Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Masih soal Rawina?"
Prama datang dan bertanya perkara Agnibhaya yang kembali dari pembicaraannya dengan Panji Saprang dan Mahisa. Sekarang, yang semula hanya perkara bandit dengan belati dan dendam Rawina. Melebar dan menjerat lebih banyak orang. Menyangkut banyak peristiwa yang mungkin tertuju pada satu garis pola yang sama.
"Beritahu soal Awaban pada Rudipta."
"Yang Mulia!"
Agnibhaya menatap Prama. "Apa masalahmu? Kau seolah membenci Rawina? Kau hanya perlu menjalankan perintah, Prama!"
"Tapi tidak membuka luka lama!"
Lagi, bertambah satu masalah lain. Agnibhaya mendesah berat. "Lalu? Kau akan membiarkannya begitu saja?"
"Apa kau juga menyalahkan Rawina atas kematian rekan-rekanmu di medan perang? Kematian Soma? Kakak Rawina sendiri?"
"Menurutmu rasa kehilangan yang kau rasakan dulu lebih besar dari Rawina yang dituduh tanpa tahu apapun?"
Prama terdiam. Dia kesal. Karena Agnibhaya sepenuhnya benar. Tanpa mengurangi rasa hormatnya, Prama kemudian pergi dan meninggalkan Agnibhaya sendirian.
Ketika nama Soma diingatkan sebagai kakak Rawina, Prama baru menyadari satu hal. Dibandingkan Prama yang hanya rekan satu pasukan, Rawina jauh lebih merasa kehilangan.
☆*:.。..。.:*☆
Tohjaya dalam balutan busana kerajaan. Ia harus berpuas dengan memimpin Hering sebagai kerajaan vasal. Bersama Panji Wregola dan Sudhatu, mereka membuat sebuah kepemimpinan yang sudah mereka bayangkan selama ini. Butuh waktu lama, butuh bertahun-tahun hingga meruntuhkan ego Ken Dedes hingga menyerahkan Hering. Meski demikian, status Hering tak sebanding dengan Panjalu terlebih Tumapel.
Lebih buruk, di pertemuannya, mereka membanggakan Raja Wengker yang diam-diam membangun pemerintahan yang sangat baik. Mengisolasi diri dari dunia luar, namun rakyatnya makmur dan tidak kekurangan. Kemudian stabilnya kembali Hasin setelah peperangan setelah kepemimpinan Agnibhaya juga dibanggakan. Sekarang, nasib Hering dipertaruhkan. Mereka kembali dibandingkan.
Panjalu, Wengker, dan Hasin, rajanya berdiri mandiri tanpa dibantu siapapun. Sekalipun Ken Dedes memberi perintah, bukan berarti mereka mendapatkannya dengan mudah. Butuh negosiasi panjang atau bahkan pecah peperangan, sampai mereka berhasil menduduki tahta. Butuh pembuktian sampai mereka pantas disebut sebagai seorang Raja.
Tohjaya, Sudhatu dan Wregola mendapatkan hak istimewa. Tanpa perlu bersusah payah, mereka bisa menempati Hering. Pemimpin Hering sebelumnya bersedia mundur dengan imbalan tanah di lereng gunung Kawi yang luas untuk ia bangun desanya sendiri. Memilih hidup jauh dari kacaunya perpolitikan kerajaan. Melepas gelar bangsawannya. Keluarga Raja menyerah semudah Ken Dedes menunjuk dengan jarinya.
Sekarang, tanggung jawab atas Hering dilepas pada ketiga putra selir. Ken Dedes lantas meminta bukti di hadapan semua orang.
Mahisa dan Agnibhaya saling bertukar tatap. Saat Ken Dedes membandingkan dengan Wengker, membanggakan rajanya dan hasil kepemimpinannya. Diamnya mereka, adalah tanda bahwa ego mereka tengah dicabik-cabik sekarang.