Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat Membaca ☆*:.。..。.:*☆
Terlepas dari apa yang sudah digariskan untuk mereka. Sekental apapun darah mengalir dalam tubuh para pangeran negeri agung itu. Yang salah tetap salah, yang merasa benar akan selalu merasa demikian. Maka, hubungan yang semula tampak hangat nan bahagia semasa kecil dan remaja mereka, berubah menjadi dingin cenderung asing.
Mereka mulai meragu. Sudahkan mereka saling mengenal satu sama lain? Kurangkah kebersamaan mereka? Hingga rasa kecewa itu masih tampak kentara.
Meski demikian, tak satupun dari Ken Dedes ataupun Ken Umang dapat menghentikan mereka serta mengembalikan keadaan yang ada. Sudah terjadi, memang mungkin ini karma atas dosa yang sudah mereka lakukan di masa lalu. Kedua wanita utama keraton agung Tumapel itu hanya diam di tempat masing-masing, memikirkan bagaimana waktu akan menggiring anak-anak mereka ke ujung takdir.
Di antara keduanya, sakit mendalam dirasakan oleh Ken Dedes. Sedangkan, sesal dan ketakutan sepenuhnya ada dalam lubuk hati Ken Umang.
Dua wanita yang pernah menjadi ratu di kerajaan yang dibesarkan oleh Ranggah Rajasa itu menatap ke depan. Pada pemandangan yang berbeda. Ken Dedes, di atas tahta putranya didampingi penasihatnya, Pranaraja, memandang pada bawahannya yang bersumpah setia pada Maharaja Anusapati. Sementara Ken Umang, dari paviliunnya memandang pada bangunan batu yang tersusun sebagai bukti kasih suaminya.
Bentuk kasih yang berbeda itu adalah cara Sri Ranggah Rajasa memahami isi pikiran kedua istrinya. Ken Dedes dengan status, kecerdasan dan kekuasaannya. Ken Umang dengan kemurnian hatinya.
Sampai kapanpun, pandangan mereka berdua takkan sejalan. Ken Dedes tidak akan tahu posisi sebagai Ken Umang, pun sebaliknya. Alih-alih kasta yang menjadi sebab utama perbedaan mereka, melainkan sebab keyakinan dan cara Ken Arok memperlihatkan dunia.
Ken Dedes ingat, Tunggul Ametung bisa meratukannya. Memberinya harta kemewahan dan kasih sayang. Namun, Ken Arok memberi makan egonya. Singgasananya yang tertutup tirai mulai disingkap. Nareswari yang hanya menyimak, mulai diberi kesempatan untuk bicara. Wanita yang digadang hanya dinikahi untuk melahirkan calon Raja Jawa, justru berkontribusi dalam sebuah urusan negara. Ken Arok memberikan kesempatan bagi Ken Dedes untuk belajar, untuk memperluas cara pandangnya tentang pemerintahan. Mengajarinya banyak hal, termasuk tentang rakyat kecil yang selama ini menemani perjalanan hidup suaminya. Ken Dedes pikir, Ken Arok hanya sebuah gambaran dari ego sesaat, tapi Ken Arok melakukan lebih dari apa yang ada di pikirannya.
Dari sudut pandang lain. Ken Umang tak lebihnya seorang sahabat bagi Ken Arok yang selama ini hidup terlunta. Kehidupan Ken Arok di masa lalu adalah dongeng terindah untuk Ken Umang. Disaat orang lain merendahkannya, Ken Arok justru memberinya harapan. Bukan bunga, bukan perhiasan ataupun tahta seperti yang Ken Arok berikan pada Ken Dedes. Umang justru dihadiahi sebuah patok batu, tempat mereka akan bertemu. Di tempat itu, mereka akan bertukar cerita sebagaimana mereka di masa lalu. Ken Arok akan menyanyikan tembang dolan, berbagi hal manis tentang putra-putra mereka. Lain dari kehidupan kerajaan yang dikhawatirkan akan dipenuhi darah, justru dalam cerita Ken Arok pada Ken Umang terlampau indah dan dipenuhi oleh berjuta warna.