64 [Peran Semua Orang]

259 27 2
                                        

Selamat MembacaKalau panjang tandanya apa??Ending

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat Membaca
Kalau panjang tandanya apa??
Ending...

☆*:.。..。.:*☆

Semua menjalankan perannya. Mahisa menepati janji terakhirnya pada Panji Saprang dan Kinanti untuk menemukan keberadaan Narapati. Anak itu berjalan sangat jauh hingga ke perbatasan antara Tumapel dengan Kadiri di lereng Kawi. Anak kecil itu selama ini tinggal disana selama beberapa hari dan menunggu seseorang akan menyelamatkannya. Meski ia bisa menebak apa yang terjadi pada ibundanya, namun jiwa anak kecil itu masih merengek dan meminta untuk kembali dipertemukan dengan sang ibu.

Selepas memastikan Narapati berada aman dalam kawalan Mahisa dan telah diperiksa dalan kondisi kesehatan yang baik untuk dibawa kembali ke Kadiri, kini giliran Agnibhaya menunjukkan perannya. Konflik di Tumapel belum sepenuhnya selesai. Pun ia juga belum menemukan keberadaan Rawina.

Namun, Prama memberinya pesan, bahwa ia beserta Soma dan Ki Angger menerima misi lain. Yaitu membawa Wregola berada dalam cengkraman Anusapati. Kali ini lebih kuat dan memastikan mereka akan jatuh lebih dari yang mereka duga. Maka, Agnibhaya tidak ada pilihan lain selain kembali dan masih berharap bahwa di tengah perjalanannya, ia akan bertemu dengan Rawina.

Agnibhaya juga memaksa Pranaraja untuk membuat pernyataan di hadapan Maharaja tentang insiden tersebut. Menjelaskan dengen detail siapa yang bersalah dan pantas untuk diadili. Yang tidak pernah siapapun duga, ada seseorang yang membeberkan dalam bentuk catatan ke penjuru Tumapel. Bukan dilaporkan pada pihak berwenang atas masalah ini, selebaran demi selebaran disebar membuat teka-teki yang runtut. Mulai dari kejadian tiga belas tahun lalu hingga insiden yang menewaskan Panji Saprang.

Mendengar desas-desus semacam itu, membuat Agnibhaya bertanya-tanya kemudian mencari tahu siapa yang menyebarkannya. Namun nihil. Ia pun memacu kudanya lebih cepat lagi menuju Tumapel. Siapapun itu, ia menghargai perannya dan akan menyelesaikan ini secepat mungkin.

☆*:.。..。.:*☆

Sedang di Keputren, semua mendadak panik karena Permaisuri merasakan mulas di usia kandungannya yang belum cukup dan dengan tubuh lemah. Tidak ada tabib yang berani membuat tindakan. Sedang Maharaja dan Nareswari sedang berada dalam pertemuan penting di Aula kerajaan. Tersisa selir Ken Umang yang selama ini terkurung dalam paviliunnya. Seorang kepala dayang merelakan reputasi dan menyalahi aturan dengan memerintah penjagaan pada Selir Ken Umang dikendurkan. Nasib tuannya sedang dipertaruhkan sekarang.

Ken Umang memandang iba pada Permaisuri yang sudah ia anggap bak anak sendiri.

Sepanjang pemeriksaan dan rasa sakit, Ken Umang tidak meninggalkan istri dari Anusapati itu. Para tabib sibuk kesana kemari memeriksa dan memastikan bahwa Permaisuri akan baik-baik saja. Bahkan Ken Umang turut membantu berdasar pada pengalamannya selama melahirkan empar orang anak. Nalurinya sebagai sesama wanita sedang diuji saat ini. Ken Umang benar-benar mengesampingkan apa yang telah keluarga itu lakukan padanya dan putra-putranya. Selama ini Ken Umang tengah merenungi setiap jalan hidupnya hingga sampai di titik ini.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang