Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku merasa senin ini capek banget mau dong dihibur dengan antusiasme kalian...
Selamat Membaca! ☆*:.。..。.:*☆
Di masa pemerintahan sang Amurwabhumi, palagan Ganter pecah demi menaklukkan Kadiri pada pemerintahan Kertajaya. Sosok Dandang Gendhis yang disesatkan oleh kuasa dan merasa bahwa dirinya titisan dewa, memerintah seisi kerajaannya menyembah dirinya. Para Brahmana enggan, rakyatpun tidak diuntungkan. Semakin menjadi, semakin para brahmana itu lari mencari perlindungan. Dan terciptalah sebuah perjanjian bersama Ken Arok atau kemudian sosok yang dikenal agung sebagai Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.
Tak hanya itu. Tokoh besar tewas dalam pertempuran. Raja Kertajaya hilang entah kemana. Mahisa Walungan-- adik Kertajaya tewas dalam sekali tebas. Sekali lagi, kuat bukan alasan untuk menang. Strategi menuju kemenangan tidak dibuat secara gegabah oleh pemimpinnya.
Panji Saprang tentu sadar, berhari-hari berada di medan pertempuran, Kali pertama membunuh seseorang. Mata-mata yang berusaha mencari celah kelemahan pihak lawan. Justru bertemu pemuda yang usianya belum genap tujuh belas tahun, mati dengan tidak berdaya hanya dengan sebuah keris menancap di dada. Matanya membeliak tajam seakan mengutuk Panji Saprang yang sudah berani membunuhnya.
Ken Arok menyadari putranya yang tidak beristirahat di tempatnya. Mencari Panji Saprang kesegala bagian benteng. Kemudian menemukan pemuda itu dengan mayat bertanda pasukan kerajaan Kadiri.
"Kau dilahirkan untuk ini. Lebih baik membunuh musuhmu daripada terbunuh percuma. Kau putraku, bukan ksatria biasa. Bertahanlah sampai Tumapel membawa kemenangan dan masa depan!"
Panji Saprang tidak mengada-ada pasal bayangan mayat yang kelak akan terus menghantuinya. Tapi demi negaranya, demi kesejahteraan rakyatnya. Panji Saprang berdiri di samping ayah serta saudara-saudaranya. Membawa kemenangan yang mutlak. Dandang Gendhis takluk di bawah kaki Sri Ranggah Rajasa.
Tumapel berdiri dan kerajaannya bisa jadi akan abadi.
Panji Saprang yang selalu mengucilkan diri, kini bersedia duduk bersama saudara-saudaranya yang lain. Bertahun-tahun lamanya setelah peperangan itu, Panji Saprang dan Mahisa kembali menginjakkan kaki di Hantang. Disana sebuah jamuan amat besar dilakukan. Desa-desa di sekitar turut merayakan kehadiran Maharaja mereka. Berpesta pora, arak dalam kendi-kendi, buah-buah hasil hutan yang segar.
Suara nafas ayam yang begitu mengerikan. Agnibhaya memejamkan mata kala putih dalam bayangannya akan memerah sebab darah. Suara gebrakan dan desahan kecewa memenuhi seluruh pendopo. Di tengah sana, di antara taburan bunga. Si putih, meggorok habis lawannya dengan taji alami, bisa menebas habis lawannya yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuhnya. Semua hening dalam sesaat.
"Iblis!!" gumam Tohjaya memandang pada darah ayam yang telah mati.
Sang pemenang hanya berdiri dengan mengais lantai pendopo, membuat darah di kakinya menciptakan bekas. Maharaja diam dengan kedua tangan terkepal. Matanya tidak habis berhenti memandang ayamnya yang-- mati dalam sekali pertandingan.