41 [Pada Dia yang Salah]

241 29 1
                                        

Sekarang hari senin ya?Okay aku kasih amunisi buat yang setia nunggu updatean Paramita

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sekarang hari senin ya?
Okay aku kasih amunisi buat yang setia nunggu updatean Paramita

Selamat Membaca

☆*:.。..。.:*☆

Pernikahan dalam dunia politik kerajaan memanglah tidak bisa disamaratakan dengan hubungan romansa orang biasa. Mereka dituntut untuk mempertahankan garis keturuan-- wangsa, yang tidak tentu membawa kebahagiaan. Dasar pernikahan bukan lagi cinta, melainkan
status sosial pasangan dan martabat yang harus mereka jaga.

Kisah Raja dan Permaisuri yang romantis, sejatinya hanya karangan semata. Yang katanya cinta Raja seluas samudera dan kasih Permaisuri melebihi kasih Dewa. Semua, tidak ada yang nyata.

Sang Permaisuri tidak menuntut cinta, tidak menuntut perhatian, ia hanya menjalani takdirnya. Sebagai tawanan, alih-alih istri yang diperhatikan. Duduk pada singgasana berlapis emas miliknya, senantiasa mendampingi suaminya yang seorang Maharaja, menjadi wanita nomor satu yang dihargai dan agungkan di kerajaannya. Balasannya apa? Ia harus rela putranya diasuh oleh dayang dan menjaga jarak dengan dalih kebaikan sang pangeran mahkota.

Permintaannya sederhana, ia mau putranya. Itu saja.

Berat kehidupannya, tak lantas membuat ia menyerah. Permaisuri ingin tetap duduk di tempatnya, melihat ke bawah, pada apa yang dilakukan suami serta anggota keluarga keraton yang lain. Maka, ia sudah bisa menyatakan bahwa, dunia adalah miliknya.

"Rudipta," lirihnya saat kini sudah berhadapan dengan sosok dayang yang selama ini menghantui pikiran suaminya. Terjebak berbulan-bulan di medan peperangan, mengabdikan diri sepenuhnya, seperti tidak ada kenikmatan duniawi yang bisa ia rasakan. Surga mana yang didambakannya?

"Kau kembali," ucap Permaisuri, Rudipta menunduk dalam. "Bagaimana keadaan Hasin?"

"Semua berjalan dengan sangat lancar, Yang Mulia."

"Baguslah." Permaisuri tersenyum tipis. Auranya menguar kuat. Darah tidak pernah berdusta, bahwa sang Permaisuri Tumapel itu nyaris sempurna. "Kuharap, Maharaja bisa lebih waras dengan keberadaanmu."

Rudipta hanya bisa mengangguk mematuhi titah yang tidak ada habisnya itu. Namun, sedari awal memang ini tujuannya.

Ki Agrang dan Prama berkata, jika saksi hidup peperangan itu, dimana Ki Angger yang berusaha mati-matian menolong korban perang adalah dua putra Maharaja. Anusapati dan Panji Tohjaya. Rudipta memata-matai mereka. Mencari segala hal yang bisa melumpuhkan mereka.

Namun, diluar dugaan, saat ia menjalankan misinya-- justru Rawina terlibat kisah dengan pangeran lain, yang lebih sialnya memiliki hubungan kurang baik dengan keduanya. Rudipta berpikiran jika, satu persatu akan terbongkar. Bukan hanya tentang kasus keluarganya, tetapi niat jahat lainnya.

Dari sosok Permaisuri yang seakan acuh tak acuh pada suaminya. Pada Ken Dedes yang berada di antara putra-putranya. Lalu, Ken Umang yang seakan terjebak dalam jeruji yang tidak ia duga. Disini, Rudipta melihat segalanya. Sisi yang tersembunyi dari keluarga itu.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang