Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aduh, sepii uy. Butuh support nih.. cukup comment sama vote, nanti aku rajin update Ya? ya? ya? Selamat membacaa
☆*:.。..。.:*☆
"Ibunda rasa kau sudah cukup dewasa untuk tahu batasanmu. Kau seorang pangeran Tumapel Agnibhaya!"
Agnibhaya menatap pada arah lain, menghindari tatapan tajam Ibu suri Ken Dedes dengan jengah. Wanita itu tahu kedekatannya dengan Rawina. Wanita itu menegurnya. Atau mungkin juga murka.
Sedari awal, Agnibhaya sudah tahu letak kesalahannya dan resikonya. Ada banyak sekali mata yang mengawasi selama perjalanan mereka kemarin. Tidak memungkiri jika sang ibunda akan membawa seseorang yang turut untuk mengawasi. Terlebih, Rawina sukses menarik simpati dan hati dari maharaja. Anak yang diagung-agungkan oleh Ibu Suri Ken Dedes.
Salah jika Agnibhaya awalnya mengira jika sang ibunda akan terus mempertahankan kedekatannya dengan Panji Saprang. Termasuk melimpahkan tahta yang sudah selayaknya untuk saudaranya. Dilihat dari segi manapun, pantas atau tidak, garis keturunan adalah landasan besar kepimpinan sang Ibunda sepeninggal Ken Arok.
Lagi. Dewasa? Dewasa yang jadi patokan ibundanya tentu bukan umur.
"Apa maksudmu?" Bertanya sebab tidak suka, terlebih Agnibhaya yang mulai berani menentang berbagai perintahnya.
"Ibunda resah karena hal yang sama akan terulang kembali? Apa ibunda ingin saya menjauhi dayang itu dan membuang perasaan yang saya sendiri belum meyakininya? Ibunda resah jika putra ibunda jatuh cinta dengan wanita yang ingin dijadikan selir oleh Maharaja untuk yang kedua kalinya?"
"Agnibhaya!" Suara Ibu Suri Ken Dedes meninggi, sebagaimana posisi kursi tempatnya bertahta yang lebih tinggu dari lantai tempat Agnibhaya berdiri.
"Permasalahan bukan ada pada saya maupun kakanda Arang. Tetapi pada pilihan Ibunda."
"Raden Agnibhaya!"
Inikah yang dirasakan Panji Saprang saat perasaannya ditentang oleh Ken Dedes. Agnibyaya dengan tegas mengatakan bahwa ia belum meyakini perasaannya sendiri. Tapi, situasi ini membuatnya merasa, sakit dan muak.
Satu hal. Agnibhaya terkadang tidak yakin bahwa Ken Dedes adalah benar wanita yang melahirkan dan membesarkannya. Terkadang ia merasa asing. Dengan segala interaksi yang tidak pernah berakhir baik. Nyatanya putra kesayangan Ken Dedes adalah Panji Saprang, namun keputusannya selalu jatuh pada pihak yang salah. Bahkan membuat putranya yang lain tersiksa.