lagi.

"Oh, god. Gue stress banget tiba-tiba. Kalo sampe lo isi beneran gimana? Kontrak lo baru banget, Sean. Jangka waktunya pun panjang, setahun. Gila ya lo bisa-bisanya gak mikir dulu sebelum berbuat? Kan selama ini gue bilangin, lo boleh ngapain aja, asal aman! Kalo mau begituan ya pake pengaman, kalo gak, rutin minum birth control. Ck". Omel El panjang lebar.

Sean mencebikkan bibirnya, kemudian mulai mengeluarkan airmata yang berjatuhan secara tiba-tiba. "Kok lo marahin gue sampai kayak gitu sih, El? Kan gue bilang jangan marah dulu".

Astaga.

Makin saja El yakin kalau artisnya tengah hamil.

Bukan Oceana namanya kalau menangis dan mengalah ditengah argumen seperti ini.

El menjambak rambutnya sendiri frustasi. "Ck. Apaan sih lo? Pake nangis segala. Udah, udah gak usah nangis. Yaudah, kita cek dulu aja. Ales udah tau soal ini?".

Gadis itu masik terseguk dan menggeleng pelan, mencoba menghapus airmatanya yang membasahi pipi. "Belom.. Gue belom cerita ke siapa-siapa, baru lo doang. Gue bingung ngomongnya".

"Kalo sampe lo beneran hamil, langsung kasih tau Ales, dia bapaknya. Dia harus tau dan tanggung jawab". Dikte El.

Sean mengangguk pelan. "Jangan marah-marah terus, El. Gue kan juga gak tau kalo bakal berakhir gini".

El menatap sinis. "Gak tau gimana? Ya jelas lo tau lah sebelom berbuat! Gue curiga juga lo yang minta Ales keluarin didalem, diliat dari kelakuan lo sehari-hari sama dia".

Benar juga, El sepertinya memang bisa membaca pikiran.

Memang Sean sih yang terakhir kali meminta Ales melakukan itu, gadis itu ingat.

"Gue turun dulu, gue beli 3 sekalian, pake tiga-tiganya. Kalo hasilnya positif, kita langsung ke dokter". Ucap El sembari beranjak untuk turun.

Sean kembali memasang raut sedih. "Ngapain ke dokter? Gue gak mau gugurin anak gue, El.. Gue mau besarin dia".

"Goblok. Ya bukan di gugurin, tapi cari tahu kondisi kehamilan lo, udah berapa bulan, bayinya sehat apa nggak, bukan di gugurin. Capek banget gue ngomong sama lo". Omel El, sebelum memutuskan untuk turun membeli keperluan itu.

Sean menunggu dengan cemas, memegangi perutnya sendiri dan mengelusnya. "Kamu beneran ada disitu? Anak aku?".

———

💜💜💜✨

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang