🔞 dikit 🤏🏻🤏🏻
Bacanya sambil dengerin To The Bone nya Pamungkas ya tolong✨
———
Sean saat ini sedang sibuk merengek, menggerakkan pinggulnya tak sabaran guna menggesek tubuh bagian bawah Ales yang menempel diatasnya, lelaki itu tengah mengurungnya agar tidak bergerak sedikitpun. Perlu sedikit kesabaran baginya menanti sampai akhirnya mereka berada diruang private, dimana Ales berakhir menggendongnya dan menaruhnya diatas kasur, tergeletak indah dan panas hanya untuk Ales.
"Les, ayo.. Aku udah nahan dari tadi, kamu juga udah keras. Kamu juga pasti kangen kan?". Rengek Sean lagi, tak henti mempersuasi Ales agar memberikan apa yamg gadis itu inginkan.
Ales menghentikan cumbuannya pada leher Sean dan berakhir menatapi wajah frustasi itu. Tersenyum manis dan mengelus kening sang gadis lembut, menyalurkan sentuhan di kening berpeluh itu.
"I'll do you, tapi malam ini, kita gak akan sampai penetrasi. Ini masih trimester pertamamu, saya gak mau kamu kenapa-napa". Balas Ales lembut.
Gadis itu memasang raut kecewanya. Namun raut itu tak berlangsung lama, karena detik selanjutnya, Ales langsung bergerak kebawah, menyasar ke salah satu titik yang sejak tadi sudah meminta perhatian sang lelaki, begitu panas dan basah dibawah sana.
Ales begitu berbeda dari biasanya, padahal Sean sudah menanti perlakuan kasar lelaki itu padanya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah sentuhan halus dan penuh cinta, mengajari tiap jengkal kulitnya akan apa itu makna dari kata sabar yang sudah menggunung.
Sean seakan tersihir, ia sampai tidak menyadari ketika satu persatu pakaiannya terlepas, menyisakan kulit memerahnya yang tersipu malu terkena sentuhan Ales. Lelaki itu berhenti sebentar setelah mengecupi satu persatu luas di permukaan kulit Sean, dan menatapi gadisnya dengan tatapan lembut, sarat akan cinta yang akhirnya bisa tersampaikan.
"Tonight, everything is about you, sayang. I'll pamper you so much". Ucap Ales, sebelum membenamkan wajahnya diantara kaki Sean yang terbuka untuknya, membuat gadis itu melenguh hebat.
Sean bersumpah, ia bagai melihat bintang saat memejamkan matanya. Sensasi dimanja dengan lidah itu, membuat seluruh tubuhnya berdenyar, menuntut untuk segera dilegakan. Sean menjambak ikal Ales spontan, merasakan dirinya akan segera menyambut puncak.
"Ah—yes. Disitu, Ales. Keep going, dikit lagi". Racau Sean saat merasakan lidah sang pilot menyentuh titik manisnya berulang kali.
Namun, seperti yang dapat diduga, melihat Sean mencengkram rambutnya kencang, Ales tahu gadisnya sudah begitu dekat dengan pelepasannya, jadi, seperti yang sudah-sudah, lelaki itu melepas cumbuannya.
"Oh—No, Nggak. Gak bisa gini, Les. Kenapa sih edging aku terus tiap kita have sex? Aku kesiksa tau, digituin terus". Omel Sean, gadis itu sampai menangis, merengek bak anak kecil yang tidak dipenuhi keinginannya.
Ales terkekeh, padahal sebenarnya lelaki itu memang punya rencana khusus akan perlakuannya malam ini. Jadi, Ales mengecup bulir airmata itu, menghapus jejak sedih di wajah Sean lembut.
"Maaf, maaf. Sebentar, saya mau ngomong". Ucap Ales, merogoh isi kantong celananya.
Gadis itu masih merengek dengan tangisannya. "Ngomongnya nanti aja, selesain dulu emang gak bisa? Harus banget ditengah-tengah aku mau keluar gini? Aku udah diujung".
Ales tersenyum miring. "Harus sekarang, biar kamu jawab iya".
Sean mengerutkan keningnya, terheran saat Ales mengeluarkan kotak biru itu, yang sudah pernah Sean lihat sebelumnya. Lelaki itu membuka kotak biru berisikan cincin dan menatap penuh arti pada sang gadis.
"Les? Kamu gak mau lamar aku sekarang kan? Aku lagi telanjang bulet, posisinya begini lagi. Jangan gila kamu". Omel Sean dengan tatapan kesal.
Ales tak mampu menahan tawanya. "Loh, justru jadi romantis kan?". Lelaki itu kemudian berlutut menumpukan beban tubuhnya pada kedua siku, menahan agar tidak membebani tubuh Sean dengan bobotnya dan menatap mata itu dalam. "Marry me, Oceana Algae Natalia, my personal lover, my one dream, my happy ending. Be my forever. Jadi istri saya".
"Galessano Pradikta! Yang bener aja? Kamu beneran minta aku jawab sekarang? Dalam kondisi gini?". Omel Sean lagi, tak percaya dengan perilaku absurd lelaki diatasnya.
Ales terkekeh usil. "Emang kamu doang yang bisa usil? Saya juga bisa. Kalo kamu jawab iya, saya lanjutin yang tadi, kalo enggak, kita tidur aja pokoknya, saya ngambek".
Sean menjambak rambutnya frustasi. "Pilihan apaan itu? Enak di kamu semua".
"Ya gak enak lah, kan malem ini saya yang enakin kamu, saya nya enggak enak. Cuma kayaknya ini cara paling efektif biar kamu bilang iya. Pakai cara serius fancy dining sewa satu restoran gak mempan buat kamu". Balas Ales lagi.
Sean pada akhirnya tertawa, menertawai keanehan lelaki yang sudah ia pilih untuk menambatkan hati selamanya. "Aneh banget sih kamu, Ales. Kadang aku bingung kenapa mau sama kamu".
"Karena kamu cinta banget sama saya, akuin aja udah. You have to say yes, sayang". Ucap Ales sebelum mengecup sudut bibir Sean lembut.
Sean berakhir tersenyum, gadis itu kembali mengalungkan lengannya di leher sang lelaki, menatapi kotak cincin di genggaman Ales dengan lekat. "Sebenernya, gara-gara kita pisah kemarin, aku memang jadi sadar sih, Ales. Kalo aku mungkin emang gak bisa lepas dari kamu. You are my medicine, tanpa kamu aku hancur. Rasanya sakit, seluruh jengkal tubuhku kangen kamu, apalagi hatiku. Entah, mungkin si jiwa mungil di badanku juga kangen kamu. Mungkin dia yang pada akhirnya menyatukan kita lagi, Les".
Ales melihat bagaimana mata Sean tergenang dengan airmata, dan berupaya menghapusnya saat sebulir terjatuh di sisi pipi gadis itu. "Jadi, naif rasanya buat aku kalo bilang gak perlu kamu, apalagi bisa hidup tanpa kamu. Aku gak akan bisa, aku perlu kamu, Ales. I want you in my life, now or forever".
Ales tersenyum mendengar kata-kata indah itu menghiasi indera pendengarannya. "Jadi? Jawabannya?".
Sean akhirnya tergelak, namun airmata tak henti berjatuhan di pipinya. "Yes, Ales. I want to marry you. I want to spend my whole life with you, husband". Sean tidak kuat menahan lebih lama untuk tidak menarik tengkuk Ales mendekat dan mempersatukan bibir mereka, memagut dengan penuh rindu dan rasa cinta yang meluap.
Tanpa disadari, Sean merasakan setetes airmata jatuh di pipinya, tapi ia yakin itu bukan miliknya. Airmata itu milik Ales, yang kini terseguk, menyatukan kening kepala mereka dan berucap penuh segukan.
"Finally, she said yes. God, thank you. Penantian saya akhirnya berujung. Finally, you both are mine for an entire life". Ucap Ales bersyukur, masih memejamkan kedua matanya.
Lama mereka saling berpelukan, membiarkan tangis itu pecah diantara mereka, merasakan kebahagiaan yang menjalar tak henti di hati masing-masing. Hingga akhirnya Sean lebih dulu memecah kesunyian itu saat tangisan mereka mulai terhenti.
"Gak jadi dilanjutin nih? Kan aku udah jawab iya". Ucap gadis itu polos.
Ales tertawa mendengarnya dan berangsur turun, bersiap memberi hadiah pada sang gadis sesuai dengan janjinya. "Horny brat, always been my horny brat".
———
🤍🤍🤍🤍😭😭😭🤍🤍🤍🤍
Akhirnya mau nikah juga ini dua manusia setelah perjuangan panjang, ak terharu nulisnya, kek berasa ikutan perjuangin mereka dari 0 wkwkwk🥲
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomanceSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
