37 [Dimulai Dari Hasin]

192 31 0
                                        

Selamat Membaca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat Membaca

☆*:.。..。.:*☆

Markas perang, sudah seperti sebuah desa dimana seluruh penghuninya bisa hidup dengan normal berkat bantuan banyak pihak. Tanpa terkecuali rakyat yang sepenuhnya percaya pada Agnibhaya. Walau berat, ini kali pertama baginya dipercaya begitu banyak orang. Agnibhaya tidak bisa berbuat apapun selain bertahan demi janjinya serta kepercayaan mereka pada dirinya sebagai pemimpin mereka.

Meski jalannya tidak akan mulus untuk selanjutnya. Agnibhaya hanya bisa percaya pada takdir yang dewa persiapkan untuknya.

"Ini yang terakhir! Hasin akan jatuh ke tanganku!" tekadnya saat ia dan seluruh pasukannya sudah berdiri di depan benteng yang membatasi area keraton Hasin.

Ia tidak bisa berhenti mengucapkan rasa terima kasihnya pada dayang dan beberapa tabib-- yang sesuai janji Rawina, akan berdiri sebagai garda terbelakangnya. Mereka dengan giat menyebarkan rumor dan membuat satu persatu masyarakatnya berpaling dari pemimpin mereka. Hingga hampir seluruh desa di sekitar keraton kosong, memudahkan untuk pasukan Agnibhaya menerobos masuk dan mengepung benteng keraton.

Sekali lagi, setelah babak panjang perang ini. Suara terompet terdengar memekakkan telinga, ada bendera Panjalu dan Tumapel pula yang berkibar dengan gagahnya menyapa para prajurit Hasin.

Setelah suara kembali hening. Pasukannya yang membawa batang pohon besar, bergerak maju untuk menerobos pintu benteng yang tertutup rapat. Mereka memaksa untuk masuk dan ingin segera menyelesaikan episode panjang ini.

"Masuklah!" titah Panji Saprang yang diangguki Agnibhaya begitu gerbang benteng berhasil dibuka. Panji Saprang juga memberi kode agar pasukan yang dipimpinnya berpencar di sekeliling keraton. Pun, Ki Agrang yang diam-diam meminta pasukan penembak tetap waspada dari jarak aman mereka. Sementara Prama, berusaha membuka jalan untuk Agnibhaya bisa lebih masuk, bahkan hingga di kediaman raja.

Mereka menjalankan strategi dengan sangat baik. Membuat episode panjang peperangan dan menyelamatkan lebih banyak anak-anak yang terjebak dalam aturan untuk berperang. Agnibhaya sudah menyerahkan segalanya, harga dirinya dipertaruhkan jika ia kalah dari seorang pemimpin kerajaan kecil yang bahkan tidak lebih besar dari Wengker yang merupakan kerajaan vasal.

Kakinya berderap maju tanpa ragu. Para wanita, baik dayang maupun keluarga keraton disisihkan. Mereka disekap dan ditahan. Sementara pasukan yang menjaga seisi keraton Hasin harus berperang dengan pasukan Agnibhaya, tepat di hadapan para wanita yang ditahan.

Agnibhaya membuka pintu ruangan Raja Hasin. "Aku datang membawa malaikat pencabut nyawa bersamaku," ujarnya dengan sangat percaya diri. Pedang di tangannya terayun cepat hingga mengenai ujung kulit leher Raja Hasin. Agnibhaya masih belum membunuhnya.

Raja Hasin terdiam. Dia mengaku kalah.

Tangannya bergerak mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya. Sebuah belati di bawah kaki Agnibhaya.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang