Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Permisii, mau update satu chapter dulu ya teman Semisal rame bisa lebih rajin update lagi
Selamat membaca!! ☆*:.。..。.:*☆
Menteri kerajaan terpecah dalam dua golongan. Nareswari dan Selir Ken Umang. Mereka sama-sama berupaya mempertahankan kuasa masing-masing dan menggeser kebenaran yang semestinya diungkapkan. Terpecah dalam satu pembicaraan dan membuat keributan di aula pengadilan.
Anusapati hanya memandang pada adik-adiknya yang hanya diam, saling melempar tatapan tajam.
"Cabut Prama dan Ki Agrang dari statusnya sebagai ajudan kerajaan dan--" Anusapati melirik pada Agnibhaya yang memandangnya dengan tatapan marah. "Hukum mereka karena telah melukai keluarga kerajaan."
"Yang Mulia!!" Agnibhaya menentang.
"Hanya--" Anusapati menaikkan nada bicaranya saat seluruh aula diisi dengan riuh antara kedua fraksi. "Hanya jika kalian berhasil menemukan mereka."
Anusapati menunjukkan dominasinya hari itu. "Tidak lebih dari perjamuan kerajaan yang akan dilakukan dalam beberapa purnama ke depan, maka-- Agnibhaya yang akan mempertanggungjawabkan tindakan dari dua orang itu. Dan itu berlaku juga dengan Wregola."
Sebelum mereka semakin menentang, Agnibhaya memukul permukaan mejanya dengan cukup keras. "Pencabutan gelar kebangsawanan untuk Wregola dan hidup sebagai sudra biasa, sementara Agnibhaya akan hidup terasing sebagai brahmana yang meninggalkan urusannya di dunia."
Ken Dedes dan Ken Umang yang mendengar putusan itu sama-sama mengepalkan kedua tangan mereka. Bahkan Ken Dedes bisa merasakan jemarinya terluka karena cincin yang dikenakannya. Waktu akan terus berjalan, dan saat itu tiba, mereka akan benar-benar kehilangan keduanya. Maka, Ken Dedes segera memerintah kaki tangannya-- Pranaraja untuk pergi menemukan dimana keberadaan Prama dan Ki Agrang berada.
Sekarang, yang harus ia selamatkan adalah putranya.
Ken Umang beranjak, tidak mengatakan apapun pada Ken Dedes. Kesakitannya lebih besar dari ini. Belum pulih dari sakitnya akibat racum yang menyebar melalui luka di tubuh putranya, Wregola juga harus dijatuhi hukuman, yang bukan hanya keji bagi mereka, namun juga merasa direndahkan atas takdir yang bukan jadi pilihan mereka. Seandainya Ken Umang bisa memilih, ia tidak akan mau menjadi seorang sudra. Terlebih membesarkan anak-anaknya di tengah orang-orang yang gila akan kuasa dan menjunjung tinggi kasta.
Anusapati membiarkan semua orang berlalu, kecuali Agnibhaya, Mahisa dan Panji Saprang. Sementara Tohjaya dan Sudhatu telah pergi lebih dulu dengan kemarahan dan cacian yang ditujukan pada Maharaja Tumapel itu.
"Kalian punya waktu untuk menyembunyikan mereka, hanya enam bulan. Dan di waktu itu, tunjukkan semua kejahatan yang sudah Tohjaya lakukan."
"Jika mengharuskan kalian membongkar niat burukku atas mendiang Maharaja, maka lakukan. Tahta akan dipegang penuh oleh Ranggawuni setelah ia menikah dengan Waning Hyun. Aku tidak menerima bantahan jika kalian masih ingin melindungi mereka dan diri kalian sendiri."