Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Harusnya aku update kemarin sore, tapi kelupaan Selamat membacaa
☆*:.。. .。.:*☆
Rawina tidak pernah mendapat pengakuan semacam itu. Terlebih dari seorang laki-laki yang selama ini telah mengisi pikirannya. Logikanya benar-benar mengelak bahwa ia terjebak dalam perasaan yang cukup rumit. Tapi hatinya seakan setuju dengan debaran yang semakin mengganggu kala sebuah kalimat yang terucap begitu saja.
Mungkin bukan pada Rudipta, melainkan Rawina yang seolah bersih tanpa dendam.
Agnibhaya menarik sedikit ujung bibirnya. Dalam genggamannya masih terdapat bunga yang ia hancurkan hingga tak berbentuk seindah saat mekar di tangkainya. Sekalipun Agnibhaya tidak pernah tahu bagaimana bentuk asli pohonnya. Tapi, Agnibhaya cukup tahu ada makna tersirat dari adanya bunga itu pada sesajen yang Rawina tujukan untuk berdoa pada Bathara Siwa.
"Selamat menikmati permainanmu, Rudipta," ujarnya dengan tanpa ekspresi. Meskipun yang berbicara dengannya adalah Rawina.
Tidak ada kesan ramah dalam raut wajahnya, berbeda dari Agnibhaya yang biasa. Agnibhaya seakan menegaskan pada lawannya. Permainan itu bukanlah hal yang menyenangkan. Bukan hal yang pantas untuk dibanggakan atau diagungkan. Kemana Rawina melangkah dengan dendam tersisa itu, petaka yang jauh lebih besar juga turut mengikuti langkahnya.
"Dan selamat atas simpati yang sudah kau dapatkan." Agnibhaya lantas berlalu menjauhi pelataran candi. Ini adalah kabar baik untuk Rawina. Bukankah seharusnya ia tersenyum dan bangga?
Namun entah kenapa Rawina justru merasa kalah bahkan saat permainannya baru dimulai?
☆*:.。. .。.:*☆
Agnibhaya merindukan Panji Saprang.
Ia akan dicibir habis-habisan setibanya di Wengker. Berkata tujuannya ke tempat itu hanyalah karena rasa rindu. Saat ia dengan tenang melewati gerbang dengan dwarapala di kanan kirinya.
Memasuki gapura keraton Wengker, langkahnya memberat seketika melihat sosok Panji Saprang tengah berdiri di tengah pendopo utama.
"Apa yang membawamu kemari Adimas?" Tak perlu Agnibhaya menyapa, tak perlu pula menunjukkan dirinya. Tanpa melihat ke belakang, Panji Saprang tahu siapa yang datang.
"Merindukanmu?"
"Konyol sekali." Gelak tawa Panji Saprang menyapa telinga Agnibhaya. Lama sekali Agnibhaya tak mendengarnya.
"Apa yang kakanda lakukan selama ini?"
Panji Saprang berbalik. Menatap pada adiknya. Rupanya, di luar pendopo sana, ada beberapa pedagang ayam petarung dan Panji Saprang tengah membeli beberapa di antaranya.
"Selama ini, tanpa yunda dan dengan rasa bersalah itu?"
"Menyiapkan diri atas kematian." membalas Agnibhaya dengan seringai tipis tanpa ada maksud apapun. Tersenyum hanya demi mengurangi perih dalam hatinya.