Kejadiannya ceritanya sesudah ada Leci ya!
Ketiga manusia itu tengah menghabiskan waktu bersama di ruang main milik Gili dan Leci, ditemani dengan Sean yang mengawasi keduanya sembari ikut menemani kedua anaknya bermain. Sesungguhnya, mereka tengah menanti Ales yang kabarnya sebentar lagi sampai dirumah setelah perjalanan domestik ke Pekanbaru.
"Eci, no no!". Ucap Gili pada Leci dengan bibir dimanyunkan, hal itu disebabkan karena sang adik yang mencoba menggigit tangan Gili dengan gusi ompongnya.
Leci yang tengah duduk jadi tertawa sampai cegukan, bayi perempuan itu kemudian gantian memasukkan jari telunjuknya sendiri ke mulut, nampaknya akibat gusi yang tengah gatal-gatalnya karena mau tumbuh gigi.
Sean yang tengah memperhatikan jadi tertawa sendiri dengan kelakuan dua manusia kecil di hadapannya. "Leci gusinya gatel ya sayang? Nanti Mama ambilin teether ya, biar bisa gigit gigit".
Gili mengerutkan keningnya. "Eci why Mama?".
Sean mengalihkan pandangannya pada anak lelakinya. "Leci mau tumbuh gigi, sayang, makanya suka gigit-gigit. Dulu Gili juga gitu kok".
"Wah, lagi pada ngumpul disini ternyata, Papa panggilin dari tadi loh". Suara baritone itu membuat ketiga manusia tadi menoleh.
Gili adalah yang pertama bangkit dan menghampiri. "Papayes!".
"Papa pulang, Bos". Balas Ales sembari berlutut untuk memeluk dan mengecupi Pipi Gili.
Langkah mungil itu kemudian diikuti dengan Leci yang merangkak menuju sang Papa dan membuka tangannya agar digendong, Ales yang melihatnya langsung menggendong figur mungil itu. "Halo, cantik Papa. Kok makin cantik aja ini Papa baru gak liat 4 hari?".
Dua manusia itu langsung asik sendiri, dengan Ales yang tak henti mengecupi pipi Leci dan sang bayi yang tertawa lepas. Sean memperhatikan dari tempatnya, tersenyum dan merasakan hangat di hatinya, kebahagiaannya lengkap sudah. Hingga tiba-tiba Gili mengecup bibirnya, membuatnya terkejut. Anak lelakinya itu tersenyum dengan gigi yang belum lengkap, rupanya ia sejak tadi memperhatikan sang Mama yang ditinggal sendiri.
"Kok Mama tiba-tiba di kiss?". Tanya Sean pada Gili.
"Mama no no sad ya". Balas Gili lucu sembari mengacungkan jari telunjuknya pada Sean seperti memperingatkan.
Sean tertawa mendengarnya. Gili memang seorang anak yang peka dengan sekitarnya, dan sepertinya tadi Sean tanpa sengaja menunjukkan ekspresi haru dihadapannya. "Mama gak sad, sayang. Mama happy banget kok".
"Mama happy?". Tanya Gili lagi.
Sean tersenyum. "Happy, sayang. Ada Gili, Leci, Papa. Mama happy sekali".
Gili ikut tersenyum karenanya dan memanggil sang Papa. "Papayes!".
Ales yang tengah sibuk bercanda dengan Leci jadi menoleh. "Apa, bos?".
"Papa kiss Mama". Ucap Gili pada Ales sembari menunjuk Sean. "Gili dah kiss". Sambung sang anak bak tengah laporan.
Ales tersenyum, kemudian menuruti, berjalan mendekat dan berlutut didepan Sean untuk menciumnya. Sebelumnya, Ales menakup wajah Sean dan mengelus pipi sang istri dengan ibu jarinya. "Saya pulang, sayang".
Leci yang masih ada di gendongan Ales jadi memperhatikan ketika Ales mencium Sean, kemudian merengek dan berakhir menutup bibir Ales. Gadis kecil itu sepertinya sangat protektif pada sang Papa.
Ales meraih jemari kecil yang menutupi bibirnya. "Kenapa, cantik? Papa gak boleh cium Mama?".
Leci menggeleng sambil terus merengek seakan tak memperbolehkan. Lucu sekali melihatnya merengek, seperti melihat Sean versi mini dengan pipi tembamnya.
Sean kemudian mencolek lengan Leci, berupaya merebut atensinya. "Ih, kenapa sih? Masa Papa gak boleh cium Mama? Kan Papa punya Mama".
Leci makin gencar merengek, kemudian menarik-narik baju yang Ales kenakan seperti tengah protes, membuat Ales tertawa kegemasan. "Iya, iya. Papa bolehnya cium Leci aja ya? Yaudah, jangan marah-marah dong, cantik".
Sean sebal sendiri melihat kelakuan anaknya yang perlu diakui persis dirinya. "Ih, dasar, masih kecil udah cemburuan".
"Kayak siapa?". Goda Ales.
Sean melotot pada sang penanya. "Ya kamu lah".
"Masa sih? Perasaan mirip kamu kalo liat saya ngobrol sama perempuan lain". Balas Ales, terus menggoda.
Sean mendengus sebal. "Udah ah, Mama sama Gili aja".
———
Walau butuh perjuangan panjang, pada akhirnya, dua bayi itu akhirnya tidur siang juga. Dengan Ales yang menimang Leci hingga akhirnya tertidur, dan Sean yang membacakan dongeng untuk Gili. Sean baru saja masuk kamar saat melihat Ales sudah berganti berpakaian dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Udah mandi aja kamu?". Tanya Sean pada Ales.
Ales menoleh. "Iya, gerah dari tadi pake seragam, cuma gak bisa ganti karena Leci gak mau dilepas".
Sean menunjukkan cemberutnya. "Aku sebel deh sama kamu, Ales".
Ales mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa? Saya bikin salah?".
Sean menyilangkan tangannya didada. "Tadi, waktu baru pulang, kalo Gili gak nyuruh kamu cium aku, aku dicuekin aja. Semenjak punya anak, yang kamu peluk sama cium tiap baru pulang cuma anakmu, bukan aku lagi".
Ales senyum-senyum sendiri, ia bersumpah, tingkat kegemasan Sean yang tengah merajuk manja seperti ini membuatnya ingin sekali ia abadikan. "Kok gitu mikirnya, sayang?".
Sean makin merajuk. "Ya, iya. Dulu, kamu pasti cium aku dulu setiap baru mau berangkat atau baru pulang. Sekarang, aku belakangan, atau bahkan pernah gak sama sekali".
Ales tak lagi sanggup menahan tawanya. Lelaki itu kemudian tertawa hingga menunduk, membuat Sean makin sewot. "Kok malah diketawain sih, Ales? Lucu ya buat kamu?".
Sean sontak melengos dan memilih naik keatas kasur dan mengurung dirinya dibawah selimut, merasa kesal karena kegelisahannya ditertawakan. Sedetik kemudian, Ales ikut bergabung kedalam selimut, memeluk Sean dari belakang dan mengecup pundaknya beberapa kali. "Maaf, maaf. Lucu banget abis saya gak tahan kalo kamu cemburu begini. Dulu padahal kamu suka ledekin saya karena suka cemburu kalo liat kamu sama Gili. Sekarang gantian gini, jadi gemes saya".
"Terserah kamu lah, Les". Gerutu Sean kesal.
Ales kemudian beralih menghujani Sean dengan kecupan di wajahnya. "Maaf, cantik saya, kamu tetap nomor satu kok buat saya. Gak ada yang bakalan ngalahin. Maaf kalo kesannya jadi lupa sama kamu, cuma saya tuh gak merhatiin, mana aja yang udah saya cium kalo saya baru berangkat atau baru pulang. Toh, endingnya pasti juga ke kamu, saya udah paling bucin sama kamu doang, Oceana".
Sean melirik kearah Ales. "Ngakuin juga akhirnya kalo kamu bucin?".
"Iya, saya akuin kok. Saya gak mau kalah bucin sama fans-fansmu". Balas Ales.
Sean mengulum senyum, mencoba menahannya agar tak terlihat. Namun, Ales malah menggodanya. "Senyum aja, jangan ditahan-tahan. Entar saya makan kamu".
"Cium aja akunya, jangan dimakan sekarang, nanti anak-anak bangun, kamu marah lagi karena tanggung". Balas Sean, memicu tawa dari keduanya.
Dan dibalik selimut itu, mereka berbagi tawa dan cinta, merayakan kebersamaan yang akan terus berlanjut sampai keduanya menua nanti.
🤍🤍🤍
———
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPARTURE TIME
RomanceSebuah lanjutan perjalanan cinta dari Ales, Captain Pilot penerbangan pesawat komersial ternama dan Oceana, artis kelas dunia mempertahankan cinta mereka. Ditengah cinta yang hampir berlabuh, selalu ada cobaan yang menanti. Entah cobaan itu berasal...
