"Harus gue akuin, Ales emang hebat. Gue beneran kaget waktu lo bilang lo mau ambil project ini di h-2 pre production meeting". Komentar El.
Sean hanya senyum sendiri mendengarnya. Memang, perlu diakui, jika bukan karena Ales, pasti Sean saat ini sudah melupakan tawaran peran yang nilainya belasan milyar itu. Kembali meninggalkan tanah air dan pergi menuju destinasi shooting di Paris kini terasa berat, terutama saat tadi pagi, Sean harus pergi lebih dulu sebelum Ales bangun.
"Hebat lah, suami gue". Sahut Sean asal.
El membuat wajah kecut. "Najis, dasar bucin".
"Kayak lo gak aja, gimana Iren? Udah resmi belom sih lo berdua?". Tanya Sean.
Ekspresi El berubah terkejut, lelaki tersebut bahkan buru-buru menutup mulut Sean. "Sst! Ngaco nih orang. Kita lagi di penerbangan. Kalo orang denger gimana?".
Sean terkekeh. "Oh, iya. Sori, lupa gue.. Udah lama gak ngumpet-ngumpet".
Perjalanan keduanya menuju ke Paris terbilang cukup lancar. Sang gadis sempat menghela nafasnya saat pesawat mendarat, belum apa-apa, ia sudah merindukan Ales dan Gili. Entah apa yang dua manusia itu sedang lakukan sekarang, rasanya Sean ingin pulang saja ke pelukan mereka.
"Gue sampai kapan ya, El.. Kerja begini terus?". Ucap Sean secara tiba-tiba.
El berubah simpatik, lelaki tersebut bahkan menatap serius kearah Sean. "Kenapa, Sean? Lo mau udahan?".
Sean beralih menatap keluar jendela pesawat yang ia tumpangi, menatapi langit yang terlihat begitu biru diluar sana. "Gue kepikiran keluarga gue.. Kepikiran Ales, kepikiran Gili. Gue kan udah jadi ibu, apa seharusnya gue fokus urus keluarga gue aja, ya?".
Keduanya sempat terdiam selama beberapa lama, sebelum akhirnya El memilih bangkit terlebih dahulu saat penumpang sudah diperbolehkan turun. "Nanti kita ngobrolin ini ya? Sekarang turun dulu, lo butuh istirahat supaya gak drop habis penerbangan panjang".
Kamar luas tempat Sean bermukim di Paris malam ini, terasa begitu sepi tanpa kehadiran Ales maupun anak lelaki mereka, Gili. Sean hanya mampu memandangi potret keduanya di ponsel, takut mengganggu bila harus menelepon. Sang gadis kemudian memilih bebersih diri sebelum tidur, namun suara panggilan di ponselnya membuatnya terkejut dan buru-buru keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di kepala dan tubuhnya.
Ales ternyata.
"Oceana? Kok kamu gak kabarin saya udah landing?". Serbu Ales setelah Sean mengangkat panggilan tersebut.
Sean terkekeh. "Ales, aku tadi udah chat kamu.. Aku gak berani telfon, takutnya kamu lagi repot sama Gili atau lagi boboin dia".
Ales terdengar menghela nafas dari ujung sana. "Saya sampai cek flight kamu tadi, panik karena telfon sempat gak diangkat".
"Maaf, sayang. Kamu khawatir ya? Aku tadi lagi mandi, jadi gak denger". Balas Sean disertai senyuman.
Kini, Ales berdeham. "Udah pakai baju?".
Senyum jahil tercetak di wajah Sean. "Emang kenapa?".
"Mau tau aja.. Penasaran". Balas Ales singkat.
Sean tertawa mendengarnya. "Gak aku kasih tau, ah".
Sang pilot terdengar berdecak. "Ck. Kamu nih, paling jago bikin saya penasaran dari dulu".
"Belum, Capt. Aku masih handukan aja, buru-buru angkat telfon kamu soalnya". Ujar Sean lembut.
Suara telfon terdengar sunyi untuk beberapa saat, sebelum Ales menjawab. "Saya jadi pusing.. Kamu kayaknya udah lama gak panggil saya begitu..".
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomansaSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
