53 [Yang Tersisa]

125 18 0
                                        

Selamat membaca☆*:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat membaca
☆*:.。..。.:*☆

Obor menyala, cahaya mencipta bayangan pada dinding gelap. Aroma anyir menyergap, bercampur baru kotoran dan makanan membusuk. Ketiganya dibuat tergagap kala mendapati apa yang digambarkan Prama, meski hanya dari pantauannya di kejauhan dan dengan cara mengendap. Ruang itu nyata.

Manusia-manusia yang disiksa bertahun lamanya tanpa mengenal cahaya itu benar adanya. Mati pun tidak ada yang peduli, pergi pun sulit. 

Saat mereka mulai mengarahkan api itu pada setiap bilik penjara yang ada, pemandangan mengejutkan menyapa mereka. Tubuh kering tersisa tulang, meringkuk kedinginan dan berbaring di atas tanah lembab, tersiksa dengan jamur dan luka di tubuh yang semakin menyebar, menunggu ajal yang tak tahu kapan akan datang. 

Di ruang lain, pria tua dengan pasung hampir mematahkan lehernya, tapi ia memilih bertahan dengan menggumam puja pada Dewa untuk sisa waktunya. Mereka semua tidak memiliki satupun harapan untuk hidup.

Dan satu manusia lain, masih memainkan tanah lembab dengan kuku jarinya. Ia duduk di sudut ruang, sementara tanah di sekitarnya sudah dipenuhi garis-garis hitungan yang entah apa ia sedang menghitung hari atau menghitung berapa kali manusia datang menemuinya. Meski pandangannya kosong, tubuhnya kurus kering, rambutnya panjang jusut hingga menggimbal, bulu wajah penuh. Tidak ada yang melupakannya.

"Soma," panggil Ki Agrang. Maka, sang pemilik nama lantas mengangkat wajah, melihat secercah cahaya setelah lebih dari satu dekade ia terpenjara. Sosok Soma yang disebut tewas, masih ada disana. Tapi, satu yang hilang dari Soma.

Pelupuk matanya basah, Soma ingin bicara, tapi lidahnya tak ada. Diputus agar ia tak dapat berbicara. Soma mencoba meraih tubuh seseorang yang berdiri dengan obor di tangannya, enggan mendekat meski netra itu sama basahnya dengan milik Soma. Sel yang menahan Soma untuk mendekat, sel yang menahannya untuk meraih tubuh itu, pada akhirnya dengan marah dan racauan yang ia keluarkan, Soma memberontak ingin mematahkan selnya, meski sia-sia. 

Dalam hati ia berteriak. 'Mengapa kau diam saja? Mengapa kau hanya menangis disana?'

"Jika Soma disini, kemana Ki Angger pergi?"

Pertanyaan itu membuat Soma yang semula memberontak dan menangis, terdiam. Melihat perubahan emosi Soma yang tak bisa mengungkapkannya dengan kata, Ki Agrang menatap seseorang di belakangnya.

"Ki Angger tewas dan mungkin hanya Soma yang tersisa."

Jawaban yang ia cari selama belasan tahun pada akhirnya ditemukan. Ki Agrang telah tewas.

☆*:.。..。.:*☆

Wregola.

Ia terluka dengan tusukan kecil di lengan kanannya. Namun, berkat itu sekarang ia dalam keadaan sekarat, nyaris mati karena racun yang saudaranya buat sendiri.

PARAMITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang