34 [Berperang Bersama]

250 31 3
                                        

Puasa nanti seminggu sekaliaman gak?wkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Puasa nanti seminggu sekali
aman gak?
wkwk

Selamat membaca!!
☆*:.。..。.:*☆

Setiap hari, kemanapun sang Raja pergi, dimanapun ia berada, teror panah berisi ancaman tanggal kian membuat semua orang dalam keraton itu gelisah. Hal itu juga membuat sang Raja gegabah mengambil keputusan yakni mengumpulkan seluruh prajurit di istananya dan mengeluarkan perintah darurat Raja kepada seluruh rakyatnya yang berjenis kelamin pria untuk tidak meninggalkan istana dan mengabdi dalam peperangan yang akan datang.

Dari tempatnya, Agnibhaya hanya memandang dengan datar keputusan itu. Selebihnya yang ia lakukan adalah menyelamatkan para wanita, lansia dan anak-anak untuk pergi ke desa yang sudah disiapkannya saat perang pecah. Meskipun orang-orang itu menentang karena mungkin saja suami, ayah atau anak laki-laki mereka akan menjadi korban perang. Tapi, Agnibhaya tidak bisa membantu lebih banyak lagi.

"Raden, rombongan dari Tumapel sudah sampai. Mereka menunggu anda."

Mendengar laporan dari Prama, Agnibhaya segera beranjak dari tempatnya dan membawa pedangnya. Meninggalkan mejanya berantakan dengan gambar-gambar peta strategi mereka, ada berlembar-lembar lontar yang berisi catatannya sendiri dan sebuah belati.

Agnibhaya masih belum menemukan jawaban dari belati itu, namun ia memutuskan fokus dengan apa yang ia lakukan sekarang.

Begitu ia keluar dari ruangannya, bisa ia lihat jika Anusapati menuruti permintaannya. Seribu prajurit tidak memungkinkan untuk datang bersamaan, tapi rombongan pertama yang datang adalah dayang, pelayan serta tabib yang ia minta sudah lebih dari cukup. Tidak terkecuali perempuan yang berdiri di barisan paling ujung dan tengah menunduk memilin selendang yang tersampir di bahunya.

Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum, namun tidak ada yang menyadarinya. Ia memilih untuk mendengarkan laporan yang disampaikan pemimpin rombongan itu, serta pesan yang disampaikan Maharaja Anusapati.

"Ki Agrang?" tanya Agnibhaya heran. Ajudan itu tidak pernah meninggalkan sisi Anusapati, sebab Anusapati punya lebih dari satu ajudan yang bisa ia kirim kapan pun. Tapi, Ki Agrang bukan orang yang ia duga akan pergi membantunya.

"Baiklah." Putusnya. "Kalian sudah menempuh perjalanan jauh, pergilah beristirahat. Prama!"

"Ya Raden?" Sahut Prama dengan sigap.

"Tunjukkan dimana tempat mereka istirahat." Agnibhya kemudian beralih pada Rawina. "Untuk para tabib, kalian bisa ikut aku dan bawa rempah yang kalian bawa, akan ku tunjukkan gudangnya."

Mereka pun mengangguk, berjalan mendekat pada Agnibhaya. Bangunan disana sudah ditata sedemikian rupa. Dengan bangunan utamanya, tempat Agnibhaya beritirahat berada di tengah, dikelilingi bangunan lain dan dalam pengawasan banyak prajurit. Lalu, tempat para tabib berada tidak jauh dari aliran sungai pegunungan. Gudangnya bahkan sudah dipenuhi rempah-rempah atas permintaan Agnibhaya.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang