Chapter 8 - Seoul, Where It Was

4.8K 202 41
                                        

Destinasi kedua bagi Sean dan Ales di acara jalan-jalan keliling dunia sekaligus menemani Ales bekerja adalah Seoul. Sebuah kota di Korea Selatan yang sarat akan keindahannya. Kali ini mereka tidak berada dalam satu penerbangan, sengaja guna menghindari sadarnya publik dengan kebersamaan mereka.

Ales yang sudah tiba duluan sejak pagi jadi punya waktu beristirahat sebentar. Maklum, semenjak baru resmi kembali bersama dengan Sean, kegiatan mereka tidak jauh dari yang berkaitan dengan keringat dan ranjang (atau kamar mandi dan dapur). Lelaki itu memilih keluar di sore hari, berjalan-jalan dan makan bersama crew lain yang penginapannya tak jauh darinya.

Ales yang sore itu berpakaian rapi sampai membuat beberapa crew perempuan tersipu melihatnya, lelaki itu bahkan dengan cueknya tidak menyadari. Sebagian di meja itu memang sudah berkeluarga, terutama para lelakinya, hanya Ales yang sampai sekarang masih berstatus belum menikah, sampai membuat hampir seluruh crew penerbangan yang kenal dengannya geleng-geleng kepala lantaran agak tidak mungkin orang seperti Ales menjomblo sampai selama itu.

"Wah pusing saya Capt, istri penginnya saya gak terbang tiap hari, tapi namanya traffic lagi tinggi ya, alhasil didiemin sebelum berangkat kemarin". Cerita Bona, salah satu crew pesawat yang bertugas sebagai pramugara.

Ales tertawa mendengarnya. "Kenapa gak kamu ajak aja?".

"Wah boncos saya kalo ajak dia terus, Capt. Udah mahal, jajannya banyak. Mending dirumah aja deh". Balas Bona.

Tawa bersambut dengan jawavan Bona tadi, sahutan lain berselang diantara mereka. "Capt. Ales belum punya istri sih, kalo udah nanti ngerasain deh pusingnya".

"Iya nih, Capt. Ales kapan bagi-bagi undangan? Masa iya sampai sekarang belum pengen nikah?". Tanya salah seorang lagi.

Ales sampai tersedak mendengar celotehan di sekitarnya, ia mengelap bibirnya sejenak dan menjawab dengan tenang. "Sebenernya pengen, cuma calon saya belum mau".

Semua yang hadir disana bergantian tersedak, mereka sampai saling menepuk punggung disebelahnya agar tidak lagi terbatuk. Beberapa dari mereka saling berpandangan, seakan tak percaya.

"Jadi bener Capt Ales udah punya pacar?! Wah pantes sekarang banyak senyum". Seru Gian, Copilot yang menemani perjalanan Ales ke Seoul.

Ales sampai celingukan. "Memang kenapa, sih? Kok saya jadi takut salah ngomong".

"Wah, aneh banget Alinea, Capt. Ales kurang apa? Udah muda, tampan, sukses, dari keluarga terpandang pula. Masih aja ragu, mana itu anaknya gak ikut flight?". Seru Gian lagi.

Ales langsung terkekeh. "Kayaknya selama ini ada salah paham nih, tapi yang saya maksud calon saya itu bukan Alinea".

Semua netra disana memaku pada Ales, seakan menuntut klarifikasi. Yang dimintai klarifikasi hanya tersenyum sembari menenggak kopinya. "Alinea memang perempuan hebat, idaman juga. Tapi hubungan kami gak lebih dari rekan kerja aja. Calon saya sendiri bukan dari dunia penerbangan".

Ramai disana mengaduh, nampak menyayangkan karena pasangan yang mereka gadang-gadangkan ternyata tidak berlabuh.

"Wah, secantik dan sesempurna apa ini calon Capt. Ales kalo Alinea aja lewat?". Seru Gian lagi.

Salah seorang lagi menyahut. "Ah, wong Capt. Alesnya aja begitu bentuknya, udah pasti calonnya macam malaikat".

Ales hanya mampu tersenyum untuk menjawab pertanyaan itu, tak kunjung memberitahu siapa maksudnya. Tentu saja karena tidak bisa, sama sekali bukan karena ia tidak mau.

"Jadi kapan nih, kita dikenalin?". Tanya Gian lagi.

Ales melirik kearah Gian sebelum kembali tersenyum. "Nanti, kalau dia sudah mau di publikasi".

DEPARTURE TIME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang