38 [Seperti Api yang Membakar Padma]

230 33 3
                                        

Selamat Membaca!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat Membaca!

☆*:.。..。.:*☆

Kemenangan yang dibawa oleh Agnibbaya sampai pada Keraton Panjalu dan Tumapel.

Agnibhaya memasuki kediaman mendiang Ken Arok. Bangunannya besar dengan pendopo di depannya. Yang baru Agnibhaya sadari adalah jumlah umpak pada pendoponya.

Langkahnya mendekati satu persatu umpaknya. Kayu penyangganya dibuat berukir indah dengan ciri khas yang berbeda. Entah apa filosofi di baliknya, tidak ada yang pernah bertanya sampai beliau meninggalkan dunia. Bahkan Agnibhaya baru menyadari perbedaannya sekarang. Tujuh umpak dengan tujuh tiang berukir. Satu di antaranya berada tepat di tengah, menyangga atap limasan pendopo yang berdiri begitu kokoh.

Agnibhaya berjalan mengitari satu persatu umpaknya dan membaca ukiran tahun yang ada pada setiap kayunya. Mengingat, siapa yang lahir di tahun tersebut, termasuk dirinya. Sampai di umpak terakhir yang berada di tengah. Agnibhaya mendesah pelan. Bibirnya tersenyum begitu miris dan seketika dadanya terasa sakit.

"Apakah ini bentuk bakti terakhir anda?" lirihnya mulai tidak mampu menahan rasa sakit di dalam dadanya hingga menangis.

Tujuh pilar itu adalah wujud Tumapel yang dimimpikan Ken Arok selama ini. Andai alur ceritanya tetap berjalan seperti itu.

Di tengah tangisnya, seorang wanita datang menghampirinya. Menyambutnya, tapi tidak dengan senyuman seperti biasa. Tapi dengan rona penuh kesedihan.

"Pada akhirnya kau yang pertama kali menyadarinya," lirih Ken Dedes. Mendapati putranya menangis dan luruh begitu saja. Sang Ibu Suri mendekat, memeluk putranya.

"Maafkan ibunda yang terlambat memberinya pengertian," lirihnya memandang pilar yang ada di tengah pendopo itu, pilar terbesar dengan ukiran paling indahnya. "Ibunda terlambat memahami keinginan ayahandamu."

Sakit sekali hati Ken Dedes. Setelah mendengar penolakan Agnibhaya untuk menyerah meskipun Ken Umang terus mengatakan petaka yang mendekati putranya. Ken Dedes bertanya, apa yang diajarkan mendiang suaminya pada putra mereka. Apa yang coba Ken Arok sampaikan sebelum kematiannya. Mantra apa yang Ken Arok dalam menghasut putra-putranya. Didikan seperti apa yang sudah diterapkannya. Ken Dedes terus bertanya-tanya.

Sampai Ken Dedes baru menyadari keberadaan pendopo yang selama ini ia anggap sebagai bangunan biasa. Anggapannya mungkin Ken Arok hanya menyukai seni ukir yang beragam, tanpa menyelipkan pesan berarti di dalamnya. Tapi, Ken Dedes salah.

Setelah ini, apa mungkin Agnibhaya kian membenci dirinya? Ken Dedes tidak tahu dan memilih untuk tetap seperti itu. Membayangkan salah satu putranya membencinya adalah satu hal yang tidak bisa Ken Dedes bayangkan rasa sakitnya.

"Ketidakpedulian anda, membunuh seorang ayah yang begitu mencintai putra-putranya." Begitulah bisikan Agnibhaya di tengah isak nya yang teredam peluk sang ibunda. Meski begitu, Agnibhaya kian mengeratkan pelukannya pada pinggang Ken Dedes, mencari kenyamanan dan kehangatan disana. Setiap kecupan di puncak kepalanya yang diberikan Ken Dedes, nyatanya mampu meluruhkan kebencian yang ingin ia tumbuhkan.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang