”Nathan?”
Gadis cantik itu mengangguk berharap. Chaerra tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya menolehkan kepala ke dalam kelas, melirik ke bangku paling belakang pada baris dekat pintu yang tampak kosong. Gadis dengan rambut di bawah itu berdecak pelan, merasa kemauan gadis di hadapannya ini cukup sulit.
”Yang lain mau gak? Ada Lia, nama dia baru aja diumumin buat penyumbang mendali olimpiade Biologi. Dari kelas X anaknya juga udah nyumbang nama buat keikutsertaan olim Fisika.”
Mina sama-sama berdecak kecil. ”Gue udah coba usulin nama lain, Chaer, tapi ditolak sama ketuanya, katanya nama yang lagi naik Nathan. Terus tema Majalah buat semester ini juga tentang Gelar Seni sama Wisata Edukasi-nya kelas XI, jadi ya harus ke sumber terpercayanya langsung.”
“Ketua lo siapa sih?”
”Eri.“
Chaerra mengumpat spontan. ”Pantes, emang suka ngada-ngada sih tuh anak.”
”Ya makannya kan,” balas Mina jadi kesal, ”gue udah coba nawarin Hessa atau Ardi aja yang lebih gampang karena emang gue ada kontak mereka, tapi Eri kekeh banget buat masukin Nathan, mana gue yang bagian ngeliput informan kan anjing banget.”
”Redaksi gak ada yang dari anak sini aja ya, Na?” tanya Chaerra menunjuk ke dalam kelas bermaksud memberikan kode untuk kata anak sini yang baru saja ia maksudkan. ”Nathan agak jaga kandang soalnya, susah dia kalau gak sama anak sini atau anak inti OSIS.”
”Gak ada, Chaerra,” jawab Mina setengah merengek putus asa, “kalau ada, mana mungkin gue repot-repot datengin lo minta tolong. Kelas lo coba tawarin, siapa tau ada yang mau gabung Redaksi, bakal lebih gampang dan ngebantu banget sih apalagi emang rata-rata anak sini famous.”
”Bentar deh bentar. Mau nunggu dalem atau nunggu sini aja?”
”Nunggu sini aja.”
Jawaban cepat yang diberikan oleh Mina membuat Chaerra mengangguk paham. Gadis 165cm itu segera menggerakkan kaki ke belakang tempat anak-anak cowok biasanya berkumpul lesehan. Ada Nathan, Hessa, Jeiden, Xafier, dan Hadi yang duduk sejajar berhadapan dengan Soni, Yuda, Yoga, Hadi, dan William.
”Nat.”
Seluruh orang menoleh bersamaan, mengalihkan wajah dari dari layar ponsel. Nathan mendongak bingung, mengangkat dagunya bertanya tanpa bicara sepatah katapun. Yang lain juga jadi kembali menunduk menggerakkan jemari pada ponsel kompak mengabaikan Chaerra.
”Ada anak Redaksi nyari, katanya mau ngeliput lo.”
Nathan mengedipkan mata beberapa kali tak berminat. ”Orangnya udah chat gue semalem, tapi cuman gue liat doang kan harusnya udah tau artinya apa.“
Penjelasan Nathan cukup membuat Chaerra mengerti kenapa Mina lebih memilih menghubunginya untuk meminta tolong daripada langsung datang menemui pemuda ini. Gadis dengan wajah galak itu berdecak, memajukan kaki menendang paha Nathan yang duduk terlipat membuat Nathan mengumpat pelan. Mata tajam cowok itu yang ingin kembali fokus pada layar ponsel mau tak mau kembali mendongak malas.
”Apa sih Chaer?”
”Lo jangan nyusahin kerjaan orang deh, mau dapet karma disusahin kerjaan lo,” omel Chaerra pedas, “temuin dulu, dengerin penjelasannya, Ketua OSIS harus jadi panutan.”
”Suruh nemuin-”
”Lo temuin atau gue sita hp-hp lo pada.”
Semua orang kembali melirik tajam, menoleh pada Chaerra memprotes melalui ekspresi wajah tak suka. Gadis dengan rambut di bawah bahu itu sidah melipat tangan di depan dada mendongakkan dagu tak takut, melotot terutama pada Jeiden dan William yang tampak terang-terangan mengibarkan bendera perang. Jeiden berdecak, ikut memajukan kaki melewati tubuh Hessa mengenai Nathan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Win Crown
Novela JuvenilRated: 15+ Mentahan cover from Pinterest Dialy life from XI-IPA5. Tentang 12 siswa laki-laki dengan 6 siswa perempuan dan kisah SMA mereka. Kalau kamu tanya apakah ini cerita tentang Ketua OSIS yang jatuh cinta? Mungkin saja. Kalau kamu tanya apakah...
