Historical Fiction #3
By: AlwaysJe
[Tamat]
---------------------------------------------
Pāramitā (Sansekerta) berarti- "kesempurnaan".
Kesempurnaan itu tak ada pada dirinya, tapi ada pada hatinya. Ia sempurna untuk orang yang mencintainya.
--
Tenta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat Membaca!
☆*:.。..。.:*☆
1222
Ki Agrang dahulu tak pernah tahu bagaimana mula kejadian yang menimpa Ki Angger. Sampai seorang pangeran tertua Tumapel menghampirinya dan bersimpuh seraya menangis di bawah kakinya. Ia ungkap bahwa, mungkin setelah ini ia akan menjadi pembunuh dari nyawa belasan orang tak berdosa.
Hendak marah, tapi ia dibiarkan hidup dalam kubangan duka juga bukan hal yang akan ia dustai. Satu nyawanya, apa bisa menggantikan kehilangan yang ia rasakan? Tapi andai Ki Agrang meregang nyawa bersama yang lainnya? Akankah masa depan yang sekarang terjadi tetap berjalan di garis yang sama?
Tentang Soma dan Rawina.
Belasan tahun lalu. Berbagai cara Ki Agrang lakukan untuk mencari keberadaan Rawina. Ia pandangi mayat-mayat tak berkepala atau tubuh wanita dan anak-anak yang membiru dengan mata membeliak. Tidak ada Rawina. Keponakan kecilnya itu tidak ada disana.
Seketika harapannya besar. Rawina mungkin masih hidup di suatu tempat. Entah dimana. Namun, ia berharap seseorang mendampinginya, menjaganya dan membesarkannya dengan kasih sayang. Tidak ada orang yang boleh mengetahui keberadaannya.
Maka, Ki Agrang melanjutkan pencariannya. Diam-diam tanpa Anusapati ketahui. Ia sampaikan bahwa, satu-satunya yang tersisa dari Ki Angger hanya Soma. Putrinya bunuh diri di samping tubuh ibunya.
Masa-masa pelarian Rawina berkejaran dengan waktu Ki Agrang untuk segera menemukan keberadaan keponakannya itu. Sebelum pihak kerajaan mengendus keberadaannya.
Hingga, Ki Agrang bertemu seorang gadis kecil yang meracik rempah sebagai bahan campuran tuak dan arak di kediaman Ni Jenar. Bekerja di rumah bordil dan menjual minuman memabukkan kepada pria-pria dewasa. Ki Agrang hanya mengamati tidak segera menginterupsi.
Satu kali, kedua kali, ketiga kali, sampai Ni Jenar menyadari bahwa Ki Agrang selalu datang dan menatap pada satu objek yang sama.
"Seorang ksatria menatap begitu dalam pada seorang gadis belia, bukankah tindakan anda begitu amoral tuanku?" Tegur Ni jenar.
Ki Agrang menghela nafas. "Dia tinggal di tempat ini?"
"Ya. Dia bekerja bersama saya. Melayani pelanggan-pelanggan saya." Ni Jenar masih memicing tajam pada Ki Agrang.
"Esok, aku akan kembali. Aku ingin dia yang datang melayaniku."
Ni Jenar mengernyitkan dahi. "Tidak. Meski ada banyak pelayan yang bisa memberikan pelayanan seksual pada tamu semacam anda, tapi saya tidak akan mengizinkan anda memintanya pada seorang anak kecil!"
Ki Agrang tertawa, menegak tuaknya hingga tandas. "Hanya melayaniku sewajarnya."
Tanpa menanggapi permintaan Ki Agrang, Ni Jenar berbalik meninggalkan laki-laki itu.