"Nat, lo mending mundur."
Nathan mendongak dari layar ponselnya, menggerakkan kursi untuk menjauh dari meja. "Gini?"
"Anjing goblok banget."
Jeno tak dapat menahan umpatan begitu sosok lain di sisinya benar-benar memundurkan kursi sesuai instruksi yang diberikan Haikal. Rendra sibuk terbahak kencang, memandang Nathan tak habis pikir karena mencerna perintah Haikal secara mentah-mentah. Haikal tak kalah mengumpat, memandang Nathan yang balas memandangnya malas.
"Lo ngomong tuh yang jelas," ujar Nathan tak kalah kelas, "tiba-tiba gak ada dasar gak ada pembukaan nyuruh mundur, mundur apaan."
"Gue kasih tau tapi lo jangan kaget ya," kata Haikal pemberikan peringatan, "kayaknya Hessa sama Lia udah jadian."
Baru saja meredakan tawa, Rendra sudah tersedak oleh teh lemon yang ia pesan. Pemuda itu melebarkan mata terkejut, menoleh pada Haikal aneh tak percaya. Tak kalah terkejut, Jeno juga menoleh setelah terbatuk pelan, memandang Haikal dan Nathan bergantian sebelum akhirnya membuang wajah pada pemandangan di luar cafe.
"Gak bakal lah," jawab Nathan santai, "kalau udah jadian, Hessa sibuk pamer kalik sama gue."
"Anjir, lo sebestie itu sama Hessa sekarang sampai saling curhat?" tanya Rendra menangkap maksud lain dari kalimat Nathan. "Bisa-bisanya."
Haikal berdecak tak santai. "Serius, Nat, tadi gue lihat sendiri mereka di depan kelas saling pandang dalem terus ngomong kayak i love you i love you gitu."
"Mereka ciuman?"
"Emang kalau pacaran harus ciuman?" Rendra melontarkan pertanyaan dengan wajah aneh dan bingung.
Kedua bahu Nathan terangkat bersamaan tak tau juga karena memang tadi hanya menyeletuk asal untuk menutup mulut Haikal. Beberapa detik Nathan dan Rendra hanya saling pandang sampai wajah keduanya bergerak bersamaan menoleh pada Jeno. Pemuda dengan garis wajah bule tajam itu mengangkat alis bingung, membiarkan hening untuk beberapa saat sampai akhirnya berdeham pelan.
"Rahasia dapur, gak usah tau lo pada."
Sorakan kecewa terdengar bersamaan dari Nathan dan Rendra, namun keduanya jadi sama-sama menoleh pada Haikal yang tampak tenang.
"Gue pernah sih nyoba, tapi berakhir ditonjok Raya."
Rendra terbahak paling kencang receh. "Emang deserve sih."
"Raya ngeri juga ya," gumam Jeno pelan, "kalau gue sih digampar," kata cowok itu pada akhirnya.
Nahan dan Rendra semakin terkekeh puas. Menggeleng tak habis pikir pada Haikal dan Rendra yang sudah saling pandang miris. Namun di antara keramaian itu, otak Nathan justru melayang pada malam di mana ia mengakui perasannya pada Lia, bagaimana respons gadis itu saat mendengar Nathan tengah menaruh hati pada seorang gadi, dan apa yang Lia katakan saat itu berhasil membuat seluruh pola pikirnya berubah.
"Gue udah bilang sama Lia gue suka dia," kata pemuda itu membuat keadaan kembali hening, fokus padanya, "tapi ya belum secara langsung."
"Terus?" Jeno memilih bertanya karena Rendra dan Haikal sama-sama memilih bungkam, takut menyahut.
"Dia bilang gue masih SMA, jangan jatuh cinta sedalem itu."
Rendra mengangguk setuju. "Bener sih, logika dia main."
"Bener, Nat, nurut sama Lia," kata Haikal tiba-tiba menggebu, "udah mending lo lupain masalah Lia, cari cewek baru."
"Kalau bisa mah gue juga gitu, Kal," balas Nathan berat, "dari sisi mana pun suka sama Lia tuh hal paling bego tau gak? Udah saingan sama cowok yang sahabatan sama dia dari kecil, ketemu sikap nih cewek yang mandiri-nya minta ampun, baik ke semua orang, iye-iye aja. Bener kata Hessa, banyak makan ati."
KAMU SEDANG MEMBACA
Win Crown
Roman pour AdolescentsRated: 15+ Mentahan cover from Pinterest Dialy life from XI-IPA5. Tentang 12 siswa laki-laki dengan 6 siswa perempuan dan kisah SMA mereka. Kalau kamu tanya apakah ini cerita tentang Ketua OSIS yang jatuh cinta? Mungkin saja. Kalau kamu tanya apakah...
