Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Agnibhaya is back!! Selamat membaca sayangkuu
☆*:.。..。.:*☆
Memutuskan bermalam di Wengker, Agnibhaya duduk di serambi yang ada di paviliun tempatnya menginap. Ia terus mengamati detail dari hiasan belati mewah yang ia rampas dari pemimpin bandit beberapa malam lalu. Warangka-nya kokoh terbuat dari kulit dengan balutan ukiran perak di seluruh bagian warangkanya. Di tengah warangka dan tangkai belatinya yang terbuat dari tanduk binatang terdapat mata giok berwarna hijau. Agnibhaya masih bertanya-tanya, darimana seorang bandit bisa mendapatkan benda semewah ini. Terlebih saat melaporkan kejadian tersebut pada pasukan penjaga perbatasan dua negara, mereka mengaku tidak ada laporan perampokan pada pedagang kaya, kepala desa, rakryan atau pun keluarga kerajaan selain Agnibhaya.
Lebih buruk lagi, Prama mengatakan jika tidak ada mpu yang membuat belati itu baik di Tumapel, Panjalu dan Wengker. Lantas darimana belati itu berasal?
"Apa saya perlu menyelidikinya lebih jauh, raden?"
Agnibhaya menggeleng pelan. "Tidak untuk sekarang, jangan sampai ada yang tahu soal ini." Prama patuh saja dengan perintah Agnibhaya.
"Ada kemungkinan lain, raden."
"Apa?"
"Setiap bagiannya dipesan secara terpisah."
Mereka masih terjebak dalam pikiran masing-masing. Ini hanya soal bandit, andai Agnibhaya tidak menemukan belati mencurigakan ini, mungkin semuanya selesai begitu Agnibhaya menginjakkan kaki di Tumapel.
Agnibhaya meyakini ada sesuatu di balik kejadian kemarin. Walaupun tidak ada bukti pasti, tapi serangan-serangan semacam itu memang hal biasa terjadi pada keturunan keraton seperti dirinya. Ada banyak musuh mengincar demi mendapatkan kekuasaan dan keuntungan melalui cara kotor seperti menyerang ataupun membunuh.
Mengirim bandit berbahaya juga salah satu cara paling cepat dan orang tidak akan curiga, sebab di kesejahteraan yang tidak merata memang berdampak besar pada tindak kriminal di suatu negara. Tanpa terkecuali Tumapel dan Panjalu.
"Ada lagi yang ingin kau laporkan padaku Prama?" menyadari posisi Prama yang masih diam berdiri di dekatnya.
"Apa raden akan benar-benar memimpin Hasin?"
Menanggapi pertanyaan itu, Agnibhaya menggeleng pelan. "Masih dalam pertimbangan."
"Bagaimana dengan pasukan untuk menyerang Raja Hasin sekarang?"
Agnibhaya berdiri dan menyimpan belatinya pada kain yang mengikat pinggangnya. Wilayah yang ditunjuk oleh ibu suri Ken Dedes jelas bukan wilayah tanpa pemimpin. Kerajaan Hasin berdiri secara mandiri, berbeda dengan kerajaan Wengker yang statusnya sebagai kerajaan bawahan dan hanya dalam sekali perintah, pemimpin Wengker sebelumnya harus memutuskan apakah ia akan menyerahkan kerajaannya atau bertahan dan memecah perang. Beruntung dalam prosesnya, Panji Saprang tidak menciptakan peperangan baru demi bisa menduduki tahtanya. Lebih-lebih alasan yang tidak ia ungkap sebagai bentuk negosiasi dengan raja Wengker adalah ia akan mengembalikan kerajaan tersebut jika ia tidak memiliki keturunan hingga akhir hayatnya.