Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Halooo Paramita Update
Selamat Membaca ☆*:.。..。.:*☆
Kabar menghilangnya Rawina telah sampai ke telinga Agnibhaya. Laki-laki itu juga bergegas untuk mencari keberadaan perempuan itu, namun tertahan oleh selir Panjalu. Katanya, terlalu gegabah jika Agnibhaya melakukannya sendiri. Jejaknya akan mudah terendus oleh orang-orang suruhan Tohjaya. Ada baiknya mempercayakan semuanya pada Anusapati. Sedang mereka secara berkala mengunjungi Soma dan Ki Angger, serta saksi lainnya untuk membuat pernyataan bahwa Ki Angger tidak bersalah dan tuduhan yang dilimpahkan belasan tahun lalu adalah salah.
Mereka secara bergiliran pergi menemui buronan itu. Dengan berbagai bentuk penyamaran cukup membantu sejauh ini. Satu demi satu lembaran lontar mereka kumpulkan, membentuk sebuah cerita utuh. Berbulan-bulan mereka seperti dibawa ke belasan tahun lalu, saat Mahisa dan Panji Saprang terlibat pula di medan perang meski mereka tidak ada di pesanggrahan, meski mereka harus berjuang di garis depan bersama prajurit lainnya untuk menyerang. Pun dengan Agnibhaya yang tidak ada disana, namun bisa membayangkan situasinya.
Setelah ini adalah kesaksian Anusapati.
"Tidak bisakah kanda mengizinkan aku mencari keberadaan Rawina? Ini sudah empat purnama kanda!"
Panji Saprang menggeleng tegas. "Singkirkan sejenak rasa pedulimu untuk saat ini jika itu sebab kau yang mencintainya, Adimas."
"Persetan dengan perasaanku!"
"Tenanglah, Agnibhaya." Mahisa lebih tegas. Keadaan semakin genting dengan kabar bahwa hubungan antara Ken Dedes dengan Ken Umang merenggang karena masalah ini.
Mereka tidak kehilangan arah. Mereka hanya takut salah melangkah.
Mata Agnibhaya berkaca. Selir Panjalu bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk saat ini demi Rawina. Bagaimanapun keadaannya, perempuan itu seperti dibiarkan menghilang begitu saja.
Rasa bersalah menelungkup Agnibhaya.
"Dia akan baik-baik saja," ucapan lirih Panji Saprang membuat Agnibhaya diam. Ia akan mempercayai semua untuk kali ini.
☆*:.。..。.:*☆
Waktu seperti cepat berlalu dan hari dimana mereka akan kembali ke keraton Tumapel tiba.
Agnibhaya dan Wregola yang akan menghadapi pengadilan telah mempersiapkan banyak hal. Tapi siapa yang tidak akan berbuat curang disaat genting seperti ini. Ketika pelarian tak berujung itu membuat para putra selir kelimpungan. Dimanapun mereka tidak berhasil menemukan mereka. Mencoba banyak cara, menyusuri banyak desa, membuat kericuhan hanya agar orang-orang itu keluar menampakkan ujung hidungnya saja tidak berhasil. Mereka kalah telak jika yang berbuat curang adalah Sinelir dan putra-putra Ken Dedes.
Dengan bantuan Anusapati yang mengirim puluhan telik sandi untuk mengaburkan keberadaan ketiga laki-laki itu hingga hari itu tiba. Terlebih, bukti-bukti pengadilan yang bisa membebaskan Agnibhaya telah sampai lebih dahulu sebelum Wregola tiba di Tumapel. Hal itu semakin membuat mereka terjepit.