Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baru sadar kalau ternyata sudah 11k++ views... Proud of u guys!!
Selamat membaca
☆
*:.。..。.:*☆
"Kau yakin Ni?"
Ni Jenar masih memandang pada halaman luar. Setelah menceritakan semua, bukan hanya Rudipta tapi Ni Jenar juga meragukannya.
"Ramuan itu selayaknya tuak, dia tidak akan mungkin berdusta. Apa yang dilihat dan dikatakannya adalah kebenaran yang sesungguhnya," lirih Rudipta. Kepalanya seketika pening karena ia menahan jatuhnya air mata. Lantas perempuan itu segera pergi meninggalkan kediaman Ni Jenar.
Rudipta butuh untuk menenangkan diri.
"Sebusuk apa hatinya?" tanya Rudipta begitu ia keluar dan mendapati sosok Ki Agrang dengan seragam ajudannya masih lengkap. Ia pun akhirnya meningkatkan kewaspadaannya pada sosok pamannya itu. Netranya yang berkaca mulai menteskan sebulir bening penuh dengan rasa sakit.
"Paman tahu, tapi enggan memberi tahu?"
Rudipta menghela nafas. "Katakan pada Maharaja, paman sudah menyelidiki Rudipta. Saya-- adalah Rawina yang selama ini menghilang."
"Rawina," panggil Ki Agrang ingin membantah ucapan keponakannya itu. Ia dilema. Berlaku seolah ia tidak tahu apa-apa dan tidak mengenal Rudipta di hadapan Anusapati, nyatanya ia takut mengkhianati sang tuan sekalipun sudah ia lakukan.
Lalu Rawina-- keponakannya seolah sudah semakin dekat dengan tujuannya.
Bahkan siap jika setelahnya ia akan menghilang atas kejahatan yang dilakukannya pada keluarga keraton. Entah itu diasingkan atau dieksekusi sama halnya dengan apa yang terjadi pada keluarganya yang lain.
Mungkinkah ada pengampunan? Atau tidak sama sekali.
"Kau tidak akan selamat sekalipun ada Raja Hasin di belakangmu."
"Tidak ada yang terlibat! Andai kata ada, itu adalah paman sendiri!"
Ki Agrang menggeleng pelan. "Pergilah sebelum terlambat, Rawina!"
"Tidak! Saya masih akan berdiri di atas keputusan saya." Dengan sangat tegas Rudipta membalas. Matanya yang berapi-api itu selalu membuat Ki Agrang tertegun, serta meyakini bahwa perempuan itu akan mampu menemukan jalannya sendiri. Tidak pernah ada keraguan terselip dalam tatapan serta kalimatnya.
"DIA MAHARAJA DAN KAU BISA SAJA MATI!!"
Rudipta menatap dengan air mata terus jatuh. Sudah, kian sakit hatinya jika benar selama ini dugaannya bahwa Anusapati yang menjadi dalang di balik semua ini. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi semua tertuju padanya.
"Apa pedulimu?"
"Masih sanggup kau bertanya seperti itu?" Tanya Ki Agrang dengan tatapan tidak percaya. "Yang mati bukan hanya ayah dan ibumu! Adikku, orangtuaku, mereka telah mati Rawina!"