Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Udah hari senin thor! Ntar senin depan libur ya, mau lebaran dulu
oke, Selamat membaca sayangkuhh
☆*:.。..。.:*☆
Lihatlah pilar keempat telah berdiri tegak.
Seruan itu seakan menyempurnakan keempat pilar Ken Dedes untuk bisa mendirikan dinastinya sendiri.
Lantas bagaimana dengan pilar ken umang? Tidak ada bangunan yang mampu berdiri hanya dengan tiga pilar. Orang menyebut mereka cacat dan tak pantas. Namun, rasa sakit itu mereka tekan seolah itu bukan apa-apa. Karena Ken Umang tidak mengajarkan mereka demikian.
Siapa yang menjamin alam dan lingkungan tidak memberi andil dalam mendidik seseorang?
Ken Dedes memberi mereka kesempatan dengan menjatuhkan Hering dalam wilayah kuasa mereka. Mencoba untuk percaya mereka akan membawa perubahan baik pada Tumapel.
Namun, kegelisahan menyelimuti dua orang yang terlibat pada peristiwa belasan tahun lalu. Dimana mereka mencoba saling menyembunyikan kesalahan masing-masing, sedang di balik yang orang lihat, mereka saling menyerang dan memberi peringatan.
Ini tentang reputasi.
Bersamaan dengan dendam dalam dada masing-masing yang membawa seiring dengan waktu berjalan.
Anusapati dan Tohjaya tidak akan pernah selesai dengan masa lalu mereka sampai kapanpun.
Rudipta memandang pada perjamuan besar yang dipersiapkan untuk menyambut semua putra Maharaja yang diagungkan di setiap wilayah kekuasaan mereka. Perdana, Ken Dedes membuat pesta, mengundang sembilan masa depan Tumapel dalam satu ruang, setelah sekian lama. Tepatnya, setelah Maharaja tewas dan terpecahlah mereka dari garis keturunannya.
Di bawah pohon dewandaru yang mekar, Rudipta terdiam merasa tidak adil dengan kemewahan dan kemeriahan yang mereka nikmati saat ini. Pikirannya masih melayang-layang pada siapa? Siapa? dan siapa di antara Anusapati dan Tohjaya yang paling berdosa.
Atau keduanya? Namun, wajarkah bila setelahnya mereka saling memendam dendam dan mengibarkan aji peperangan?
"Rudipta?" panggil seseorang. Perempuan itu tersentak. Mahisa menyapa dengan senyuman.
"Salam hamba pada matahari Panjalu."
Mahisa menatap pada kemeriahan di ruang istana. Tidak ada Panji Saprang, sebab ada dirinya hadir disana.
"Aku tahu apa yang kau cari dan aku ingin membagi sedikit rahasia."
Rudipta terdiam, menunggu apa yang hendak Mahisa sampaikan. "Dari ketujuh pangeran, enam di antaranya dikirim ke medan peperangan. Usia kami masih sangat muda. Kami ditempatkan sesuai dengan kemampuan masing-masing dan atas perintah baginda Raja."