27 [Rajasa]

264 31 0
                                        

Selamat Membaca!☆*:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat Membaca!
☆*:.。..。.:*☆

Setelah berbicara dengan Mahisa mengenai rencana penyerangannya pada keraton Hasin, Agnibhaya seakan telah mengumpulkan seluruh tekadnya. Tapi ia tidak diperizinkan untuk meninggalkan gelarnya sebagai Mapatih I Hino selama putra Mahisa belum memenuhi syarat sebagai pewaris sah. Secepat-cepatnya adalah saat anak itu memasuki usia sepuluh tahun.

Meski begitu, beban berat yang akan ia pikul tidak akan menyurutkan niatnya.

Merasa cukup dengan dukungan keraton Panjalu, Agnibhaya pun mengirim serat lontar ke Wengker dan meminta izin pada beberapa resi ataupun brahmana yang tinggal di desa sekitar wilayah Hasin secara diam-diam. 

Sementara itu berjalan, Agnibhaya memutuskan untuk kembali ke keraton agung Tumapel. Langkah tujuannya akan selalu sama. Pasar, menemui anak kecil penjual bunga, dan membeli beberapa ikat di sana. Agnibhaya juga kembali dalam balutan pakaiannya yang membaur dengan masyarakat sekitar. Sesederhana apapun, mereka akan tetap bisa mengenali sang Raden. Teringat pada saat ia masih kecil dan membuat masalah dengan para preman. Saat pertama identitasnya terbongkar sebagai seorang pangeran karena sang ayahanda. Namun, sosoknya sudah menjadi bagian dari masyarakat Tumapel.

Agnibhaya dicintai di sana.

"Raden Agnibhaya! Sudah lama anda tidak kemari. Saya ada barang jualan menarik, silakan Raden!"

Laki-laki itu melihat satu persatu benda yang dijual oleh pedagang itu. Dari satu pedagang ke pedagang lainnya, Agnibhaya baru menaruh atensinya pada seorang pedagang perhiasan. Matanya berbinar memandang pada deretan emas dan perak yang diukir sedemikian rupa. Bahkan di antaranya berhias batu merah delima dan safir yang berkilau mewah. Tatapannya jatuh pada jepit rambut yang terbuat dari cangkang kerang. Kilaunya seperti mutiara, tapi sejatinya itu hanya barang sederhana yang harganya tidak seberapa. Tapi Agnibhaya tertarik untuk membelinya.

"Berapa harganya?"

Pedagang itu tampak berpikir. "Ada yang bisa Raden tukarkan?"

Agnibhaya hanya memegang seikat bunga di tangannya. Di tubuhnya tidak ada barang selain perhiasan dan beberapa koin yang tentu jauh lebih besar nilainya dari satu sekeping perak. Agnibhaya tampak berpikir cara untuk membeli tanpa merendahkan harga diri sang pedagang. Setiap Agnibhaya bertanya harga pada para pedagang, mereka akan menjawab dengan harga sekeping perak. Tapi baru satu pedagang yang meminta sesuai dengan harga yang ia tetapkan.

Biasanya Agnibhaya akan diam dan tetap memberikan sekeping perak, sekalipun harga dari barang yang dibelinya tidaklah semahal itu. Sekarang, Agnibhaya yang dibuat bingung.

"Kenapa tidak kau jual seharga satu keping perak?"

Pedagang itu mengangkat kedua tangannya, ia gerakkan, gestur menolak. "Tidak, Raden, hamba hanya seorang pedagang bukan penipu."

Apa yang dikatakan pedagang itu telak memukul Agnibhaya yang terbiasa membiarkan hal semacam itu. Tanpa sadar Agnibhaya mewajarkan tindakan menipu. Laki-laki itu memang tidak punya banyak pengalaman hidup, dunia masih terlampau luas untuk ia pelajari satu persatu. Seperti hal nya hari ini, Agnibhaya menerima pelajaran baru. Dan itu berasal dari seorang pedagang perhiasan di pasar.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang