56. Manusia Buaya dan Manusia Goa

263 43 8
                                        

”Orang dingin kalau bucin beneran bikin gila.”

Chaerra mengikuti arah pandang Chacha di mana Yoga dan Katharina duduk di bangku kantin yang sama, tak jauh dari sana juga ada kumpulan cowok-cowok IPA5 dengan Juna sebagai pemimpin sudah menaikkan kaki ke meja dengan gitar di tangannya sok konser. Eli ikut mendongak pelan, tapi berikutnya memilih fokus pada makanan tak terlalu ingin membuka suara. Berbeda dengan Eli, Arina memilih bergumam menyangga dagu dengan telapak tangannya.

”Pengen deh pacaran sama Yoga, Katharina keliatan disayang banget,” gumam gadis cantik itu meratapi nasib, ”kemarin gue jalan sama Juna masak gue yang disuruh ambil motor karena parkiran penuh gerombolan cowok, kan kurang ajar.”

Wajah serius Chacha dalam sekejab berubah jadi tawa keras membuat beberapa pasang mata menoleh ke bangku mereka. Lia dengan kesal menarik gadis itu, agar tak memukul-mukul meja rusuh karena terbahak. Chaerra tak dapat menahan kekehannya, membayangkan dua orang paling random di kelas itu saling dorong memakankan satu sama lain untuk mengambil motor.

”Kalau jadi lo, udah gue tendang jauh-jauh sih si Juna,” balas Chaerra menunjuk Arina dengan sendok di tangannya, ”cowok masak mentalnya mental yupi.”

”Mau mental baja sama Jeiden, Rin,” saran Senya bergurau, ”mau lo banting, lo pukul, lo dorong dari lantai sepuluh, selama lo punya wajah cantik yakin deh dia gak bakal kabur. Gue curiga deh gimana rasanya pacaran sama Jeiden sampek banyak banget yang mau sama dia?”

”Lo pengen?” tanya Chaerra mendongakkan wajah, memandang gadis mungil di sisinya yang segera mengangguk antusias.

Chaerra bangkit, berjalan dari bangkunya menuju bangku gerombolan cowok IPA5 yang kini sudah bertambah anggota dengan anak-anak dari IPS1. Senya mengembangkan senyum, merasa keinginannya akan terwujud dengan mudah sembari menyangga dagu dengan telapak tangan. Berbeda dengan gadis mungil yang tampak riang, Chacha dan Arina justru menjatuhkan bibir bawah kagum.

”Chaerra nih kalau suka cowok, pasti tipe yang cowoknya langsung disamperin kek ngelabrak,” kata Lia santai, memandang kepergian gadis semampai itu tenang.

”Aura bossy banget,” cicit Eli ikut mengalihkan mata dari makanan.

Semua mata beralih ke arah Senya yang tengah menyeruput es teh tanpa beban. Setelah melihat Chaerra di depan sana tampak berbincang dengan Jeiden nyolot satu sama lain, gadis semampai itu berhasil juga membawa cowok jangkung sok ganteng dengan cara berjalan bak model di karpet merah tersebut di belakang tubuhnya. Jeiden menghela nafas pasrah, mau tak mau mengekor juga.

”Kenapa?” tanya Jeiden judes, mengangkat dagu pada Senya.

”Gue mau jadi pacar lo.”

”Hah?”

Senya mengangguk antusias, mengabaikan wajah tampan Jeiden yang berubah 90° karena kebingungan. ”24 jam aja, Jei, mau ya?”

”Lo ngomong apa sih?”

Gadis mungil dengan rambut sebahu itu berdecak malas, memandang Jeiden tak bersahabatlah begitupun sebaliknya. Chacha, Lia, Arina, dan Eli hanya saling pandang, tak ingin menyahut atau menyela membiarkan dua orang itu saling bingung. Lagipula, mereka juga sama-sama heran dengan keinginan mendadak Senya. Masih wajar Arina yang ingin merasakan pacaran dengan Yoga daripada Senya yang ingin pacaran dengan Jeiden.

”Jeiden, mau gak jadi pacar Senya?”

Jeiden semakin mengerutkan alis heran. ”Lo mau pacaran sama gue?” ulangnya menunjuk diri sendiri.

Senya mengangguk semangat.

”Pacaran sama William aja, Nya,” jawab Jeiden jadi lebih ringan, ”sama aja rasanya.”

Win CrownTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang