Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Paramita Update!! Selamat membaca dan jangan lupa diramein yaa
☆*:.。..。.:*☆
"KELUAR KAU!! DASAR JALANG!"
Entah bagaimana, malam yang menyenangkan di kediaman Ni Jenar itu seketika berubah hening menyisakan bisik-bisik dan teriakan dari seorang wanita yang datang dengan membawa amarah untuk seseorang.
"LEPASKAN AKU DARI TANGAN KOTORMU!!" Para abdi pria di kediaman Ni Jenar kepayahan saat harus menahan gerakan wanita itu yang terus merusak setiap benda dengan melemparnya bahkan tanpa segan melukai para abdi wanita yang lewat. Wanita itu murka seolah dia lupa untuk menjaga sisi keanggunannya yang harus senantiasa dijaga. "DASAR PELACUR! KELUAR KAU!"
Bukan satu dua kali, ada wanita yang datang dengan amarah dan berteriak seperti tengah dirasuki sesuatu. Bahkan Ni Jenar mulai bosan dengan drama yang mereka buat akhirnya akan selalu sama. Wanita yang merasa dikhianati suaminya dengan pergi ke tempat Ni Jenar. Datang dengan perasaan terluka dan membawa pengawal pribadinya atau para budak yang bekerja di rumahnya. Memerintah tanpa mengindahkan pemilik tempat tersebut. Memporak porandakan tempat demi bisa menemukan suaminya yang sedang bersenggama.
Tapi Ni Jenar tidak berbuat apapun ketika pekerjanya diseret dengan tidak manusiawi kemudian disiksa di hadapan semua orang. Sebelum merasakan sanksi sosial, sang pekerja wanita itu lebih cepat mendapatkan siksaan dari istri pria yang dilayaninya. Tidak peduli, apakah sang suami hanya menikmati tubuh seorang wanita atau lebih. Sejak matanya menangkap perbuatan mereka, maka wanita itu yang harus dihukum untuk memuaskan rasa sakit hatinya atas tindakan sang suami.
Di tempatnya Ni Jenar hanya berdiri kala pekerjanya sudah tergeletak lemas dengan darah akibat pukulan cambuk yang dilakukan secara bertubi-tubi.
"Istrinya putri seorang Rakryan, sedangkan suaminya seorang prajurit." Ni Jenar mengangguk ketika mendengar penjelasan dari seorang pekerjanya, lantas mendekat pada keributan itu. Di balik sikap tenangnya, Ni Jenar marah jika ada yang merusak ladang bisnisnya. Sekalipun Ni Jenar tahu jika ia juga salah, tapi-- bukan berarti dia satu-satunya yang berdosa.
Rawina hanya diam mengekor di belakang sembari menatap iba wanita yang mungkin tidak tahu hal ini akan terjadi padanya. Ketika Rawina mendekat, suara Ni Jenar menginterupsi gerakannya.
"Jangan sentuh wanita itu!" Dengan tegas Ni Jenar melarang Rawina. Matanya tajam menatap lurus pada wanita berpakaian mewah dan perhiasan mahal itu. "Tapi, saya juga tidak akan tinggal diam ketika ada orang yang berani merusak ketenangan di rumah saya."
Saat Ni Jenar akan kembali membuka mulutnya untuk berbicara, seseorang sudah lebih dulu bersuara dan membelah kerumunan.
"Tidak ada makhluk hidup yang pantas diperlakukan demikian tanpa adanya proses hukum yang jelas dan sesuai dengan undang-undang negara. Seluruh tanah Tumapel beserta isinya adalah milik Maharaja." Mata tajamnya menelisik satu persatu manusia yang berkumpul di tempat itu, bahkan pada Ni Jenar dan gadis di belakang wanita itu.