Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maafkan aku ternyata salah upload ada bab yang terlewat -- Selamat membaca!! ☆*:.。..。.:*☆
Pranaraja tidak pernah memilih hidup sebagai seorang kawula. Andaikata ia bisa memutuskan kemana arah takdirnya, maka ia akan meminta untuk menjadi seperti Ken Arok saja. Dikenal sebagai legenda, kemudian mewujudkan ramalan tentang seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu dari raja-raja besar di Tanah Jawa, kemudian membangun dinasti yang tidak akan mudah digoyahkan. Namun, Pranaraja tidak mungkin mengelak takdirnya, selain hanya berdiri, disisi Nareswari dan menjadi kawula yang terkenal dan disegani.
"Kawal dan awasi putra dan cucuku." Permintaan itu tidak mungkin bisa Pranaraja tolak. Meski enggan, sejatinya ia bukan siapa-siapa. Dalam pikirannya, mereka tidak lebih dari anak-anak yang memanfaatkan status sosial mereka.
Mereka hanya beruntung.
Disinilah seorang Pranaraja berdiri. Berdampingan dengan Panji Saprang, dalam rombongan kerajaan yang hendak bertandang ke Tumapel sekaligus memperkenalkan penerus dinasti yang kelak akan terus bertumbuh itu. Mereka bahkan merencanakan pernikahan sepupu, antara Ranggawuni dan Waninghyun.
"Seorang Raja seharusnya duduk tenang dalam kereta kencana dan bukan mengabdi pada Raja lain, bukan begitu?" komentar Pranaraja hanya dibalas senyuman oleh Panji Saprang. "Tugasmu tidak akan pernah tuntas."
Panji Saprang mengangguk. "Benar. Tidak akan tuntas. Aku berdiri sebagai putra ibundaku, adik kakandaku dan Raja dari rakyatku. Mana yang lebih dulu kuucapkan, wahai Pranaraja yang setia?"
Dan... Pranaraja bukan pandai menutup mata tentang anak-anak kecil yang ia anggap hanya memanfaatkan status sosialnya, telah sepenuhnya menjelma menjadi manusia dewasa seutuhnya. Menjadi Raja yang dipercaya rakyatnya dan dicintai sebegitu besarnya. Dalam ingatan Pranaraja, anak-anak itu tidak pernah menggemakan tangisnya hanya demi merebut buah kesukaan mereka.
Yang tersisa, hanya tangis mereka tentang, kehancuran yang disebabkan oleh ambisi.
☆*:.。..。.:*☆
Memulai perjalanan dengan kehangatan, sapaan rakyat di sepanjang jalan mengiringi kepergian mereka. Siapa yang menyangka akan berakhir dengan ketegangan.
Tohjaya dan Wregola benar menjalankan rencana mereka. Secara berkala mereka memastikan persiapan perjalanan besar yang dilakukan oleh tiga kerajaan menuju tanah Tumapel. Perjalanan yang akan memakan waktu sedikit lebih panjang, melalui jurang dan hutan yang begitu rindang. Menyamarkan segala pergerakan yang sudah mereka rencanakan dengan matang.
Panji Sudhatu mundur. Ia tidak memihak apa yang akan saudaranya lakukan kali ini. Ia memang membenci putra-putra Ken Dedes yang seakan memiliki segalanya dan ingin merebut keberuntungan itu dengan segala cara. Tapi tidak dengan mengorbankan nyawa mereka.
Maka, pada akhirnya Panji Sudhatu memutuskan untuk menepi, pergi ke Tumapel dan memohon untuk ia diperizinkan menemui sang ibunda, meski Maharaja menolak berkali-kali pun ia masih disana.