33 [Namanya Agnibhaya]

232 28 0
                                        

Selamat menyambut weekenddan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat menyambut weekend
dan

Selamat membaca!!
☆*:.。..。.:*☆

"Susah payah Tumapel merebut Kadiri, lantas sekarang terbelah kembali." Sang Raja Hasin berdecih dengan angkuhnya. "Sampai matiku pun! Hasin takkan tunduk pada kepemimpinan bejad kalian!"

Setelah meludah tepat di depan Agnibhaya, sang Raja Hasin berbalik menuju singgasananya. Bersikap angkuh di hadapan putra Rajasa yang datang dengan maksud baiknya membawa perintah Sang Nareswari. Nyatanya, tidak ada yang menghargai kedatangan mereka. Mereka diperlakukan selayaknya rakyat jelata yang mengemis sedikit harta mereka. Benar, sedikit.

Agnibhaya hanya meminta sedikit, jika dibandingkan dengan kekuasaan dua kerajaan, yaitu Tumapel dan Panjalu.

"Sampai matimu?" Tanya Agnibhaya dengan mata menelisik dan seringai muncul di salah satu sudut bibirnya. Sang Raja Hasin tidak menyadari jika Agnibhaya mengawasinya selama ini. Tiga telik sandinya sibuk mencari celah untuk menggulingkan kepemimpinan Raja Hasin. Selain meminta upeti besar ke seluruh kepala desa, sang Raja juga menerapkan kebijakan pada desa-desa yang pantas dianugerahi sima. Lebih buruknya, para Brahmana masih harus bekerja untuk membayar upeti yang hampir menelan seluruh jerih payah mereka.

Ken Dedes geram? Tentu saja. Sebagai seorang Brahmani, melihat para kaum Brahmana lainnya diperlakukan seperti itu membuatnya bertekad untuk merebut Hasin serta merombak seluruh struktural yang ada di dalamnya agar semua elemen masyarakat yang tinggal di sana bisa hidup lebih layak. Mereka berhak mendapatkan yang lebih baik, dan Ken Dedes akan mewujudkannya melalui sang putra yaitu Agnibhaya.

Agnibhaya yang semula menjaga tata krama di depan Raja Hasin beserta jajarannya dalam jamuan itu, memilih untuk menanggalkan sikap santunnya. Jemarinya mengetuk meja, membuat irama menegangkan disana. Sebagian dari mereka diam karena tahu siapa Agnibhaya dan statusnya. Meskipun Raja Hasin tahu, tapi ia memilih untuk tidak peduli pada sesuatu yang harus ia waspadai.

Baginya, Agnibhaya hanya anak kecil.

Anak kecil yang dalam hitungan minggu ke depan akan memporak-porandakan seisi keratonnya.

Masih dengan santai menganggap niat Agnibhaya menjadikan Hasin sebagai kerajaan vasal dari Panjalu, mereka tertawa begitu keras dan pongah. Kendati demikian, Agnibhaya masih dengan tenangnya menyecap rasa arak yang begitu nikmat, bahkan senikmat buatan Ni Jenar. Mereka menjamu semua tamu undangan dengan sangat baik dengan berbagai macam hidangan, buah segar hingga arak paling nikmat di dalam cawan. Semua sempurna, andai yang mereka lakukan adalah pertemuan biasa, bukan negosiasi untuk saling merebutkan kuasa atas tanah dan wilayah.

"Hasin tak sebanding dengan Tumapel atapun Panjalu, Raden!" Serunya cukup keras. "Kau cukup mengkudetanya, maka dalam semalam kau akan kaya raya." Semakin kencang gelak tawa mereka seperti tidak ada yang salah dari ucapannya.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang