18 [Rasa]

429 59 12
                                        

Halo halo, mau tes ombak, ini apakah masih ada penghuni atau manusia yang menunggu update-an ulang Paramitha? atau sudah lenyap?

Tapi tidak papa, kita up lagi bertahap karena cerita sebelah sudah menuju tamat...
Selamat membaca, yeorobunn!!!

Selamat membaca, yeorobunn!!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Apa mimpimu, putraku?"

Ada satu pertanyaan yang tidak pernah bosan ditanyakan dan jawabannya akan selalu sama. Agnibhaya merasa tidak ada yang salah dengan mimpinya. Sebab itulah yang paling mulia baginya. Bukan tahta, bukan harta, bukan pula kehormatan dengan ribuan pengikut setia. Pantas atau tidak, yang Agnibhaya pelajari dari sosok hebat di hadapannya saat ini adalah pengabdian.

Suatu ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir Maharaja Ken Arok kepada putra kesayangannya, Agnibhaya. Maksud hati ingin mengetahui seberapa jauh ambisi Agnibhaya untuk menggantikan posisinya sebagai Maharaja Kerajaan Tumapel. Melainkan jawaban lain justru membuatnya kian bertanya-tanya.

"Hamba ingin menjadi Ksatria!"

"Hanya ksatria dan bukannya raja?"

Anak itu tersenyum tenang. "Pada dasarnya para ksatria hebat Tumapel dipimpin oleh ksatria terhebat, yaitu Arok. Tanpa mereka menyadari bahwasanya, pemimpin mereka kelak menjadi Maharaja serta memperluas wilayah. Maka, hamba hanya ingin meneruskan jalannya sebagai keturunannya."

Ken Arok terperangah mendengar jawaban putranya. Menatap pada seorang Resi yang menunduk dalam sebagai bukti rasa hormatnya pada sang Maharaja. Menjalankan perintah dengan mendidik para pangeran menjadi pribadi yang lebih baik adalah tugasnya.

Tapi, tentang apa yang akan muridnya lontarkan, bukan menjadi tanggungjawabnya. Cerdas dan bijak adalah dua hal yang tidak bisa disamakan.

Alih-alih berambisi menjajaki tanta tertinggi sebuah hirarki, Agnibhaya justru mengikuti jejak seorang Ksatria yang bahkan tercipta dari seorang pencuri. Ksatria yang konon katanya hebat, kini mulai terlupakan keberadaannya. Tidak ada yang mengingatnya demikian. Tidak ada yang mengingatnya sebagai Arok, sebab sosok itu kini lebih dikenal sebagai Sri Rangga Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi.

☆*:.。..。.:*☆

"Bagaimana keadaan Narapati?"

Pertanyaan Mahisa tampak cemas menatap lekat wajah pucat bayi di sisi selirnya. Hatinya seperti teriris dengan hal itu. Sementara Kinanti hanya diam menatap bayinya yang terlelap. Wajahnya tampak lelah, sarat akan kekhawatiran yang sama. Seorang ibu yang hanya memiliki buah hatinya di dunia yang kejam ini.

Rawina menyaksikannya. Bagaimana cinta itu hadir hanya pada satu pihaknya saja. Mereka tersesat akan perasaan mereka. Takdir menghalangi mereka, memperumit garis merah yang ada. Sampai mereka sendiri sukar untuk mengurainya. Sejatinya, cinta di dunia ini bukanlah jaminan bagi seseorang menafsirkan apa yang terjadi pada hidupnya. Apakah ia tengah bahagia dan mensyukurinya? atau mereka diam-diam tersiksa dan terus mengutuk takdir yang ada.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang