24 [Mengapa Soka?]

348 59 4
                                        

Guys double up nihtapi nanti tolong baca note di bawah yaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Guys double up nih
tapi nanti tolong baca note di bawah yaa

Selamat membaca!
☆*:.。..。.:*☆

Memantaskan diri sebagai putra dari Nareswari adalah tujuan utamanya. Walau Agnibhaya tidak pernah berhenti berbuat ulah. Tapi tanda kesempurnaan itu nyata bukan hanya tampak wajahnya, tapi hati beserta niatnya. Siapa menduga, anak laki-laki yang seringkali membuat Kutaraja gempar karena ulahnya, sekarang berubah menjelma menjadi laki-laki dewasa yang sudah bisa menata masa depannya. Seolah waktu tengah meluncur bebas pada jurang yang sangat curam.

"Bagaimana kabarmu, gadis manis?" Sapa Agnibhaya.

Itu bukan gadis sembarang yang sedang ia goda ketika sedang berkunjung ke pasar di sekitar keraton Wengker. Tenang saja. Hanya gadis kecil dengan senyum manis yang sedang menata berbagai macam bunga. Agnibhaya hampir melupakan kebiasaannya membeli bunga soka di pasar.

Gadis kecil itu tidak menjawab dan justru menunduk malu. "Tolong, bisakah kau memberi bunga soka untukku?" pinta Agnibhaya tanpa memudarkan senyumnya.

"Berapa ikat Kisanak?" tanya gadis itu masih dengan menundukkan kepalanya.

"Aku ingin satu ikat," balasnya. Sang Raden tersenyum menatap bagaimana lihai tangan kecil itu membungkus krisan untuknya. Dengan daun jati yang segar dan ikatan rami yang disimpul sempurna. "Jika aku membawa bunga ini ke Wengker, akankah dia layu?"

Gadis kecil itu mengernyit mencoba untuk berani menatap laki-laki di depannya. "Jika kisanak hendak membawanya pergi sejauh menyebrangi kerajaan, bukankah seharusnya anda membeli di sana? Hamba yakin akan ada penjual bunga soka lain yang bisa menjual bunganya untuk kisanak."

Agnibhaya tertawa. "Ya, kau benar." Mengusap puncak kepala gadis itu, sang raden benar-benar murah senyum.

Laki-laki itu tetap berjongkok. Sekalipun bunga pesanannya telah jadi dan bisa ia bawa pergi, tapi mengamati gadis kecil itu lebih menarik dari tujuan awalnya.

"Ingin mendengar sesuatu?"

"Apa itu?" Tanya si gadis kecil begitu antusias.

Gadis penjual bunga itu nampak antusias. Di tanah kerajaan yang kecil ini, tidak banyak orang yang membeli bunga. Dengan tanah yang subur, mereka lebih memilih untuk menanam bunga sendiri, merawatnya hingga memetiknya untuk menghias seisi rumah. Lelah menunggu datangnya seseorang, hari sang gadis kecil bersyukur kala seorang laki-laki datang untuk membeli seikat bunga dan menawarkan cerita. Batinnya bersorak senang, sekalipun yang Agnibhaya lakukan hanyalah hal sederhana.

Sederhana itu, merupakan hal luar biasa bagi sang gadis kecil.

"Aku lebih menyukai bunga soka sebagai bahasa kasihku dan bukannya mawar?"

Gadis kecil itu memperhatikan Agnibhaya yang bercerita, mengapa dari sekian banyak bunga yang indah dan menguarkan aroma harum, justru lebih memilih bunga Soka.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang