Sean yang baru saja tiba dirumah miliknya dan Ales yang berlokasi di Bali menyaksikan bagaimana sang suami bersikap cuek semenjak kedatangannya tadi. Ales sejak tadi sibuk sendiri dengan IPad miliknya, berkutat dan tak menganggap sang istri ada, bahkan tak sedikitpun melirik Sean yang baru saja masuk kedalam kamar dan menatap kearahnya.
Ales terlihat begitu acuh, bibirnya terlihat manyun seakan tengah memasang wajah kecut. Padahal biasanya, Ales akan menghampiri Sean lebih dulu dan memeluknya erat setiap mereka baru kembali berjumpa setelah berpisah karena kewajiban kerja. Sean berakhir memanggil Ales dan menunggu sampai sang lelaki menoleh kearahnya.
"Sayang... Ales? Aku baru pulang loh, Capt". Panggil Sean lembut.
Ales hanya melirik sekilas dan berdeham. "Hmm".
Sean sontak mengerutkan keningnya. Jika dilihat dari bahasa tubuhnya, nampaknya sang pilot sedang merajuk padanya, tapi perihal apa? Sean sama sekali tidak mengerti.
"Aku mau mandi, ah". Ucap Sean sengaja, memancing sang suami untuk bereaksi, yang mana biasanya selalu berhasil menarik perhatian Ales untuk membuntutinya.
Namun sang lelaki tak bergeming dan masih terlihat mengacuhkannya. Tak sedikitpun tergerak dan menyahut. Sean sampai menyipitkan matanya guna menelisik, gadis itu kemudian mengulang kalimatnya. "Aku mau mandi loh, Capt".
Ales melirik dengan tatapan sinis. "Terus kenapa kalo kamu mau mandi?".
Sean akhirnya menyadari, suaminya itu tengah benar-benar merajuk total padanya. "Kamu tuh ngambek sama aku ya, Ales? Aku buat salah?".
Ales memilih menyibukkan diri kembali dengan IPad miliknya. "Udah kamu mandi aja sana".
Sean yang tadinya berniat mandi jadi mengurungkan niat dan langsung melepas mantel miliknya untuk mendekat kearah Ales. Gadis itu ikut naik keatas kasur dan duduk bersimpuh disamping sang lelaki, memasang gestur inosen dan gemas yang biasanya selalu melemahkan sang suami. "Kamu kenapa sih, sayang? Akunya baru pulang kok udah diambekin? Bilang dong sama aku, kan aku bingung liat kamu jutek gini".
Ales terlihat makin memanyunkan bibirnya dan tanpa sedikitpun menoleh pada Sean, ia berbicara. "Kamu seneng ya, jalan-jalan sama client CEO-Mu itu?".
Sean menatap bingung. "Revano?".
"Gak usah sebut namanya dirumah ini, saya gak suka". Balas Ales ketus.
"Terus sebutnya apa? Om?". Tanya Sean balik.
Ales beralih memelototi sang gadis. "Kamu kan suka manggil saya om? Kenapa jadi dia?".
Sean terkekeh gemas mendapati perilaku manja dari sang suami yang terlihat lucu, Sean berakhir menakup sebelah wajah Ales untuk mengajaknya berbicara. "Iya, iya, maaf. Yaudah, bilang dong ke aku, kamu marah kenapa? Kok aku pulang-pulang dicuekin gini?".
"Saya kesel". Balas Ales singkat.
Sean bertanya dengan sabar, bak meladeni anak kecil yang tengah merajuk pada sang ibu. "Kesel kenapa, sayang? Aku buat salah ya?".
"Gak tau kamu salah apa nggak, yang jelas saya kesel liat video yang beredar tadi pagi, sama foto-foto kamu di Jepang sama manusia itu". Jawab Ales.
Sean mengernyitkan keningnya. "Video? Video apa?".
Ales beralih menunjukkan layar IPadnya pada Sean, menampilkan video berdurasi sekitar 30 detik yang menampilkan Sean dan Revano di airport dengan Revano yang mengusak puncak kepala Sean sebelum sang gadis masuk kedalam mobil. Sean makin heran, ia bahkan tidak menyadari perlakuan itu sebab suasana di airport tadi pagi begitu chaos dan berdesakan.
"Aku gak ngeh, ngapain itu dia?". Tanya Sean bingung.
Ales ikut menimbrung. "Ya harusnya saya yang tanya kamu, dia ngapain? Pake usel-usel kepalamu, kayak papamu aja. Bikin saya kesel".
Sean menggeleng. "Aku gak tau. Gak ngeh sama sekali. Tadi pagi tuh rame banget, Les. Jadwalku bocor dari sehari sebelumnya dan pada standby di airport Jakarta sampai pada nginep".
"Terus ini kamu ngapain? Pake jalan berdua gini". Tanya Ales lagi sembari menunjukkan foto kedua dimana Sean terlihat berjalan beriringan dengan Revano di Jepang.
Sean terkekeh gemas. "Itu aku gak berdua, sayangku. Timku lengkap di depan, kayaknya fotonya di crop. Kebetulan Revano lagi ajak aku ngobrol, jadilah kayak jalan berduaan, padahal enggak".
"Ngobrol apa? Pake acara ngobrol segala". Balas Ales ketus.
"Ngobrolin kerjaanku, bulan depan katanya aku bakal ada campaign baru, rencananya sekalian mimpin acara launch juga di New York, sayang". Ucap Sean.
Ales terlihat makin muram. "Jalan-jalan terus ya, kamu sama dia. Kesempatan banget itu orang, pengen saya putusin kepalanya".
Sean tertawa gemas mendengarnya. "Jangan dong, kalo kamu putusin kepalanya nanti jadi buronan. Aku nanti siapa yang jagain?".
"Gak tau, fansmu kali". Balas Ales cuek.
Sean beralih merangkak dan naik keatas pangkuan Ales untuk memeluknya lebih dulu, menenangkan sang suami yang suasana hatinya masih buruk. "Jangan marah terus dong, Galessano-ku, sayang. Aku tuh kan kangen sama kamu, mau manja-manjaan habis pisah 5 hari. Masa diambekin terus? Nanti aku sedih, loh. Kalo aku sedih, anak kita ikutan sedih juga nanti diperut".
Sean kemudian melepas pelukannya dan menatap Ales, membawa serta sebelah tangan Ales untuk mengelus perut Sean yang membuncit. "Pegang dong, Papa. Anaknya sekarang udah sebesar buah jeruk, loh. Masa dicuekin sih?".
"Anak saya jangan disamain sama buah-buahan terus, kenapa sih?". Sahut Ales sebal. Sang lelaki berakhir menuruti dan mengusap perut Sean dengan lembut.
Ales berakhir menghela nafasnya dan mengecup perut Sean, membuat sang gadis tersenyum menatapi. "Maaf ya.. Papa lagi kesel, Nak. Mamamu tuh banyak banget yang suka, Papa berasa saingan sama seluruh dunia. Mana ngejarnya terang-terangan".
Sean kembali mengulas tawa. "Kan tapi bukan salah aku, Ales? Yang suka kan mereka, bukan aku". Sang gadis berakhir memaksa Ales mengadahkan wajah untuk mengecup bibir sang lelaki. "Yang aku suka kan cuma kamu. Dari dulu juga cuma kamu. Udah bukan suka lagi malah. Sayang, cinta, tergila-gila. Apa lagi ya?".
"Jangan gombalin saya, kamu. Gak mempan. Saya masih marah". Ucap Ales, masih merajuk dengan gemas.
Sean memanyunkan bibirnya. "Kok gombal, Ales? Aku nih udah mau dinikahin kamu, dihamilin duluan lagi, masa masih dibilang gombal gara-gara ngomong cinta?".
Ales akhirnya terdiam dan memejamkan matanya. "Saya pokoknya masih cemburu banget. Cemburu berat, berat banget pokoknya. Gak tau gimana ngilanginnya, pengen rasanya saya iket kamu dirumah biar gak kemana-mana. Biar gak bikin orang terpesona terus suka sama kamu".
"Mau iket aku? Mau pake apa? Dasi? Belt? Aku mau kok". Balas Sean usil, mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur untuk menggoda sang lelaki.
Ales langsung menghela nafasnya. "Kamu tau maksud saya bukan itu".
Sean kembali memasang wajah polosnya dan mulai memainkan kata-kata jeratannya. "Jadi gak mau? Padahal aku mau, loh".
Ales pada akhirnya menyerah. "Damn. Fucking menace".
———
Intinya buat mereka, apapun masalahnya, kasur adalah jalan keluarnya 🙂🙏🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomanceSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
