Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah menutup senin kesekian?
Selamat membaca!!
☆*:.。..。.:*☆
Sebagai seorang Maharaja terbesar, sebagai putra pendiri tanah kelahirannya, sebagai pemilik tahta sesungguhnya, sosok Anusapati berdiri di tengah-tengah para saudaranya. Memimpin jamuan dan menyambut pertemuan yang entah ditujukan untuk apa jika bukan sekedar berbagi arak dalam kendi. Tidak curiga pada tujuan adik-adiknya membuat cara di pesanggrahan yang jauh dari pusat kerajaan. Alih-alih bertanya, Anusapati justru menikmatinya.
Agnibhaya duduk di samping alas tanpa penghuni, meneguk arak dalam gelasnya dan menunduk tanpa menghiraukan kicauan-kicauan para saudaranya.
"Bukan ibu suri yang membuangnya, tapi dia yang selalu membuang dirinya sendiri. Hei, yang mulia! Mengapa kau sediakan tempat untuk seseorang tidak menghargai undanganmu? dia lupa darimana dirinya berasal." Sindiran itu tepat membuat Anusapati menggelegarkan tawannya. Panji Sudhatu senang sekali menyindir seseorang yang tidak peduli apakah anak-anak selir itu membicarakannya atau tidak. Agnibhaya diam-diam tersenyum.
"Mengapa kau tersenyum Agnibhaya?" tanya Wregola.
Pemuda itu berdeham, mengambil bungkusan ketan di depannya dan menikmati jamuan itu. Meja dipenuhi banyak makanan serta buah-buahan. Puluhan kendi berisi arak, lilin-lilin yang menyala indah. Juga rangkaian bunga yang menguarkan aroma manis di antara mereka.
"Dibandingkan lupa asalnya, kurasa dia lebih menahan untuk tidak membuat seseorang murka," sindir Agnibhaya melirik Mahisa. Sengaja membuat keributan selama sosok yang tengah dibicarakannya belum menunjukkan wajahnya. Sementara beberapa wanita yang merupakan pasangan dari para laki-laki itu bersembunyi di balik tirai tertutup dan hanya bisa mendengar pembicaraan sengit mereka.
"Siapa yang akan murka?" tanya Wregola.
"Entahlah, apa aku mengatakan kepastian? Bisa jadi ada yang tidak senang dengan kehadirannya? Pangeran yang unggul dalam segala hal tapi merendah sebab restu tidak berpihak padanya."
Mahisa tidak kuasa untuk tidak tertawa. Menatap adiknya dengan tatapan. 'Kau bercanda? siapa yang kau pancing sekarang?'
"Munafik!" desis Tohjaya meneguk segelas arak hingga tandas, menatap dua bersaudara itu tajam.
Memang. Mereka bukan rakyat biasa yang harus bersikap naif untuk menarik simpati dan dukungan orang lain. Tidak. Mereka harus berani untuk menjadi sosok yang munafik dan manipulatif. Sekarang, katakan siapa yang tidak bersikap demikian di antara orang-orang itu? Siapa yang paling suci hatinya? Bahkan satu persatu dari mereka pasti ingin menyingkirkan salah satu di antaranya.
Tidak berselang lama, pembicaraan mereka terjeda oleh interupsi penjaga yang mengabarkan kedatangan seseorang. "Raja Wengker memohon izin untuk bergabung dalam pertemuan, yang mulia."