Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca!!
☆*:.。..。.:*☆
Sebagai seorang dayang, Rudipta tidak akan pernah bisa pergi kecuali sang tuan mengusirnya dari tempat ini. Hari-hari setelah Anusapati mencurigai jati diri Rudipta yang sebenarnya, mengubah suasana di antara mereka menjadi lebih menegangkan. Anusapati tidak lagi menunjukkan secara terang ketertarikannya pada Rudipta. Pun Rudipta tidak lagi berupaya untuk beramah tamah dengan sang Maharaja.
Setiap hari ia datang, membawa minuman herbal untuk membuat sang Maharaja tertidur dan menyimpan aroma terapi di setiap sudut ruangan. Tapi, setiap hari pula, Rudipta menemukan aroma terapi buatannya utuh, tepatnya dimatikan setelah ia pergi. Sementara minuman di meja tandas tak tersisa.
Anusapati benar. Kuncinya ada di aroma terapi.
Meski halusinasinya semakin menyiksa kala malam datang. Anusapati mencoba untuk menjaga kewarasannya. Mimpi-mimpi saat ia tertidur kembali menghantui. Jiwa manusia-manusia yang tidak tenang karena dirinya, semakin memaksa Anusapati untuk terjaga. Semakin hari, tubuh Anusapati mengurus, tenaganya melemah, matanya memerah dan bayangan hitam di kantung matanya, memperburuk penampilannya. Anusapati tidak keluar dari kamarnya, memilih diam dan bahkan tidak hadir dalam setiap pertemuan.
Semua bertanya-tanya, apa gerangan?
Rudipta lebih dari tahu, lantas ia kembali masuk ke dalam ruangan itu. Ditemuinya Anusapati, dengan kendi berisi arak yang diharapkannya bisa membuatnya tertidur atau bahkan pingsan. Andai jika bisa, Anusapati ingin mati meninggalkan penyiksaan dunia ini.
"Hamba membawa ramuan yang dapat membantu anda, Baginda."
Anusapati terbatuk pelan. Tubuhnya sempoyongan mendekat pada Rudipta yang memegang sebuah nampan. "Kau mau apa, hm? Kau ingin membalasku?"
"Kenapa hamba harus membalas, Baginda? Sedang Baginda tidak melakukan satu kesalahan apapun pada hamba?"
Diam. Keduanya saling menatap tanpa ada keraguan. Pupil Anusapati bergetar, memerah karena amarah dan lelah. Bibirnya coba ia basahi, ia menelan ludah susah payah. Apa dugaannya salah? Tapi respon tubuhnya setelah menghindari setiap pemberian Rudipta, seakan menjawab semuanya.
"Kau menyebut dirimu hamba, tapi yang kau lakukan lebih kejam dari iblis manapun yang ada di dunia ini. Mereka akan malu, telah kalah dengan jahatnya manusia seperti dirimu."
Rudipta masih saja tenang. Seolah ia telah lama menunggu saat seperti ini. Dimana Anusapati tampak terkhianati, tersakiti dan lemah seperti seseorang yang ringkih. Jauh dari sosoknya yang diagung-agungkan selama ini.
"Dimana letak kesalahan hamba? Saya hanya melayani anda dan setia pada keluarga anda."
"RUDIPTA!!!"
Dengan amarahnya, Anusapati melempar nampan yang dibawa oleh Rudipta, menciptakan keributan yang mungkin memancing perhatian para dayang dan prajurit yang berjaga di luar. Termasuk Ki Agrang yang bergegas masuk, seakan mengkhawatirkan sang tuan.